joji

Dari YouTube Sampai Album Debut, Mengenal ‘Keabsurdan’ Joji

  • By: NND
  • Senin, 11 November 2019
  • 731 Views
  • 9 Likes
  • 3 Shares

“Saya hanyalah seorang yang aneh, yang benar-benar aneh,” ungkap Joji saat diwawancara TIME. Maka tidak ada salahnya juga jika kita menggunakan pernyataan itu untuk mencoba mengenalnya lebih dalam.

Kali ini, Supermusic akan mencoba mereka ulang perjalanan Joji, rapper/penyanyi-penulis lagu/produser dari roster 88rising. Mari, telusuri keanehan hidup Joji.

Di tahun 2013, masih sedikit yang mengenal nama “Joji”. George Miller—nama aslinya—belum menjadi seorang musisi.

Ia sudah memiliki followers, tapi bukan karena lagu-lagunya. Ia masih dikenal sebagai Filthy Frank dan Pink Guy, seorang YouTuber komedi dengan bumbu konten ala Jackass, yang ngasal tapi lucu. 

Besar di Osaka, Joji yang merupakan keturunan Australia-Jepang ini belajar musik secara otodidak melalui software GarageBand. Mendengar “A Milli” milik Lil Wayne di tahun 2008 membuatnya haus menciptakan beats.

Ia mengaku sempat masuk kelas drum selama satu bulan tapi berhenti karena tidak bisa belajar apa-apa. Semua sudah ia pelajari: ukulele, piano, dan gitar—tapi ia mengakui bahwa kekuatannya buknlah skill formal, melaikan produksi yang aneh.

Meski selalu membuat musik, kariernya di YouTube adalah yang pertama disorot publik. Channel-nya terkenal di ranah komedi situs tersebut, lengkap dengan konten absurd, ofensif dan dipenuhi humor gelap yang dipenuhi inside jokes.

Puncaknya adalah pada tahun 2013. Filthy Frank berhasil mempopulerkan “Harlem Shake”—sebuah tren dansa yang viral secara online, membuka jejak bagi banyak dance challenge lainnya di hari esok.

Ketenaran dunia maya itu ia lepas empat tahun kemudian. Di tahun 2017, Joji menyatakan pensiun dari karir YouTube-nya. Tujuannya? Tak lain dari pada musik.

Fokus bermusik, ia bergabung dengan 88rising—kolektif musik, media dan label rekaman yang mendukung musisi berdarah Asia untuk menembus pasar Amerika Serikat dan internasional.

Di sinilah musik Joji mendapatkan sorotan yang dibutuhkan. Ia diberikan ruang untuk membuat dan merilis musik yang memang ia inginkan, dan sekarang, pendengarnya tersebar di seantero internet.

Sama kisahnya seperti Higher Brother asal Tiongkok dan Rich Brian dari Indonesia, Joji bersama dengan 88rising berhasil membuktikan bahwa musisi Asia dan karya-karyanya memiliki karakternya sendiri.

Ballads 1—debutnya, berhasil menjadi rilisan yang memantapkan posisinya sebagai musisi. Mendarat di nomor satu tangga lagu R&B Amerika,  single keduanya, “Slow Dancing in the Dark” juga berhasil mengantongi predikat platinum.

Lirik-lirik bertema nihilisme berpadu dengan romantisme remaja acap kali keluar di dalam karya-karyanya. Cukup cryptic, memang—tapi kita tidak bisa bohong, karya Joji terkesan berelegi.

Apapun yang ia kerjakan, YouTube atau musik, kita semua tahu Joji tidak pernah bermain di dalam batasan wajar. Aneh—itulah dia, sama seperti apa yang ia katakan. Tampaknya ia sadar bahwa keanehannya berpendar juga dengan orang banyak.

Baru-baru ini, ia tengah menggarap album keduanya untuk menyusul Ballad 1 yang rilis tahun lalu. “Sanctuary” sebagai single terbarunya, disinyalir sebagai single pembuka album kedua tersebut.

Bagaimana album sophomore-nya ini? Kita tunggu terus update darinya, ya! Simak terus Supermusic untuk informasi terkait album baru Joji, dan informasi lainnya seputar musik!

Selagi menunggu, coba dengarkan salah satu trek teranyar Joji, di bawah ini:

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
170 views
superbuzz
179 views
superbuzz
173 views
supershow
234 views
superbuzz
243 views