Di Pulau Dewata, Indra Lesmana Dirikan Sanggar Musik untuk Berbagai Ilmu

Di Pulau Dewata, Indra Lesmana Dirikan Sanggar Musik untuk Berbagai Ilmu

  • By:
  • Senin, 1 February 2021
  • 320 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Selalu ada tempat untuk musik di hidup seorang Indra Lesmana. Musisi jazz kenamaan Indonesia itu tetap menyalurkan bakat dan kecintaannya terhadap musik meski memutuskan untuk pindah tempat tinggal.

Ya, terhitung sejak Desember 2014 lalu, Indra Lesmana memboyong keluarganya untuk pindah ke Bali dari Jakarta. Indra Lesmana memilih tinggal di Jl. Waribang, Denpasar, tak jauh dari Pantai Sanur.

Di tempat ini, Indra Lesmana mendirikan sanggar musik yang bertujuan untuk menggembleng para pemilik talenta seni. Ketika diwawancarai oleh Viva pada 2015 lalu, atau satu tahun setelah pindah ke Bali, Indra menyebut sanggarnya masih dalam tahap pembangunan.

"Saya rencana membangun sanggar, namanya sanggar Indra Lesmana di Waribang, Kesiman. Tujuannya mengembangkan karya. Banyak bakat muda di Indonesia yang butuh wadah atau tempat untuk menghasilkan karya," kata Indra.

"Sanggar saya bertujuan untuk itu, menggali potensi dan menciptakan karya-karya baru," jelasnya.

Indra Lesmana berharap dengan potensi yang dimiliki, seorang musisi tak hanya sekadar jago bermain musik dan memainkan karya orang, tetapi juga mampu mencipta karya musik sendiri. Meski Indra Lesmana kental dan besar dari musik jazz, ia mengaku tak membedakan karya seseorang dari lingkup genre.

"Kita berharap dapat pula untuk bisa penciptaan juga. Basic saya memang jazz, tapi saya tidak pernah melihat hasil karya itu hanya dari genre. Karya itu bisa apa saja bentuknya. Yang penting bisa maksimal hasil akhirnya," ujarnya.

Lantas, berdirilah sebuah wadah berkreasi musik bernama Sanggar Musik Indra Lesmana (SMILE)yang dikelola bersama istrinya, Hon Lesmana. Indra juga berkolaborasi dengan sahabatnya, Ida Bagus Gede Sidharta Putra dari Santrian Group yang juga Founder Sanur Village Festival (SVF).

Sanggar musik garapan Indra Lesmana ini terus berbenah seiring waktu, menyempurnakan program dan melengkapi kelas seperti bas dan drum agar para siswa bisa dipasangkan untuk membuat grup. Indra menyebut hal ini sebagai percepatan, tetapi tetap membekali siswa dengan penguasaan teori, keterampilan, dan wawasan tentang musik.

“Sanggar ini ingin melahirkan musisi yang siap perform dan berkarya,” kata Indra kepada Katarupa. Pada tahun 2020, ia pun menyiapkan infrastruktur daring dan aplikasi berbasis android agar peminat dari luar Bali bisa menjadi siswa sanggar. Terlebih, pandemi COVID-19 yang melanda tahun 2020 lalu bikin berbagai kegiatan tatap muka jadi terbatas.

Untuk ujian atau resital Indra Lesmana berharap dukungan program corporate social responsibility (CSR) untuk mendatangkan guru penguji ke tempat asal siswa. Atau, bisa pula siswa datang ke Bali untuk mengikuti resital sembari berwisata.

Upaya Indra Lesmana untuk berbagai pengalaman bermusiknya juga tercemin dari sejumlah workshop terbuka dengan mendatangkan sejumlah musisi kawakan. Secara berkala ia juga menggelar Mostly Jazz Bali yang juga akan menjadi wahana bagi para siswa untuk unjuk kebolehan.

Konser dan jam session bisa dinikmati di kedai kopi Mostly Jazz Brew di Jl. Danau Tamblingan Sanur. Ya, ini adalah tempat di mana Indra Lesmana memadukan musik jazz dengan kopi.

Di Jalan Danau Tamblingan 47A, tampak papan nama mencolok warna orange tertulis Mostly Jazz Brew, Signature Coffee. Tempatnya sederhana. Di halaman ada belasan kursi warna-warni mengelilingi meja kayu.

“Di tempat ini saya ingin kasih tahu pada orang luar (asing), di Indonesia tidak hanya kopinya berkualitas tapi juga musik jazz-nya. Saya ingin menunjukkan bahwa Indonesia memiliki bakat-bakat seni yang luar biasa,” ungkap Indra kepada Radar Bali.

Kecintaan Indra Lesmana kepada musik, khususnya jazz, ini terus dibuktikan dengan inovasi yang ia lakukan beberapa waktu lalu. Pada April 2020, Indra Lesmana bersama Dewa Budjana menggelar konser virtual bertajuk Mostly Jazz Live Online.

Pentas ini digelar bertepatan dengan Hari Jazz Internasional (International Jazz Day) yang jatuh pada 30 April. Indra dan Budjana yang tergabung dalam proyek bertajuk ILDB itu memilih konser virtual untuk merayakan hari bersejarah tersebut. Hal itu mengingat keduanya tidak dapat tampil di atas panggung konser karena pandemi virus corona yang mewabah di dunia, tak terkecuali di Indonesia.

"Semangat dalam bermusik jazz dan adanya International Jazz Day ini menjadi inspirasi bagi kami untuk berkreasi, belajar dan berimprovisasi mencari solusi terbaik," kata Indra melalui konferensi virtualnya.

Indra Lesmana dan Dewa Budjana membuka pertunjukan dengan lagu "Greenfield" - salah satu lagu pertama dari proyek keduanya yang diciptakan pada tahun 1985.

Penampilan keduanya kemudian dilanjutkan oleh dua lagu lainnya, yakni "Mountain of Light" (2014) dan Distance (2017) yang ditulis oleh Indra Lesmana untuk memperingati erupsi Gunung Agung di tahun yang sama.

Mereka pun kemudian saling berbagi cerita lama mengenai perjalanan bermusik mereka. Mulai dari bagaimana Indra Lesmana dan Dewa Budjana saling mengenal masing-masing, hingga tergabung ke sebuah proyek musik bersama.

Kedua musisi itu lalu kembali tampil membawakan lagu-lagu mereka selanjutnya, mulai dari "Somewhere, Somehow", "Friendship", dan salah satu lagu terpopuler mereka, "Wanita". Setelah membawakan tiga lagu sekaligus, solois Eva Celia yang sekaligus putri dari Indra Lesmana bergabung untuk membawakan lagu "I'll Remember April" - lagu jazz yang dipopulerkan oleh Gene Paul, Patricia Johnson, dan Don Raye pada tahun 1942.

Penampilan Indra Lesmana dan Dewa Budjana di episode perdana "Mostly Jazz Live Online" itu lalu ditutup dengan dua lagu lainnya, "Barong Landung" dan "Bulan di Atas Asia".

0 COMMENTS