Classic Album: God Bless - Cermin (1980)

  • By: NTP
  • Senin, 23 October 2017
  • 5142 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Alkisah mengatakan bahwa Cermin adalah album God Bless yang paling disalahpahami, bahkan oleh pendengarnya sendiri. Album ini dirilis di pembuka dekade 80-an, yang hingga kini masih lekat dengan kibor dan disko. Pada medio ini, arena musik arus utama sudah kembali dikuasai musik pop. Rock harus kembali minggir sebelum akhirnya bisa membangun arenanya sendiri di paruh akhir dekade 80-an.

Di titik ini God Bless memang sudah memiliki reputasi sebagai band rock yang bisa menembus panggung Taman Ismail Marzuki, tapi alangkah bingungnya mereka ketika menyadari bahwa musik rock belum diterima dengan tangan terbuka. Setelah album God Bless (1975), lanskap musik populer berubah dan God Bless justru mengeksekusi visi musik mereka semaksimal mungkin.

"Album ini album perjalanan. Album kami yang paling idealis,” ujar Donny Fattah pada peluncuran album remake 7 Cermin (2016).

[bacajuga]

Hasilnya adalah Cermin, satu-satunya album progressive rock yang pernah dirilis God Bless hingga hari ini. Album ini tidak mengacu pada sound prog-rock era 70-an, Cermin justru bergerak seiring metamorfosis instrumen elektronik. Serupa yang dilakukan Rush di album Permanent Waves (1980), God Bless menggunakan lebih banyak bebunyian kibor dan mengurangi dosis hard rock. Faktor ini diperkuat dengan bergabungnya Abadi Soesman, mantan kibordis Guruh Gipsy, yang menggantikan Yockie Suryo Prayogo.

Komposisi God Bless berubah drastis, hingga kini Cermin adalah album God Bless berdurasi terpanjang (51:34 menit) dan memuat lagu terpanjang di repertoar mereka, “Anak Adam” (11:59 menit). Cermin berlandaskan pada dinamika komposisi yang lapang dan kerap berganti tempo, kompleksnya dinamika antara instrumen serta kelihaian instrumentasi tiap personil. Melalui metode ini, God Bless mampu mengeksekusi album prog-rock ‘populer’ yang tak membikin pendengarnya mengerutkan dahi.

Beberapa faktor yang memungkinkan hal itu terlaksana adalah riuhnya bebunyian baru yang dihasilkan Abadi Soesman, kemahiran Donny Fattah memainkan bassline ciamik (pengiring perubahan dan dinamika komposisi) dan kombinasinya bersama Ian Antono dalam urusan menulis lagu (keduanya menulis delapan dari sembilan lagu Cermin).

Lapangnya komposisi Cermin memungkinkan Ian, Donny, Abadi dan Teddy berakrobat bebas. Ian, sebagai gitaris, mampu memainkan lick dan riff jempolan juga menjalani peran sebagai pengiring dan muncul pada momentum yang tepat pula. Sementara, motor energi God Bless dan personel dengan permainan paling menarik adalah Teddy Sujaya sebagai drummer. Di album ini permainan Teddy begitu presisi dan kompleks, setingkat di atas level kompatriotnya.

Peran Achmad Albar di album ini sebagai suara terdepan pun sama pentingnya. Di album yang kabarnya tak laku di pada masanya ini, Iyek justru menyanyikan bait-bait God Bless paling dikenang. Spritualitas, sentimentalisme, keputusan moral-etis dalam hidup dan komentar sosial menjadi tema-tema yang kerap mengisi Cermin.

“Musisi”, salah satu nomor terkuat God Bless, mengisahkan tentang proses kreatif-sentimentil dalam penciptaan lagu. Iyek juga menyanyikan ketidakadilan sosial, seperti “Selamat Pagi Indonesia” (kritik terhadap eksekusi mati Kusni Kasdut), “Balada Sejuta Wajah” (komentar terhadap pembangunan yang tidak memihak rakyat miskin, sekaligus mempopulerkan gaya power ballad di kancah rock Tanah Air), “Tuan Tanah” (nomor acapella ala The Beach Boys, tanpa instrumen, yang mengkritik pencaplokan lahan) dan “Ingat” (mungkin satu-satunya lagu tentang hari kiamat yang diiringi irama funk di Indonesia).

Lagu yang merangkum sikap dan musik Cermin tentulah “Anak Adam”, komposisi prog-rock berbumbu etnik yang menunjuk hidung pergeseran perilaku masyarakat yang tengah gandrung individualisme, serakah dan culas. Dilapisi pengingatkan bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk penuh dosa dan berasal dari asal yang sama.

Kekuatan God Bless menyampaikan komentar serta kritik sosial melalui komposisi kompleks dan instrumentasi rumit hanya hadir di Cermin. Pada album Semut Hitam, komentar dan kritik sosial God Bless memang semakin lugas, tapi mereka memilih untuk “kembali ke akar” dengan memainkan hibrida hard rock dan heavy metal (yang kala itu tengah populer).

Cermin adalah eksekusi total atas kemampuan instrumentasi dan penulisan komposisi, diiringi visi artistik yang tak ingin berkompromi dengan pasar. Walau diposisikan sebagai karya kontra pop arus utama, album ini justru berjalan beriringan dengan sound progressive pop (Fariz RM, Yockie Suryo Prayogo, kompilasi Lomba Cipta Lagu Populer, dll) dan hadir sebagai sintesa antara sensibilitas pop dengan gaya prog-rock. Pada album kedua mereka, God Bless berhasil meramu selera pasar dan visi artistik tentang bagaimana rock seharusnya dimainkan.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
2319 views
supershow
7217 views
superbuzz
4391 views
superbuzz
6940 views
superbuzz
6962 views