Concert Review The SIGIT: Mythical Men Ensemble, Kemegahan Larutan Distorsi dan Musik Klasik

  • By: LS
  • Senin, 1 August 2016
  • 5430 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

Barisan garda depan yang terkesan rusuh dengan penonton yang bergoyang ke sana ke mari, bahkan sampai diwarnai adegan crowd surfing, adalah pemandangan biasa pada setiap penampilan unit rock kebanggaan Bandung, The Super Insurgent Group of Intemperance Talent (The SIGIT). Pemandangan lumrah barusan tidak tampak dalam gelaran konser Mythical Men Ensemble, Sabtu (30/7), di Dago Tea House, Bandung. Dalam konser mereka yang ke-empat ini, seluruh penonton diharuskan duduk sepanjang acara. Maklum, ini bukan konser The SIGIT yang seperti biasanya. Malam ini, mereka tampil bersama Falzette Music Orchestra, mengawinkan musik rock dengan orkestra.

Sekali band rock tetap saja band rock. Bagi kami yang biasa menonton The SIGIT sambil berjingkrak-jingkrak dan bernyanyi, rasanya agak canggung menyaksikan The SIGIT dari kursi penonton. Walhasil, tidak sedikit juga penonton yang tak kuasa menahan diri, kursi penonton jadi agak bergetar. Mereka menggoyangkan badan sambil duduk, menghentakan sepatu, dan tentu, ikut bernyanyi bersama. Dari beragamnya cara penonton menikmati konser ini, mereka yang ekspresif ini jadi pemandangan yang bikin senyum-senyum sendiri. Andai saja ada area untuk menyaksikan konser sambil berdiri, hasrat mereka mungkin bakal tersalurkan.

Konser Mythical Men Ensemble dimulai tepat waktu pada pukul delapan malam. Deretan kursi yang diperuntukan bagi para pemain orkestra dari Falzette Music satu demi satu mulai diduduki, disusul dengan sang komposer Idhay Adhya. Suasana yang cukup hening kala itu langsung terpecahkan ketika Rektivianto Yoewono (vokal, gitar) Farri Icksan Wibisana (gitar, synthesizer), Aditya Bagja Mulyana (bass) dan Donar Armando Ekana (drum), nyawa utama dari konser ini, naik ke atas panggung. Tanpa secuil pun sapa, alunan intro “Detourne” mengalun. Sudah memiliki aransemen megah sejak awal, nomor dari album “Detourn” ini kian megah dengan masuknya bebunyian orkestra.

Impresi dingin bermain tanpa basa-basi itu pun akhirnya cair juga, sang vokalis Rektivianto menyapa penonton seusai membawakan lagu pertama. Sapaan dengan selipan humor dari Rekti menjadi selingan selama konser berlangsung. Mereka melanjutkan set dengan “Gate of 15th", “Bhang” dengan penyanyi latar yang membuat lagu lebih seksi, nomor yang ada sejak album mini Self Titled (2004) dirilis “Soul Sister”, dan tembang “Up and Down”.

“Waktu itu, pas nulis pengen banget ke New York. Tapi, setelah mengejar beberapa cita-cita, tur ke mana-mana, ke Australia, ternyata perasaan yang didapat adalah… kangen sambel. Jadi intinya, sejauh apapun itu, semuanya kembali lagi ke… keluarga,” tutur Rekti sebelum membawakan lagu ‘klasik’ mereka, “Live in New York”. Bak lagu kebangsaan, penonton turut bernyanyi bersama beriringan dengan vokal Rekti, nyaris dari awal sampai selesai. Satu pemandangan langka, sang drummer Acil turun dari kursi drum dan maju memainkan tamborin di sisi Adit. Ia pun turut bernyanyi sampai pada bagian di mana drum mesti kembali dimainkan.

Lewat Mythical Men Ensemble, banyak cerita yang Rekti bagi kepada penonton. Salah satunya soal Farri yang ternyata merupakan sosok di balik lagu-lagu cinta dari The SIGIT; “Nowhere End”, “All The Time”, dan “Owl and Wolf”. Dua di antara lagu ini dibawakan secara berurutan seusai mereka membawakan “Live in New York”. Nuansa yang dihasilkan dari musik ala The SIGIT dan orkestra untuk “Nowhere End” dan “All The Time” nyaris sempurna. Hal yang sangat disayangkan adalah visual tengkorak dan petir yang kurang relevan dengan keindahan kedua lagu ini.

Konser ini menjadi lahan dari eksplorasi The SIGIT yang tidak pernah berhenti sejak awal karir mereka. Lagu-lagu yang awalnya mereka jarang bawakan diperdengarkan dalam Mythical Men Ensemble dengan aransemen yang menggugah. Farri yang kini memiliki ketertarikan akut dengan synthesizer pun bisa menyalurkan eksperimennya lewat nomor-nomor dalam lagu ini. Masih dengan gitar yang menggantung di pundaknya, Farri memainkan synth sepanjang The SIGIT membawakan “AM Feeling” dan “Owl and Wolf”. Pada kedua lagu ini, orkestra dan bebunyian synth jadi elemen utama. Less guitar, namun membuat keseluruhan musik jadi kesatuan sempurna—jika sempurna itu memang ada.

Masih dengan Farri di balik synthesizer, Rekti menghampiri ‘lahan bermain’ di sisi kanannya. Ia dan Farri mulai mengombinasikan suara-suara ambience yang perlahan membuat penonton ngeh: mereka meracik intro dari “Conondrum”. Bebunyian synth pun disusul dengan suara biola yang mengikuti melodi gitar dari intro lagu ini, plus suara saxophone dan keseluruhan orkestra. Pada aransemen asli lagu ini, bagian ambience yang kemudian disusul gitar menghentak menjadi elemen yang sulit dilupakan, dan malam ini bagian tersebut digubah secara apik dengan orkestrasi. Jika ada satu momen paling mistis dalam konser ini, maka momen itu terdapat dalam penampilan The SIGIT dan Falzette Music Orchestra ketika membawakan “Conondrum”. Lebih menghantui daripada soundtrack film horror.

Konser telah berlangsung selama kurang-lebih dua jam, mereka menutup set dengan “Cognition”. The SIGIT dan Falzette Music Orchestra menambah durasi lagu dengan selipan musik ala padang pasir. Seolah sedang bermain-main di atas panggung, perkawinan musik klasik dengan rock sangat terasa di sini. “Terima kasih banyak, sampai jumpa lagi!” cetus Rekti. Rentetan lagu-lagu The SIGIT dengan iringan orkestra ditutup sampai di situ. Konser benar-benar berakhir setelah The SIGIT membawakan “Black Summer”, “Clove Doper”, dan “Black Amplifier” sebagai encore, tanpa permainan orkestra.

Simak juga video dokumentasi konser mereka di kanal Superockumentary.

0 COMMENTS

Info Terkait

supergears
437 views
supernoize
1398 views
supernoize
6447 views
Supporting Stage
2703 views
Supporting Stage
3220 views