CLASSIC ALBUM: The Velvet Underground & Nico (1967)

  • By: GP
  • Jumat, 17 March 2017
  • 3656 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

The Velvet Underground bisa dibilang adalah salah satu band terpenting dan paling berpengaruh dari dekade 60-an—selain The Beatles tentunya (setidaknya menurut opini penulis). Jika The Beatles memengaruhi tatanan musik pop dan rock arus utama dunia, The Velvet Underground bergeliat ke arus pinggir dengan musik rock yang pada zamannya bisa dibilang cukup aneh. Namun pengaruhnya begitu kentara pada lanskap musik punk dan alternative rock setelahnya. Dan semua itu dimulai dari album perdana bertajuk sama dengan nama band dengan sampul yang terlalu ikonis.

Semua berawal dari pemuda bernama Lou Reed yang sehari-hari bekerja sebagai musisi dan pencipta lagu untuk label rekaman Pickwick Records. Kemudian pada penghujung tahun 1964, ia bertemu musisi eksperimental bernama John Cale, seorang pemuda asal Wales yang baru saja hijrah ke Amerika Serikat. Merasa cocok, keduanya pun membentuk band bernama The Primitives yang nantinya jadi cikal bakal The Velvet Underground.

Dalam band itu, keduanya juga bertemu gitaris Sterling Morrison. Akhirnya The Primitives berevolusi menjadi The Velvet Underground, yang diambil dari buku karya Michael Leigh. Suatu ketika, sang drummer hengkang dari band. Morrison pun mengajak drummer wanita bernama Maureen Tucker untuk bergabung, hingga terciptalah formasi klasik The Velvet Underground.

Suatu saat ketika berkeliaran di New York City, mereka berkenalan dengan Sang ‘Pope of Pop’ Andy Warhol hingga akhirnya terlibat di kancah The Factory asuhan Warhol. Seniman nyentrik itu lalu tertarik menjadi manajer The Velvet Underground hingga akhirnya turut menjadi produser album perdana mereka. Bahkan Warhol juga yang menyuruh band untuk mengajak model sekaligus aktris asal Jerman bernama Nico untuk turut menyumbangkan suara di album. Alhasil di album tersebut nama band tertera menjadi The Velvet Underground & Nico.

Mereka pun mulai merekam materi album pada April 1966 di Scepter Studios yang cukup butut, yang berlokasi di New York City. Awalnya tak ada label rekaman yang mau menerbitkan album ini karena musik dan tema yang diusung The Velvet Underground. Kemudian akhirnya label jazz Verve Records mau merilis. Namun ada catatan, sang label ingin ada lagu ‘pop’ yang enak didengar dan ‘radio-friendly’ agar bisa menjadi single. Lantas terciptalah lagu “Sunday Morning” dan ditaruh sebagai lagu pembuka album.   

Lantas pada 12 Maret 1967, album akhirnya dilepas. Namun jalannya tak semulus itu. Di awal kemunculan, tak sedikit yang mengernyitkan dahi mendengarkan album tersebut. Apalagi tema yang diusung cukup tabu di zamannya macam narkoba dan BDSM.

Lagu pembuka, “Sunday Morning”, merupakan lagu pop manis dengan vokal Lou Reed yang sendu serta dentingan piano celesta yang terdengar begitu bening. Lagu yang direkam terakhir ini memang diproyeksikan sebagai single dari album—walaupun liriknya bertema paranoia. Jangan terkecoh, sebab memasuki lagu kedua, “I’m Waiting For The Man” mulai terlihat corak asli The Velvet Underground.

Di lagu kedua ini, Lou Reed bercerita soal membeli heroin seharga US$26 di salah satu persimpangan di New York City, diiringi permainan piano monoton John Cale, kocokan gitar rhythm oleh Sterling Morrison dan ketukan drum dari Maureen Tucker.    

Selanjutnya, “Femme Fatale” terinspirasi dari bintang The Factory, Edie Sedgwick. Lagu ini senada dengan “Sunday Morning”, pop yang manis, dengan lantunan vokal dari Nico. Nuansa yang sama bisa ditemukan pula di lagu “I’ll Be Your Mirror”.

Berikutnya adalah salah satu lagu terekstrem dan ikonis dari The Velvet Underground, “Venus In Furs”. Ketika lagu dimulai, seolah pendengar dibawa ke sebuah ruangan penuh aktivitas seksual BDSM dengan pencahayaan remang-remang. Latar suara oleh gesekan biola dari Cale serta tetabuhan primitif dari Tucker dan gemericik tamborin yang monoton. Sebuah nomor yang provokatif.

Salah satu ciri musik The Velvet Underground memang permainan drum dari Maureen Tucker. Ketukannya monoton nan purba tapi bernyawa. Ia pun memiliki gaya tersendiri, yakni menabuh drum secara berdiri, menggunakan pemukul kayu yang ukurannya lebih besar dari stik drum biasa, dan set drumnya yang sangat sederhana: snare drum, tom-tom, bass drum, serta simbal yang jarang-jarang.

Sebagian besar lagu yang terdapat di album ini dapat dibilang terlalu maju untuk zamannya. Ada semangat punk rock sebelum istilah punk rock itu sendiri ditemukan. Nantinya warna ‘punk rock’ itu semakin menjadi-jadi di album kedua, White Light/White Heat. Eksperimentasi musik yang dibawa John Cale dan lirik tabu dari Lou Reed dianggap revolusioner di zamannya, walau angka penjualan album pada saat rilis dapat dibilang sedikit.

Jangan lupakan sampul albumnya: pisang kuning goresan Andy Warhol yang sangat ikonis itu. Siapa yang tak mengenalnya? Untuk sampul aslinya malah gambar pisangnya bisa dikelupas, yang kini langka dan menjadi incaran kolektor. 

Musisi legendaris Brian Eno pernah berceletuk tentang album ini: “Album perdana Velvet Underground hanya terjual sebanyak 30 ribu keping, tapi setiap orang yang membelinya kemudian membentuk sebuah band.”

Konon, album ini juga menginspirasi presiden pertama Ceko, Vaclac Havel, saat menjalankan Velvet Revolution ketika Cekoslovakia runtuh pada 1989.

Siapa sangka, pemuda-pemudi nihilis eksentrik bertemu seniman nyentrik lalu menciptakan musik rock yang aneh kelak memengaruhi musik rock masa depan, mulai dari punk rock, noise rock, grunge, shoegaze, dan segala ragam alternative/indie rock.

 

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
971 views
superbuzz
1034 views
superbuzz
1234 views
superbuzz
7206 views