Di Balik Warna Berbeda Rollfast di Album Kedua Mereka

Di Balik Warna Berbeda Rollfast di Album Kedua Mereka

  • By:
  • Kamis, 7 January 2021
  • 187 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Warna baru disajikan oleh band psikedelik rock asal Bali, Rollfast, dalam album terbaru mereka bertajuk Garatuba. Warna musik Rollfast disebut-sebut sangat berbeda dari karya mereka sebelumnya.

Memang tidak ada teori pasti tentang hubungan antara band dan dari mana asal mereka. Namun, seringkali sulit untuk menghindari gagasan klise tentang bagaimana sebuah band seharusnya bisa bersuara tergantung dari mana asal mereka. Itulah yang dilakukan Rollfast terhadap album kedua mereka.

Awalnya, sulit untuk menyamakan album kedua Rollfast 'Garatuba' dengan fakta bahwa mereka berasal dari Bali. Gaya psychedelic agresif dari album ini berbenturan dengan stereotip Pulau Dewata yang tersohor dengan pantai yang indah, tujuan wisata populer, dan botol bir, serta segala keindahan lain di sana.

Tapi itu bukan Bali versi kacamata dari Rollfast, atau setidaknya tidak seluruhnya. Garatuba menjadi album penuh kritik satir dari Rollfast soal keadaan di Bali. Tentang eksploitasi pulau itu tanpa henti dan sumber dayanya untuk mendapatkan keuntungan yang sering membuat penduduk setempat kesulitan.

Jika pemikiran tentang sisi Bali seperti ini muncul, maka album Garatuba perlahan mulai masuk akal. Judul lagu pembuka Garatuba adalah barnstormer enam setengah menit dengan bidikan yang dilatih tepat pada kondisi Bali saat ini.

Tinggal setetes air tersisa

Siapkan diri puasa paksa (dikekeringan, dikerintekan)

Ketergantungan (dikerintekan, dikerintekan)

Di kegersangan (dikerintekan, dikedituan)

Badai kedewatan (dikedituan, dikedituan).

Tidak hanya dari segi warna musik, eksplorasi musik Rollfast di album terbarunya kali ini sangat berubah drastis. Sekarang, Rollfast terdengar lebih progresif dengan turut hadirnya nuansa world music yang berasal dari bunyi instrumen musik tradisional.

"Komposisi secara riff gitar kita ingin simple aja sih. Referensi juga. Kayak udah nggak denger rock kita sebenarnya, gegara aktifitas kita udah padet," kata gitarsi Rollfast, Bayu Krisna, dalam konferensi pers virtual.

"Sebetulnya dari bunyian-bunyian di sekitar, sih, kayak sound-sound di pameran dangdut gitu, atau warung depan. Kayak dulu kita denger Black Sabbath. Tapi kita pengen lebih mengalir dengan sound-sound sekeliling. Aiming-nya tuh kayak nggak ber-genre lagi sih gitu," tambah vokalis Agha Praditya.

Album Garatuba sendiri mendapat respons positif, ambil contoh review dari NME yang memberi album Rollfast ini bintang 4 dari 5. Menurut NME, memang tidak semua yang Rollfast lakukan di album ini adalah sesuatu yang spektakuler. Ada beberapa riff yang lebih lemah dan kadang-kadang tambalan kasar, tetapi energi band yang bergerak bebas membawa mereka melewati momen-momen ini.

"Meskipun menggabungkan banyak genre dan ide, ‘Garatuba’ tidak pernah terasa seperti mencoba secara neurotik untuk membuktikan suatu hal. Alih-alih, karena percaya diri dan yakin dalam pendekatannya, kecenderungan band yang lebih menonjol ditopang oleh pemahaman tentang fundamental rock. Rollfast telah mengambil langkah menuju sesuatu yang lebih besar dengan 'Garatuba'," tulis NME pada penilaian album Garatuba.

Album Garatuba sendiri resmi dilepas ke khalayak pada September 2020. Ini menjadi album kedua milik Rollfast selama berkarier. Mereka merilis album ini di bawah naungan bendera Lamunai Records.

Album ini mengudara usai melepas tiga singlenya, “Pajeromon”, “Grand Theft Atma” dan “Garatuba” di paruh pertama tahun 2020. Adapun perilisan albumnya bertepatan dengan Hari Radio Nasional 2020, sehingga Rollfast pun merangkul beberapa radio online serta konvensional milik lokal dan mancanegara untuk menyiarkan Garatuba secara ekslusif.

Proses penggarapan dari album Garatuba terbilang cukup lama karena dimulai dari tahun 2018. Salah satu faktornya ialah pamitnya dua personel asli Rollfast, Gungwah Brahmantia dan Ayrton Willem, menyisakan trio Agha Dhaksa, Arya Triandana dan Bayu Krisna. Banyaknya bongkar pasang lagu dan instrumen juga menjadi faktor diantaranya.

Album ini akhirnya tersedia dalam format CD meski sempat tertunda beberapa waktu karena pandemi yang mewabah. Melalui durasi 46 menit miliknya, Garatuba bak lapangan bermain yang luas. Begitu jadinya karena eksperimentasi dan eksplorasi jadi dua hal dominan dari album ini.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by ROLLFAST (@rollfast___)

Kini, Rollfast yang digawangi oleh Agha Dhaksa, Arya Triandana dan Bayu Krisna pun sukses menelurkan petualangan baru mereka. Ketimbang album debut, musik Rollfast menukik abstrak. Namun ditengah transisi sonik ke arah yang lebih progresif, chemistry tetap terjaga aman–singkat kata, mereka tetap hadir dengan sound yang solid.

“Semua nya berubah drastis waktu kami melakukan sesi wawancara dengan media UK, Backseat Mafia. Mereka sempat heran sesudah dengerin materi album pertama kita, karena menurut mereka apa yang kita sampaikan tidak mencerminkan dimana kita hidup sekarang. Tidak ada pantai, sawah dan gunung gitu. Statement yang paling kena dari obrolan itu adalah: ‘Kalian dari Bali ya? Saya kira dari Joshua Tree, USA’,” ungkap vokalis Agha, dilansir dari siaran pers.

“Kle! Dari sanalah kita mulai coba untuk menggali lebih dalam tentang apa yang ada di sekitar kita (terutama musik) dan mencampuradukkannya dengan tema populer yang kami serap saat ini, sampai menjadi kayak sekarang, Walaupun kami merasa masih banyak yang ingin disampaikan secara karya,” sambungnya.

Adapun dua kolaborasi yang hadir dalam album Garatuba. Di lagu “Bally”, Rollfast menggaet Frau yang menyumbang vokal berkarakternya. “Rare” (baca: ra-re), juga jadi ajang umpan silang dengan Gardika Gigih, membuka nuansa pagi hari yang khusyuk.

Satu hal unik dari perilisan album ini adalah peluncuran limited edition action figure yang juga hadir bersamanya. Adalah monster fiksi bernama “Pajeromon” yang diciptakan sendiri oleh Rollfast–sosok yang jadi karakter utama dalam sejumlah video lirik dan zine eksplanasi album yang disusun oleh penulis asal Jakarta, Rio Tantomo.

0 COMMENTS