Kultur Musik Rock

Dari Rock n’ Roll Hingga Emo, Sebuah Rangkuman Singkat Terhadap Kultur Musik Rock

  • By: NND
  • Rabu, 10 April 2019
  • 721 Views
  • 0 Likes
  • 1 Shares

Berbincang mengenai kultur terasa cukup berat, ini mungkin terjadi karena definisi dari kultur memang kerap diperdebatkan. Namun, pada tingkatan keseharian, kita dapat menangkap makna dibaliknya—meski terkadang sulit ditampung menggunakan kata-kata. Kesadaran atas makna tersebut merupakan sebuah pertanda yang baik—dimana setidaknya, kita sudah peka terhadap pengaruhnya—membuat kita dapat lebih mudah menggenggam pengertiannya secara mendasar. Pengertian umum yang biasa dieratkan kepada kultur adalah “sebuah keseragaman pola pikir dan tindakan” dalam sebuah kelompok individu. Keseragaman, atau koherensi merupakan katalis yang merajut kultur menjadi sebuah istilah yang dapat dirasakan keberadaannya. Sedikit rumit memang, tapi bilanya dibahas secara kontekstual maka kultur akan dapat dicerna lebih mudah, terutama jika kita menariknya dan menempatkannya bersebelahan dengan musik.

Berbicara kultur musik maka dapat dikatakan bahwa kultur menyandang tempat krusial dalam musik. Dengan adanya kultur, karya dan juga pribadi musisi yang menggarapnya akan dapat dicerna dan dipahami, menambahkan cerita lebih terhadap karya-karya yang mereka rilis. Kultur musik memberikan dimensi lain dari karya, dan dimensi lain ini—bagi para penggiat—merupakan sebuah poin plus, memberikan pengalaman lebih mendalam ketika mendengarkan musiknya tersebut. Meliriknya dari segi musisi, kultur sangatlah berperan dalam meramu karya, keberadaan kultur-kultur tertentu akan membantu dalam proses penuliisan lirik dan tersebar luasnya makna lirik tersebut dengan baik kepada khalayak luas. Kultur menghadirkan relevansi—menciptakan relevansi yang memikat pendengar dengan sebuah musik. Namun, pentingnya adalah dengan adanya kultur, para musisi bisa menentukan identitasnya dan berkarya sesuainya, berkarya dengan jujur.

SUPERMUSIC telah merangkum sejumlah kultur dari berbagai jenis musik yang biasa beredar di telinga kita, coba simak bacaan berikut:

Kultur Musik Rock n’ roll: Menjual diri kepada si iblis?

Ditombak sebagai sebuah pergerakan yang naik ke permukaan pada era tahun 40 dan 50-an, genre rock n’ roll menjadi pilar utama untuk perkembangan musik rock yang hingga sekarang masih terus beranak cucu. Merupakan sebuah aliran musik yang terinspirasi dari musik rhythm and blues yang populer dikalangan kulit hitam pada tahun 40-an, rock n’ roll mulai masuk dan menginfiltrasi selera musik masyarakat luas, menjangkitkannya dengan sesuatu yang baru, yang diluar batas wajar kala itu.Tidak ada yang siap untuk kedatangan musik rock. Semua terpukul kejut—orang tua melarangnya atau tidak setuju, dan anak-anak dilahap antusias tinggi untuk mendengar lagi dan lagi. Namun, beberapa tahun kemudian? Rock n’ roll telah menjadi sebuah budaya yang melekat dengan masyarakat dunia, ia telah menjadi sebuah kultur.

Kerap disandang sebagai sebuah musik pemujaan setan dan iblis, rock n’roll memiliki segudang kontroversi di awal perjalanannya. Hal tersebut mungkin masih nyata hingga sekarang, namun pemikiran serupa sudah semakin terkikis oleh zaman. Sekarang, rock n’roll merupakan simbol untuk mengekspresikan diri dengan caranya masing-masing. Sebuah musik yang penyampaiannya mengedepankan kebebasan berekspresi, rock n’ roll telah menjadi sebuah kultur yang kemudian merambah ke ranah cara berpakaian, bidang seni lainnya, dan bahkan gaya hidup. Coba kalian bayangkan jaket kulit seperti yang dikenakan Vino G. Bastian dalam film Realita, Cinta dan Rock n’ Roll, masih ingat dengan film itu? Jangankan jaketnya, seutuh film jebolan tahun 2006 itu bisa dibilang sebuah produk dari kultur rock n’ roll.

Kerap dikelompokan sebagai orang-orang liar, bandel, dan ugal-ugalan; para peggiat kultur rock n’ roll pada umumnya merupakan individu yang meninggikan kebebasan berekspresi. Musiknya yang kerap menggaet remaja itu mendirikan sebuah budaya baru untuk para anak muda diseluruh dunia untuk bisa menggila dan bersenang-senang.

Kultur musik rock psikadelia: Bercintalah, bukan berperang

Sepuluh tahun berlalu dari paparan perdananya, hadirlah sebuah kultur baru dari perkembangan musik rock n’ roll. Rock psikadelia merupakan sebuah musik yang menjadi nyata akibat perpaduan kondisi politik, sosial, perang dunia, perdamaian, anak muda, dan zat-zat psikotropika serta musik. Flower generation, atau beat generation, atau hippies; sebut saja nama-nama yang biasa dilantang itu, semua istiah tersebut digunakan untuk merangkum kutlur ini.

Kultur ini digawangi oleh keadaan pasca perang dunia kedua, di saat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sedang menikmati masa yang baik. Merasa muak dengan peperangan, anak-anak muda di AS maju dan berprotes besar-besaran terhadap pemerintah untuk menolak lagi peperangan dengan Vietnam. Kala itu, anak-anak muda yang terus mengedepankan perdamaian ini turut diakari oleh musik-musik dari grup seperti The Grateful Dead, Jefferson Airplane, Jimi Hendrix, Janis Joplin, hingga The Beatles. Maju dengan pemikiran anti-kekerasan, mereka turun ke jalan dan ke gedung-gedung pemerintahan untuk melepas protes tanpa adanya kekerasan. Kultur ini menyebarluaskan cinta dan kasih sayang, kebebasan, dan narkotika.

Berpusat di San Francisco, pergerakan remaja ini meluas hingga berujung menjadi sebuah kultur. Naasnya, dengan segala perjuangan mereka, perang tidak kunjung berhasil diberhentikan. Barulah masuk ke era 70-an, Amerika menarik pasukan mereka dari Vietnam dan menyudahi peperangan tersebut. Gerakan ini terbunuh oleh meledaknya fenomena pesta cinta damai yang mereka gagas. Banyak remaja berbondong-bondong pindah ke San Francisco untuk kabru dari tanggung jawab dan hidup secara mudah melalui tren ini—tanpa dibekali ideologi yang mencakup pemahaman yang seutuhnya. Situasi menjadi tidak terkendali ketika populasi bertambah dengan pesat, permasalah pun datang menyusul dari segala sektor.

Sebelum sempat dinyatakan mati, kultur ini sudah terlebih dahulu melebarkan pengaruhnya. Berhasil juga merambah kedalam berbagai segmen lain, kultur musik hippies ini masih sering kita jumpai hingga sekarang; baik dalam fesyen, musik zaman sekarang, cara berpikir, dan lain sebagainya. Masih nampak musisi-musisi sekarang yang bertaut pada musik era ini sebagai inspirasi, atau kaos tye-dye yang masih terlihat mengisi katalog brand-brand fesyen ternama, ataupun pemikiran-pemikiran yang berkembang seperti kesetaraan gender, anti-peperangan, pemberdayaan lingkungan, dan lain sebagainya.

Kultur musik punk: Dari anarkisme hingga papan skateboard

Tidak semuanya damai-damai terus jalannya hingga sekarang. Era pasca-perang dan segala peningkatan ekonomi yang dirasakan akhirnya bertemu ujungnya. Pengangguran meningkat, kriminalitas pun juga, kesejahteraan jatuh dan remaja menyambangi jalanan untuk melepas penat. Ahkir tahun 70-an dan awal 80-an merupakan titik penting bagi musik rock. Punk lahir sebagaimana musik-musik anak muda yang ada sebelumnya, sebagai sebuah budaya tandingan. Kultur punk dan musiknya itu merupakan sebuah kultur yang tidak bisa dipungkuri imbas dan pengaruhnya. Amarah, kemuakan, anarkisme, pesimis terhadap tatanan pemerintah, anti-sistem, anti-kapitalisme, kebebasan penuh, semangat Do-It-Yourself, dan fesyennya yang juga dimajukan sebagai pernyataan, itulah sebagian dari kultur punk yang bisa dirangkum dengan kata-kata.

Lahir dengan musik yang merupakan dekonstruksi perkembangan musik rock sebelumnya, punk merupakan reaksi dari kemuakan anak muda atas pemerintahan yang dianggap tidak sejalan dan kurang bisa mengayomi kehidupan mereka. Enggan dipatok aturan, punk menjadi sebuah gerakan yang juga meledak, menjaring banyak pengikut yang merasa ideologi dan sifat punk itu sependar dengan dahaga usia muda mereka.

Narkoba juga masih menjadi aspek yang ikut dimuat dalam kultur ini, namun itu tidak diangkat oleh semuanya. Ada yang memang bersih—berjuang demi ideologi punk yang juga beragam, dan ada yang dikoyak adiksi dan bahayanya zat-zat terlarang, ada juga yang berdiri ditengah-tengah. Lepas dari semua yang seram itu, kultur musik punk sangat dianggap relevan dengan keadaan sosial, politik, dan budaya yang tengah meraja kala itu. Baik di Britania Raya atau di Amerika Serikat, punk hadir dan memberikan sebuah dorongan dan budaya baru bagi anak muda. Kebebasan menjadi harga mati.

Musiknya bertempo cepat, seringnya dibungkus dengan amarah, kritik sosial dan politik, sumpah serapah, dan menghentak-hentak—memancing kerusuhan yang merebus darah-darah muda. Tidak jarang juga kultur ini digaet menjadi jalan hidup, dinobatkan seutuhnya menjadi pelita bagi kehidupan seseorang.

Fesyen punk menjadi sebuah aset yang terus digenjot hingga sekarang, musiknya pun juga demikian. Maraknya penggunaan aspek-aspek dari punk kerap membuatnya menjadi terjerat dalam jaring kapitalisme, sehingga beberapa dari penggiatnya menyatakan bahwa punk telah mati. Mungkin memang benar demikian, namun yang bisa dipastikan adalah pengaruhnya yang terus nyata hingga sekarang, bahkan sampai besok-besok.

Hingga sekarang, semangat punk masih terus dibara melalui penyajian musiknya yang sudah bercampur dengan pop, ataupun menjadi skate punk. Pendekatan yang lebih meremaja, jenaka, dan menolak dewasa menjadi muka baru di era 90-an. Namun, kiblat mereka masih merupakan band-band galak yang menombak amarah mereka sewaktu kelahiran musik punk di awal.

Kultur musik metal: Eskapisme dari realita suram menuju kegelapan

Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki pergerakan metal yang kuat. Ya, musik yang keras ini juga telah membentuk kulturnya sendiri. Rambut gondrong, kaos band warna hitam, headbang, dan masih banyak lagi—silahkan kalian jabarkan sendiri. Metal merupakan sebuah kultur yang memiliki banyak macam, tergantung apa sub-genre metal yang digandeng. Namun secara mendasar, metal menyajikan musik keras yang kuat, deras dengan unsur maskulinitas yang tinggi.

Sama seperti punk, metal juga diprakarsai oleh mentalitas anti-kemapanan. Merosotnya ekonomi setelah era paska perang melahirkan banyak pengganguran yang menjadi kegundahan dari remaja-remaja. Menjelang masa-masa ini, para remaja sangat terbatasi, dikekang situasi yang sama sekali tidak mendukung mereka.

Dari Birmingham, Inggris, hadirlah Black Sabbath—yang sering dinobatkan sebagai band metal pertama di dunia—musiknya menyorak benar-benar ekspresi mereka sebagai remaja: Suram, jenuh, muak, dan marah. Pada dasarnya, musik keras yang dihadirkan oleh metal merupakan sebuah reaksi atas keadaan sekitar mereka. Terlihat sekilas mirip dengan punk, tapi metal berkembang menjadi sebuah genre yang lebih kuat segi eskapismenya, melahirkan sebuah kultur baru yang dibungkus pula dengan wujud yang belum pernah ada sebelumya.

Berkutat di antara nikmat dan suramnya kehidupan di dunia, musik metal kerap mengangkat bahasan tentang kenikmatan duniawi (seks, narkoba, dll) atau tragedi dan kegelapan dalam hidup (kritik sosial dan politik, frustasi, bunuh diri, iblis dan simbol-simbol anti kristiani, dll), kultur metal menelurkan banyak kontroversi, tapi mendirikan juga sebuah kelompok yang memiliki tingkat koherensi yang tinggi, terikat dengan musik yang sama-sama mereka dambakan dan menjadi salah satu kultur dengan pengikut yang benar-benar mendalami kulturnya.

Kultur musik emo: Wadah melankolisme dan problematika pribadi

Masih dengan atribut yang serba hitam seperti metal, Emo—genre musik yang merupakan penggalan dari kata emotional/emotive—juga turut hadir kedalam masyarakat. Degan konten lirik yang berkutit pada permasalahan hubungan, keluarga, atau dikesampingkan secara sosial; kultur emo memberikan ruang dan wadah bagi kaum-kaum melankolis untuk menumpahkan segala keresahan dan gundah gulana, serta nelangsa yang mendominasi panggung kehidupan mereka. Dengan pendekatan yang sangat personal, musik dikemas dalam tempo cepat ataupun pelan mendayu sekalipun.

Menyandang pola pikir yang dikesampingkan, tertekan, dan terpojok oleh kesendirian—kultur emo seakan mempersatukan individu-individu yang sensitif perasaannya. Laju perkembangannya mulai kuat ketika memasuki era 90-an, dimana pola pikir maskulinitas tidak lagi menjadi aspek yang menggaet seluruh remaja, untuk lelaki sekalipun. Berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, kultur ini merupakan sebuah reaksi terhadap keadaan yang tidak terlalu meluas, tidak seperti metal ataupun punk yang memang menjadi budaya tandingan yang berseberangan dengan politik. Urgensi yang dijerat oleh kultur emo merupakan sebuah tumpahan dari permasalahan pribadi seorang individu dengan kehidupan pribadinya, baik itu kelompok sosial, pasangan, atau keluarga.

Dalam beberapa perkembangannya, tidak jarang musik dari emo beririsan dengan metal dan hardcore. Bukti nyata bahwa masih ada hubungan dengan pola pikir kedua kultur yang mengorek kesedihan dari hidup di dunia. Tidak hanya dalam musik, cara berpenampilannya masih memiliki beberapa kemiripan.

Tidak jarang dililitkan dengan kasus-kasus bunuh diri dan depresi, kultur emo tetap memiliki relevansi yang kuat dengan remaja era sekarang. Tekanan kuat dari kelompok sosial, perkembangan teknologi yang mengucilkan pribadi, dan problematika pribadi menjadi runcing yang bahaya bagi remaja. Sebagai arguemen balasan, kultur emo juga sering dimajukan sebagai tempat yang menaungi remaja-remaja ‘tersakiti’ tersebut.

Berikut adalah sejumlah kultur musik yang sudah dirangkum oleh SUPERMUSIC. Jadi, kultur musik apa yang menjadi ketertarikan kalian? Adakah kultur tersebut dalam rangkuman ini? Ikuti terus SUPERMUSIC untuk mendapatkan informasi seputar kultur musik dan gaya hidup yang tentunya tidak kalah menarik, dan jangan lupa untuk ikuti juga akun media sosial kami!

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
186 views
superbuzz
269 views
supershow
287 views
superbuzz
192 views
superbuzz
221 views
superbuzz
224 views