Deretan Musisi yang Berani Mendobrak Batas-Batas Musik (Bagian 1)

  • By: NTP
  • Senin, 23 October 2017
  • 3616 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Bagi banyak band dan musisi, perubahan sound adalah suatu perkembangan. Ada jejak sonik yang bisa ditelusuri dari album pertama hingga terbaru, benang merah dan naratif pun biasanya memiliki alur yang logis. Namun, ada beberapa nama besar dunia musik yang bermain dengan peraturan ini, mereka maju-mundur, memutar-melompat bahkan sama sekali meninggalkan identitas bunyi hanya dalam jarak satu album.

Mereka yang mampu mengeksekusi perubahan radikal ini biasanya adalah visioner dan seniman jeli dengan ide artistik yang jelas. Khususnya pada kasus musik rock, mereka menyadari bahwa tidak ada keharusan memainkan sound, komposisi atau struktur tertentu. Sejak revolusi budaya populer dekade 60-an, musisi dan band menyadari tak ada aturan baku yang mengikat mereka mengeksplorasi musik rock.

[bacajuga]

Kejelasan visi, instrumentasi handal, keberanian tingkat tinggi dan kemampuan menjelajahi luasnya spektrum musik rock adalah sebagian faktor revolusi bunyi band dan musisi di bawah ini. Jika dalam banyak kasus mereka yang stagnan hanya bisa menapak alur yang telah dijelajahi, maka pionir-pionir ini justru terbang tenggelam di zona yang belum tersentuh.

The Beatles

Status legendaris disematkan pada The Beatles karena mereka adalah pionir yang tak berhenti berubah. Inovasi Beatles untuk musik populer terdengar sejak A Hard Day's Night (1964), soundtrack film yang mendorong musisi dan band folk untuk memainkan rock n’ roll, seperti The Byrds dan The Kinks. Titik balik pertama Beatles mengubah musik pop terjadi melalui album Help! (1965). Perkembangan ini semakin terdengar jelas di salah satu album ‘progresif’ pertama, Rubber Soul (1965).

The Beatles menggabungkan pop, soul dan folk dalam satu album, menurunkan tempo, menulis komposisi pop kompleks sekaligus menggunakan berbagai instrumen ‘asing’ seperti harmonium dan sitar. Kompleksitas komposisi Rubber Soul menandai album sebagai sebuah karya yang utuh keluar dari pakem single. Melalui Rubber Soul pula The Beatles menjadi salah satu pionir era psychedelic. Rubber Soul dikenal sebagai album di mana Beatles bertemu Bob Dylan dan ganja.

Psikedelia menguasai arus musik populer sejak Revolver (1966) dirilis, album ini dianggap sebagai penanda era keemasan Beatles. Revolver mendorong inovasi teknologi rekaman dengan penggunaan tape loop, varsipeeding, reversed tape, close audio miking dan automatic double tracking. Album ini juga memulai penggunaan teknik sampling dan manipulasi audio, yang kelak jadi elemen penting funk, disco, hip-hop, electronica dan progressive rock. Sumbangan penting Revolver adalah melempar musik populer melampaui batas-batas produk komersial, mendaratkannya di ranah kesenian.

Berlandaskan fondasi tersebut, Beatles mendirikan magnum opus pertama berjudul Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band (1967). Setelah resmi pensiun dari aktivitas tur, Beatles tampil sebagai alter ego Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band. Saat bermusik melalui alter ego mereka, Beatles bebas menulis komposisi, menulis cerita manapun dan merekamnya dengan cara yang mereka mau. Ditunjang faktor tersebut, Beatles mendorong batas durasi lagu populer keluar dari tiga menit. Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band dianggap oleh kritikus musik dan musikolog sebagai jembatan antara musik populer dan karya seni. Sebagai karya utuh, inovasi Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band tak hanya terdengar inovatif, tapi terlihat progresif lewat desain grafis sampul dan tema lirik yang tercetak langsung di album ini.

Opus kedua Beatles adalah The Beatles (White Album) (1968), album ini ditulis saat mereka tengah menjalani sesi meditasi transendental di  Rishikesh, India pada Maret hingga April 1968. Beatles memainkan beberapa genre dan sound berbeda di album ini. Hal ini dinilai sebagai salah satu kekuatan terbesar sekaligus kelemahan terkuat mereka, Beatles dianggap mencuri berbagai aliran musik. Jann Wenner, kritikus dan pemilik grup media Rolling Stone, menyebut album ini sebagai rangkuman sejarah dan sintesis musik dunia Barat. White Album berhasil lantaran mampu menjadi wadah untuk ide-ide gila dari tiap personel Beatles, keluar dari poros Lennon-McCartney. Album ini menjadi cerminan untuk 1968, tahun yang penuh goncangan dan perubahan sosial, di mana keindahan, kengerian, kejutan, kekacauan dan keteraturan hadir pada saat bersamaan.

Menjelang bubar di tahun 1970, dua album terakhir The Beatles adalah pernyataan tentang posisi mereka sebagai raja musik populer. Abbey Road (1969), membaurkan pop, blues, rock n’ roll seta progressive rock, elemen yang nantinya digunakan oleh band arena rock seperti Queen dan Pink Floyd (era The Wall). Album ini juga mempopulerkan penggunaan synthetizer Moog, instrumen penting psychedelic/progressive rock dan electronica. Sementara Let It Be (1970) terdengar seperti Beatles era awal, di mana nomor-nomor pop kental berisi lirik tentang masa muda dan bersenang-senang.

David Bowie

Bowie adalah seorang enigma dalam musik populer, baik atau buruk, ia tak pernah merilis dua karya yang sama sebagai satu karakter serupa. Perkembangan Bowie (atau karakter ‘Major Tom’) bisa dilacak dari Space Oddity (1969), album yang menampilkan aspek terkuatnya, yaitu elemen teatrikal dan komposisi melodius. Dua elemen tersebut menjadi fondasi di dua album terbaik periode awal Bowie, The Man Who Sold the World (1970) dan Hunky Dory (1971). Bowie menempuh rute blues dan hard rock di album The Man Who Sold the World. Sementara di album Hunky Dory, Bowie menyayikan, memainkan dan menulis komposisi rock n’ roll teatrikal sebagai alter ego ‘The Actor’.

 Modus Bowie bermain sebagai alter ego pun berlanjut di hampir seluruh albumnya hingga ia menutup usia. Karakter selanjutnya yang ia mainkan adalah ‘Ziggy Stardust’ pada album The Rise and Fall of Ziggy Stardust and the Spiders From Mars (1972), album konsep berdasarkan sebuah naskah yang ia tulis. Saat ia menjalani rangkaian tur AS, Bowie pun berubah menjadi ‘Aladdin Sane’, memainkan hard rock yang diiringi piano pada album Aladdin Sane (1973). Di album ini Bowie berbicara tentang seks, narkotika dan dekadensi yang ia temui di Amerika Serikat.

Masa yang ia habiskan di AS ini menghasilkan tiga album, Diamond Dogs (1974), Young Americans (1975) dan Station to Station (1976). Diamond Dogs adalah naskah dan komposisi tentang distopia masa depan yang terinspirasi novel karya George Orwell, 1984. Setelahnya, Bowie melangsungkan sesi rekaman Young Americans di Philadelphia. Bowie memainkan R&B diiringi kolaborator Carlos Alomar, yang akan terlibat dalam hampir setiap proyek Bowie. Funk dan soul yang menempel pada musik Bowie selama petualangannya di AS bercampur dengan ketepatan ritmik krautrock di Station to Station. Pada album ini ia tampil sebagai ‘The Thin White Duke’, alter ego tergelap Bowie yang akan menghasilkan salah satu trilogi album terbaik, Berlin Trilogy.

Bowie hijrah dari Los Angeles ke Berlin dan tinggal dalam sebuah kost di atas toko suku cadang. Bersama Brian Eno, produser Tony Visconti dan disusul Iggy Pop, Bowie merekam Low (1977) yang mencerminkan kekacauan kondisi mentalnya. Berisi atmosfer ambient tebal, synthesizer di sana-sini dan raungan gitar Alomar, Low menjadi saksi transformasi Bowie. “Heroes” (1977) album kedua Trilogi Berlin justru berbalik 180 derajat dari Low. Terinspirasi dari kancah krautrock/komische yang tengah berada di garda depan musik Jerman, Bowie mengundang Robert Fripp (gitaris King Crimson) untuk menggarap “Heroes”. Hasilnya adalah sebuah album art/experimental rock cerah yang diisi ambient dan electronica kental, mengiblat ke Kraftwerk dan Neu!. Sementara album terakhir Trilogi Berlin, Lodger (1979), adalah album yang membelah opini para kritikus dan tak terjual sebanyak dua album sebelumnya. Sang produser, Brian Eno, kabarnya membenci Lodger, sebuah eksplorasi Bowie menuju ranah musik tradisional Afrika Utara dan Timur Tengah yang dibumbui pop yang kental.

Bowie kembali ke AS untuk merekam album pertamanya di dekade 80-an, Scary Monsters (1980). Menggabungkan new wave dan post-punk dengan permainan Fripp, lewat Scary Monsters Bowie menemukan karakter terbarunya yang coba ia lepaskan bertahun-tahun kemudian; seorang ikon glamor. Karakter ini menguat di album Let's Dance (1983), di album ini Bowie adalah seorang bintang, membawakan pop rapi jali yang dipoles produser Nile Rodgers (Chic) dan menampilkan gitar Stevie Ray Vaughan.

Formula itulah yang menyebabkan musik Bowie terpuruk di pada akhir 80-an dan awal 90-an. Album Bowie pada medio tersebut, Tonight (1984), Never Let Me Down (1987), Black Tie White Noise (1993) dan The Buddha of Suburbia (1993) direspon dengan buruk oleh kritikus dan pasar. Baru lewat bauran industrial/art rock Outside (1995) dan dentum electronica, jungle, dan drum and bass Earthling (1997), Bowie kembali menempatkan namanya di arus utama musik populer.

Posisinya kali ini ia manfaatkan untuk menengok kembali ke akar musiknya bersama Tony Visconti. Kerjasama ini menghasilkan dua album art/pop rock Heathen (2002) dan Reality (2003). Inovasi terbaru Bowie justru terletak pada caranya memasarkan Hours (1999), yang merupakan album pertama yang bisa dibeli lewat unduhan digital secara penuh.

Pasca Reality dan serangan jantung di atas panggung pada 2004, Bowie kembali bertapa dan baru merilis album pada tahun 2013, The Next Day. Album ini awal dari akhir karir, sekaligus hidup Bowie, pada The Next Day ia kembali memainkan rock seperti awal karirnya. Bowie akhirnya menutup usia di usia 69, setelah ia merilis album pamungkas, Blackstar (2016). Album perpisahan ini menampilkan keseluruhan sound dalam karir Bowie, sekaligus spektrum baru yang ia belum jelajahi, seperti jazz dan neo-soul. Bowie menutup karirnya dengan tiga single, “Lazarus”, “Blackstar” dan “I Can’t Give Everything Away”.

Iggy Pop

Iggy Pop adalah karburator rock n’ roll, terus berdetak dan bergerung sejak 1969. Penampilan dan albumnya bersama The Stooges adalah dinamit yang siap meledak kapanpun. Walau beberapa kali gagal, sepanjang kariernya Iggy mencoba berada di titik tengah antara tenaga primitif dan keahliannya menulis lagu. The Stooges dianggap berperan besar mengakhiri tren musik 60-an, kritikus musik Lester Bangs bahkan menyebut mereka sebagai penanda berakhirnya peradaban Barat.

The Stooges (1969) adalah hantaman pertama Iggy, debut ini berisi rock minimalis yang berakselerasi dengan cepat dan keras. Album ini diproduseri John Cale (bassis Velvet Undergound), hasilnya adalah sound terpoles yang mengurung keliaran The Stooges untuk sementara. Pada masanya, album ini mendapat respon buruk lantaran terdengar begitu asing dan primitif. Ternyata justru itulah kekuatan The Stooges, mereka terdengar jauh berbeda karena sound dan agresi ini dibangunkan kembali oleh band punk dan heavy metal era 70-an.

Album kedua The Stooges, bisa dibilang adalah album paling keras, liar dan tanpa ampun yang pernah dirilis di abad 20. Produser album ini, Don Galluci (pianis The Kingsmen, penulis lagu “Louie Louie”), menelanjangi studio rekaman dari pengaman kedap suara dan membiarkan The Stooges merekam Fun House secara liveFun House (1970) adalah album yang dapat menangkap pengalaman panggung The Stooges dengan tepat, lengkap dengan kegilaan Iggy, raungan psikedelik Ron Asheton, kebrutalan ritmik Dave Alexander dan rentetan drum Scott Asheton.

Musik The Stooges yang terdengar mendahului zaman malah bak bumerang, penjualan album mereka pun tak kunjung membaik. Iggy pun akhirnya tenggelam dalam heroin dan The Stooges merangkak pelan menuju kehancuran. Album terakhir mereka di era ini, Raw Power (1973) berhasil direkam saat Iggy diselamatkan oleh David Bowie. ‘The Thin White Duke’ berhasil mengarahkan energi The Stooges ke dalam struktrur kohesif dan lagu berdurasi pendek. Formula tersebut dianggap membantu memantik kancah punk rock Amerika Serikat.

Setelah The Stooges bubar dan Iggy telah terjerat candu heroin, Bowie sekali lagi menyeretnya dari lubang kematian. Keduanya pindah ke Berlin, Jerman Barat (pra-unifikasi), untuk berkonsentrasi menggarap album. Pengaruh krautrock/komische yang saat itu menjadi garda depan kancah musik Jerman menyesap ke dalam album Bowie dan Iggy. The Idiot (1977), menunjukkan pengaruh tersebut lewat sound industrial dan post-punk (sebelum Joy Division, Public Image Ltd. dan Killing Joke merilis album). Nomor pamungkas album ini, “Mass Production”, juga berpengaruh besar terhadap sound industrial dan membuka kemungkinan melampaui musik rock dengan instrumen elektronik.

Di tahun yang sama, Iggy juga merilis Lust For Life pada bulan September. Arah Lust For Life berkebalikan dengan album sebelumnya, kali ini Iggy kembali ke akar The Stooges. Di album ini, Iggy kembali memainkan rock n’ roll cerah yang lebih merdu ketimbang diskografi The Stooges. Selesai direkam selama depan hari, Lust For Life adalah album solo tersukses Iggy. Lagi-lagi Iggy berhasil menyeimbangkan energi musiknya dengan kecerdikannya menulis lirik.

  

Memasuki dekade 80-an Iggy lepas dari pengaruh The Stooges dan Bowie, album New Values (1979) yang menggabungkan new wave dan hard rock, selagi mempertahankan persona liarnya. Album Bowie berikutnya yang menjadi marka perubahan sound dan citra Iggy adalah Blah, Blah, Blah (1986), ia menyatukan glam rock, synth kental dan drum mesin. Walau Iggy bisa bertahan dan tetap relevan di era 80-an, ia hampir tenggelam di era 90-an. Hanya satu album Iggy di era ini yang menunjukkan kualitasnya, yaitu American Caesar (1993) di mana ia mencoba memainkan proto-punk The Stooges dengan bumbu grunge dan psikedelia. American Caesar adalah album tergelap Iggy setelah The Idiot.

Di awal millenium baru, The Stooges aktif dan Iggy kembali menemukan jiwanya, panggung The Stooges kali ini pun dikenal lebih liar. Menyandang status legendaris, dan penonton yang lebih mengenal materi mereka, keliaran ini terabadikan dalam DVD Live In Detroit (2004). Kesalahannya kali ini adalah merekam album baru bersama The Stooges, The Weirdness (2007) dan Ready To Die (2013). Di saat yang sama Iggy juga tetap merilis album solo, yaitu Skull Ring (2003) dan Après (2012), ia juga mencoba menjelajahi jazz lewat Préliminaires (2009). Album terbarunya, Post-Pop Depression (2016) ia kerjakan bersama Josh Homme (vokalis-gitaris Queens of the Stone Age), di album ini Iggy memainkan garage/hard rock dengan sentuhan pop ala Homme. Banyak spekulasi yang beredar menyatakan album ini adalah karya terakhir Iggy.

Pink Floyd

Perubahan adalah satu-satunya semangat yang konstan menghuni Pink Floyd. Jika banyak band di luar sana tumbang saat berganti vokalis, maka Pink Floyd justru berhasil menjadi band rock terpopuler pada masanya. Saking populernya, mereka secara ironi dianggap membantu munculnya punk di Britania Raya, sebagai ekspresi penolakan terhadap kemapanan dan budaya populer arus utama yang diwakili Pink Floyd.

Gebrakan Pink Floyd dimulai dari The Piper at the Gates of Dawn (1967), karya terbaik Syd Barrett, sang vokalis, gitaris, dan penulis lagu, sebelum mundur dari Pink Floyd. Piper berisi eksplorasi psychedelic/experimental rock dengan struktur komposisi lagu anak. Berbeda dengan album pionir psikedelia lainnya seperti Sgt. Pepper Lonely Hearts Club Band (The Beatles), Electric Ladyland (The Jimi Hendrix Experience) atau The Psychedelic Sound Of The 13th Floor Elevators (13th Floor Elevators), irama Piper mudah menempel sementara kepala sibuk berpetualang di alam lain. Namun, kesuksesan dan pengaruh Piper harus dibayar mahal dengan mundurnya Barrett pasca A Saucerful of Secrets (1968). Album psychedelic/space rock ini menandai terpuruknya kondisi mental Barrett hingga tak sanggup lagi tampil di panggung. A Saucerful of Secrets adalah karya pertama dalam kolaborasi panjang Pink Floyd dengan Hipgnosis (grup desain grafis) untuk sampul album mereka. Komposisi panjang dan struktur repetitif khas Pink Floyd pun mulai muncul di album ini.

Lepas dari Barrett, Pink Floyd bertransisi ke poros Waters-Gilmour. Perpindahan ini dimulai sejak Ummagumma (1969), di mana Pink Floyd perlahan keluar dari komposisi dan struktur lagu Barrett, menuju eksperimentasi bebunyian yang lebih longgar. Beberapa tahun setelah perilisannya, Pink Floyd menyesali keliaran komposisi Ummagumma. Di album selanjutnya, Atom Heart Mother (1970) mulai menyeimbangkan keliaran improvisasi dengan struktur yang lebih kohesif, jalan tengah yang mereka ambil menghasilkan nomor instrumental berdurasi 23 menit, “Atom Heart Mother”.

Formula ini mereka pahat lebih lanjut di Meddle (1971), yang dianggap sebagai ‘album pertama’ pasca Barrett, di mana identitas baru mereka mulai terbentuk dan lirik disumbang oleh semua personel Pink Floyd. Mereka menjalani sesi rekaman di Abbey Road tanpa modal materi dan berhasil menulis epik sepanjang 23 menit yang menjadi cetak biru mereka, “Echoes”.

Berbekal desain tersebut, Pink Floyd merekam The Dark Side of the Moon (1973). Materi The Dark Side of the Moon dipayungi album konsep hasil improvisasi bebunyian melalui teknologi terbaru (rekaman multitrack, tape loop dan synthetizer analog) dan repertoar panjang yang ditarik ke dalam sepuluh nomor berdurasi 42 menit. Pink Floyd meraih kesuksesan finansial berkat keberhasilan The Dark Side of the Moon menceritakan peliknya kehidupan modern di negara maju.

Menuju Wish You Were Here (1975), Pink Floyd berangkat dari kematangan visi artistik dan penghormatan untuk Syd Barrett. Memainkan campuran psychedelic dengan progressive rock, Pink Floyd melancarkan kritik terhadap industri musik serta alienasi kehidupan modern yang mengalir dan bermuara di “Shine On You Crazy Diamond”. Pink Floyd memainkan komposisi yang ramah di telinga. Synthesizer dan solo gitar dimainkan sebagai aksen pemanis jauh dari kesan psikedelik yang rumit dan kompleks. Pada sesi rekaman Wish You Were Here, Barrett bahkan mengunjungi Pink Floyd.

Usai Wish You Were Here direspons dengan baik oleh para kritikus dan laris di pasaran, Pink Floyd merekam Animals. Album ini berusaha memotret dan mengkritik kondisi sosial-politik Britania di akhir 70-an, berlandaskan novel Animal Farm karya George Orwell. Berbeda dengan album-album Pink Floyd sebelumnya, Animals memiliki atmosfer paling gelap dan komposisi paling sederhana. Sejak Animals, Pink Floyd mulai retak dan meninggalkan psychedelic rock menuju progressive/ arena rock.

Petualangan sonik Pink Floyd berikutnya menghasilkan album ganda ‘rock opera’ berjudul The Wall (1979). Album ini mengisahkan perjalanan hidup Pink, yang merupakan gabungan antara kisah nyata Waters dan Barrett. The Wall adalah metafora kondisi Pink saat ia mengisolasi dirinya sendiri, dari ibunya, sekolah dan kehancuran pernikahannya. Di album ini tak lagi terdengar sound psikedelik, digantikan oleh kemegahan orkestra  New York Philharmonic dan New York Symphony serta paduan suara New York City Opera. The Wall adalah puncak kesuksesan finansial Pink Floyd, album ini memuncaki Billboard selama 15 minggu, terjual sebanyak satu juta kopi dalam tujuh hari pertama dan diadaptasi menjadi film Pink Floyd: The Wall (1982).

Namun kesuksesan itu kontan menagih bayaran, perbedaan visi artistik dan keputusan Waters untuk mengambilalih kontrol total atas kuartet menyebabkan keretakan Pink Floyd semakin lebar. Di album The Final Cut (1983) melanjutkan tema besar kehidupan pasca perang, kali ini perang kepulauan Falklands (Malvinas). Richard Wright (kibor) akhirnya keluar  dan perpecahan Waters-Gilmour semakin parah. Sengketa ini menyisakan Gilmour dan Nick Mason (drum) di album A Momentary Lapse of Reason (1987). Di dua album tersebut, kreativitas Pink Floyd mengering, menyebabkan mereka memainkan komposisi serupa The Wall berulang-ulang.

(Bersambung ke bagian kedua...)

0 COMMENTS

Info Terkait