bondan

Bondan Prakoso Resmi Lepas Single Baru, Sindir Carut Marut Dunia

  • By: NND
  • Jumat, 18 September 2020
  • 1870 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Musisi kenamaan lokal, Bondan Prakoso, hadir kembali dengan sebuah karya baru. Pada tanggal 7 September 2020 kemarin, Bondan Prakoso pun meluncurkan lagu terbarunya yang berjudul “Kabut”.

“Berusaha mewakili suara sebagian orang yang merasa sulitnya hidup di era pandemi ini. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa menjaga dan melindungi kita,” tulisnya mengenai lagu ini di kolom komentar video klip resmi dari lagunya.

Simak dan dengarkan “Kabut” dari Bondan Prakoso, di bawah ini:

“Kabut” menjadi nomor terbaru dari Bondan Prakoso usai merilis beberapa single lepas di sepanjang tahun 2019 silam, seperti “Pejuang Garis Finish” dan “Luar Biasa Istimewa”. Berbeda dengan lagu-lagu terdahulu itu, pada “Kabut” Bondan Prakoso hadir dengan gitar akustik yang menjadi sorotan utamanya.

Mengutip siaran pers yang diterima, “(Lagu ini) bercerita tentang bertanya menjalani kehidupan di masa pandemi ini bagi mereka yang terdampak perekonomiannya karena kehilangan mata pencaharian selama berbulan-bulan hingga saat ini.”

“Dampak ini pun juga dirasakan oleh Bondan Prakoso sendiri sebagai musisi/pekerja seni, dan di situasi inilah muncul ide untuk menciptakan lagu ‘Kabut’,” sambung Bondan Prakoso menjelaskan.

 

 

Lagu Bodan Prakoso pun hadir dengan halaman lirik yang penuh dengan syair sarat makna. “Kabut” berhasil menjadi lagu yang terasa emosional, namun juga religius di saat yang bersamaan. Judul lagunya menggambarkan keresahan atas informasi-informasi yang tersebar dan tidak bisa dipertanggung jawabkan, yang justru seakan menakut-nakuti sehingga menyesatkan.

Dari sana, banyak dari mereka yang terdampak merasa tersesat. “Seperti layaknya berada di persimpangan jalan dalam ‘Kabut’ yang tebal,” tutup Bondan Prakoso menerangkan.

Terpenting adalah untuk tetap menjaga kesehatan di era pandemi ini. Bagi yang memasuki masa PSBB lagi, harap untuk mematuhi protokol yang ditetapkan. Stay safe, Superfriends!

Bukan kali pertama ini Bondan Prakoso menelurkan sebuah karya yang menggambarkan tentang kondisi dunia kiwari. Pada 2017, Bondan Prakoso pernah melepas single berjudul What the F*? yang menyindir soal carut marut dunia.

Uniknya, lagu ini tercipta dari keisengan sang istri yang sengaja memberikan tantangan kepada Bondan untuk menciptakan sebuah lagu hanya dalam waktu satu hari, guna memeriahkan HUT NKRI yang ke-72 pada 17 Agustus lalu. “What the F?’ didistribusikan oleh label rekaman independen milik Bondan sendiri, VOLD Records, serta melibatkan netizen dalam menentukan tanggal rilis via polling di media sosial.

“Ya, saya melibatkan netizen untuk penentuan tanggal rilis melalui polling via Snapgram. Saya mau mereka ikut berperan dan menjadi bagian dari proses perjalanan lagu What The F?” ujar Bondan Prakoso melalui siaran pers.

“Kita harus berani jujur ke diri kita sendiri, juga kepada masyarakat, karena itulah esensi dari bermain musik, walaupun saya sadar akan ada banyak pertentangan dan gesekan di kemudian hari. But, yeaaah, It's good to be me again. I got my soul back!” imbuhnya.

“What the F?” merupakan sebuah lagu berbahasa Inggris tentang seputar hal-hal ‘fenomenal’ yang belakangan terjadi. Melalui single teranyarnya ini, ia turut meluapkan rasa muak akan carut marutnya dunia yang dipenuhi fitnah dan kebohongan serta kepalsuan.

Bondan Prakoso dengan lihai menangkap berbagai fenomena sosial yang tengah bergejolak lewat satir di lagu miliknya itu. Di single ini, Bondan Prakoso juga kembali ke ‘akar’-nya dengan memainkan punk rock energik. Ia terakhir merilis album Generasiku pada 2014 lalu.

Selain gemar menyuarakan keresahannya terhadap kehidupan sosial dan masyarakat, Bondan Prakoso juga dikenal kerap melahirkan lagu-lagu pembangkit semangat dan nostalgik. Ambil contoh lagu Ya Sudahlah yang begitu tenar di era 2010-an.

Mundur sedikit ke belakang, tepatnya pada 2019, Bondan Prakoso kembali menghadirkan lagu serupa dengan judul Pejuang Garis Finish.

Di bawah arahan Futih Aljihadi, video klip dari "Pejuang Garis Finish" diangkat secara jenaka, namun akurat. Dengan benang merah yang sama seperti apa yang dimaksudkan Bondan saat menulisnya—yang berbicara tentang perjuangan, video klip berdurasi empat menit 45 detik tersebut merupakan tontonan ringan yang tetap mengemban nilai moral yang penting di dalamnya.

Tak jarang, kisah dibalik video klip tersebut juga dapat di-relate oleh masyarakat luas. Berjuang menghadapi apapun memang selalu seperti itu; bukanlah perjuangan namanya, jika tidak disudutkan oleh halangan dan cobaan. Namun mungkin jika menyimak video klip tersebut, selalu ada titik terang dibalik perjuangan kita—meski hanya berujung sebutir telur.

Kembali berbicara tentang lagunya, makna dari lirik yang telah dijelaskan oleh Bondan bercerita tentang perjuangan yang ia rasakan sendiri secara pribadi.

"Ide mencipta lagu ini bermula dari kehidupan saya berumah tangga selama 11 tahun bersama istri yang berusaha untuk bisa mandiri dalam mengurus rumah tangga dan membesarkan kedua anak; yang dimana kita sering kali menemui kesulitan, kegagalan, dan jalan buntu," imbuhnya melalui siaran pers yang beredar.

"Dari situlah saya mendapat banyak pelajaran; yaitu salah satunya memperjuangkan apa yang kita yakini benar, dengan segala tantangan dan resikonya," tutupnya.

Dalam penggarapan trek baru ini, kali ini Bondan Prakoso tak hanya maju seorang diri. Ia turut serta merangkul Donnie dan Kiki (additional player yang sudah mengiringinya lebih dari 10 tahun berjuang di atas panggung) untuk terlibat dalam penyusunan dan aransemen.

Di luar instrumen, keseluruhan trek ini ditulis dan diproduseri oleh Bondan Prakoso sendiri. Bondon ditemani dengan Osvaldorio dalam perihal mixing, dan Osvaldorio pengemban tanggung jawab mastering-nya.

Tentang Bondan Prakoso

Bondan Prakoso adalah anak kedua dari tiga bersaudara pasangan dari Lili Yulianingsih dan Sisco Batara ini mengawali kariernya sebagai penyanyi cilik di era 1980-an hingga awal tahun 90-an. Album perdananya yang bertitel Si Lumba-Lumba sukses dipasaran dan mencuatkan nama Bondan Prakoso.

Pada tahun 1998, Bondan Prakoso membentuk grup musik Funky Kopral, sebagai bassist, hingga merilis 3 buah album. Bahkan album kedua grup musik ini diganjar penghargaan AMI Awards pada tahun 2001 untuk kategori Group Alternatif Terbaik.

Pada tahun 2003, Funky Kopral merilis album ketiga mereka dengan kolaborasi bersama Setiawan Djodi dengan hits single Tokek dan lagi-lagi diganjar penghargaan AMI Awards pada tahun 2003 untuk kategori Kolaborasi Rock Terbaik.

Sayang, setelah album ketiga dirilis, Bondan Prakoso mengundurkan diri dari Funky Kopral. Hingga pada tahun 2005 Bondan Prakoso membentuk grup musik baru bernama Bondan Prakoso & Fade 2 Black dengan genre musik Pop Rock yang dipadu dengan Rap. Dengan grup musik barunya ini, Bondan diganjar penghargaan serupa, yakni AMI Awards pada tahun 2008 untuk kategori grup musik rap terbaik.

Sebelumnya, pada tahun 2006 Bondan Prakoso bersama 12 orang pemain bass dari berbagai grup musik di Indonesia seperti Thomas "GIGI", Rindra "Padi", Bongky "BIP", Adam Sheila on 7 dan bassist Indonesia lainnya diganjar penghargaan oleh MURI untuk penghargaan Penampilan Bassist terbanyak dalam satu panggung.

0 COMMENTS