CLASSIC ALBUM: The Clash – London Calling (1979)

  • By: NTP
  • Kamis, 16 February 2017
  • 3455 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

London Calling adalah usaha keras empat pemuda London untuk memainkan musik yang mereka inginkan, membuka kemungkinan baru, dan mengakhiri dominasi usang.

The Clash berusaha keras untuk kembali bermusik sebagai sebuah unit, memaksimalkan kebebasan mereka pasca pemecatan Bernie Rhodes, manajer mereka di album The Clash  (1977) dan Give Em’ Enough Rope (1978). Upaya tersebut pada akhirnya mendefinisikan ulang identitas sonik musik rock dan pengaruhnya menjalar di hingga kini.

Setelah menyelesaikan tur AS pada medio 1979, Joe Strummer (vokal, gitar), Mick Jones (gitar), Paul Simonon (bass) dan Topper Headon (drum) mulai merekam London Calling tanpa modal lagu satu pun. Lagu-lagu digodok ke dalam demo di Vanilla Studios, London, kemudian, materi-materi tersebut direkam Wessex Sound Studio.

The Clash menggunakan ruang longgar tanpa manajer tersebut dengan memainkan berbagai genre dan sound, mereka menumpahkan segala musik yang mereka inginkan. Kuartet ini menyuntikkan berbagai gaya dan sound di luar punk rock, seperti jazz, soul, funk, reggae, skiffle, dub, rockabilly, roots, dan R&B.

Menakjubkan sekaligus wajar saja ketika punk rock rasa The Clash tersebut, kini justru diadopsi grup indie rock seperti Vampire Weekend, bukan turunan punk rock lain seperti hardcore, crust atau grindcore. London Calling berpisah dari sound punk rock, sekaligus mendorongnya jauh ke depan.

London Calling berdiri sendiri di antara album-album punk rock Britania Raya saat itu, seperti Sex Pistols, The Damned, bahkan Crass. Kemampuan Strummer dan Jones dalam menggali musik yang sedang menjamur di Inggris kala itu, patut diakui sebagai progresi musikalitas berkualitas tinggi.

“Musikmu adalah pantulan dari kepribadianmu, ia adalah titik tertinggi dari segala pengalamanmu hingga kini. Jadi semuanya bergantung pada dirimu, kita semua akan terdengar berbeda ketika memetik gitar. Saya pikir sound (The Clash) berasal dari sana, karena ketika saya mulai bermain, miniatur keseluruhan hidup saya akan terdengar,” papar Jones dalam dokumenter The Last Testament: Making of London Calling (2004)

Keragaman sound dan genre tersebar hampir merata dalam 19 nomor di double album ini. Di saat bersamaan, fondasi punk rock di dua album The Clash sebelumnya pun masih terasa.

“London Calling” membuka album dengan permainan bertenaga Strummer, yang diiringi bassline reggae Simonon, menetapkan mood khas di sepanjang album. Akar musik dan konten lirik punk rock The Clash menjejak mantap di “Clampdown”, “Koka Kola”, “Hateful”, lagu antemik “Death or Glory” dan nomor proto pop-punk “Spanish Bombs”.

Sementara itu, The Clash mengolah berbagai genre dan sound terdengar jelas di album ini. Contohnya, cover hit rockabilly “Brand New Cadillac” dari Vince Taylor, seakan memprediksi potensi gabungan energi punk rock dan rockabilly. “Rudie Can’t Fail” dan “Guns of Brixton” (lagu gubahan pertama Simonon untuk The Clash) menunjukkan pengaruh kental reggae dan dub yang dibalut tone renyah. Nomor catchy “Lost in the Supermarket”, mengkritik kehidupan sub-urban lewat nada-nada sendu, yang nantinya akan menjadi senjata utama band-band post punk.

Penjelajahan sound dan komposisi tersebut juga dipengaruhi keputusan Strummer untuk memperlakukan punk rock sebagai medium pembebasan. Namun, Jones berpendapat lain, dalam dokumenter The Last Testament: Making of London Calling, Jones justru mengakui bahwa langkah punk rock saat itu kian menyempit, baik dalam aspek pergerakan maupun musik. London Calling patut diakui dapat mengabadikan momen tersebut, tapi The Clash butuh satu elemen lagi yang mampu mengerahkan segala potensi mereka: seorang produser gila.

Guy Stevens, yang sebelumnya memproduseri Procol Harum, diminta secara langsung oleh The Clash untuk menangani sesi rekaman London Calling. Stevens adalah sosok nyentrik dengan attitude rockn’roll yang tak terkendali, Wessex Sound Studio pun menjadi taman bermainnya.

Metode Stevens adalah menimbulkan kekacauan agar The Clash selalu siaga, supaya mereka mampu mencapai emosi yang mentah dan jujur. Dalam The Last Testament: Making of London Calling, Stevens terlihat melempar tangga ke arah The Clash ketika sedang rekaman, menumpahkan anggur merah ke piano Steinway milik Strummer, bergulat dengan Bill Price (engineer) ketika sedang menyetel mixer, hingga berteriak-teriak ke arah Simonon yang sedang berlatih.

Hasilnya adalah paduan tepat antara tenaga tak terkendali dan musikalitas tingkat tinggi, yang mewarnai London Calling. Simonon bahkan menyatakan bahwa perilaku serta kepribadian Stevens justru membuatnya nyaman, dan mampu bermain dengan maksimal.

London Calling juga tidak mungkin dipisahkan dari kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang mengelilingi The Clash. Tahun 1979 merupakan era awal pemerintahan PM Margaret Thatcher. Perempuan yang dijuluki The Iron Lady ini dikenal represif ketika menghadapi demonstrasi serta kerap meminggirkan kelas pekerja dan kaum miskin.

Strummer memutuskan untuk berteriak lantang dalam lirik-liriknya ketika dia melihat fenomena ini. Dia tak menyukai cara masyarakat Britania mencari kesuksesan, dan memutuskan untuk memberontak, terutama dari ayahnya. Di sisi lain, Simonon juga sedih melihat teman-teman sebayanya memilih menjadi tentara karena karier tersebut dianggap dapat memberikan penghidupan yang layak.

Album ketiga The Clash ini juga sebuah salam perpisahan mereka terhadap sistem ekonomi-sosial-politik Britania, pondasi musik punk rock, gerakan sosial 60-an dan kemarahan 70-an bahkan posisi mereka di silsilah rock n’roll. The Clash dengan tidak sengaja mengakhiri tradisi rock n’ roll, dengan membuka selebar-lebarnya pengaruh genre dan sound masuk dalam London Calling demi menciptakan musik yang berorientasi ke depan.

Sepertinya bukan kebetulan bahwa sampul London Calling ‘mencuri’ desain sampul debut 1956 milik Elvis Presley, album yang memulai dominasi rock n’roll dan menggemparkan dunia musik. Jika sampul itu menampilkan seorang legenda yang sedang menikmati musik dan gitarnya, maka The Clash memilih mengakhiri dominasi tersebut, lewat kemarahan Simonon yang berusaha menghancurkan instrumennya.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
347 views
superbuzz
947 views
superbuzz
1046 views
superbuzz
12159 views
superbuzz
5241 views