Dirty Hit: Label Indie Penghasil The 1975 hingga Wolf Alice

Dirty Hit: Label Indie Penghasil The 1975 hingga Wolf Alice

  • By:
  • Rabu, 26 May 2021
  • 132 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Dirty Hit menjadi salah satu label indie paling sukses masa kini di Inggris. Acuannya tentu saja roster yang mereka miliki. Mulai dari jagoan rock macam The 1975 dan Wolf Alice, hingga nama-nama baru yang sedang naik daun seperti Beabadoobee, Oscar Lang hingga No Rome.

Sebelum menjadi besar seperti sekarang, Dirty Hit justru bermula dari sebuah rasa putus asa seorang Jamie Oborne. Di tahun 2010 ketika Jamie Oborne tak juga mendapatkan label besar yang ingin bekerja sama dengan band besutannya, The 1975, ia memutuskan untuk membentuk label rekaman sendiri.

Berdirinya Dirty Hit tidak terlepas dari peran mantan pesepak bola Inggris, Ugo Ehiogu. Sosok yang meninggal pada 2017 lalu itu merupakan sosok lain di balik lahirnya Dirty Hit setelah menginvestasikan uangnya untuk membentuk label tersebut.

Ehiogu yang gantung sepatu pada 2009 meminta saran kepada penasihat keuangan sekaligus rekannya, Brian Smith, untuk menginvestasikan uang dan waktunya. Setelah beberapa kali pertemuan dengan Jamie Oborne yang juga kawan Brian Smith, akhirnya mereka memutuskan mendirikan Dirty Hit.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Dirty Hit (@dirtyhit)

Ehiogu mengaku memang menyukai musik dan senang menjalankan bisnis label rekaman ini. Meski kini sudah tiada, jasanya dalam mendirikan Dirty Hit sehingga bisa sukses seperti sekarang dikenang baik-baik oleh Jamie Oborne. 

Little Comets, Benjamin Francis Leftwich, dan 1975 menjadi roster Dirty Hit di awal kemunculannya. Beberapa tahun kemudian, The 1975 menjadi band Diry Hit pertama yang meraih kesuksesan mainstream berkat debut album eponymous mereka. Album ini menduduki posisi pertama UK Album Chart pada 2013.

Sebagai label, Jamie membuat Dirty Hit punya kultur yang positif. Alih-alih menekan para artisnya, Dirty Hit memberi kebebasan kepada para musisi dalam melahirkan karya sehingga identitas dari para musisi yang berada di Dirty Hit akan muncul dan menjadi daya pikat penjualan tersendiri.

"Saya hanya mencoba bekerja dengan artis yang saya sukai dan memasarkan mereka dengan cara yang menarik dan baru. Saya kira tujuan utama kami adalah meninggalkan warisan bahwa kami telah membentuk budaya dengan cara tertentu,” kata Jamie kepada Complex.

Dirty Hit tidak hanya mengizinkan artis mereka melakukan apa pun yang mereka inginkan. Dalam visi misi yang disampaikan oleh Jamie, sangat jelas terlihat bahwa Dirty Hit mencoba sangat peduli tentang membangun hubungan dengan artisnya.

Kesuksesan dari The 1975 diklaim sebagai bukti bahwa filosofi yang diemban oleh Dirty Hit berhasil. Matt Healy yang menjabat sebagai direktur kreatif di Dirty Hit menjelaskan bahwa ia ingin menunjukkan bahwa seseorang bisa memiliki band atau menjadi musisi besar di dunia dan tak terikat pada aturan apapun.

Pendekatan Dirty Hit ini dianggap segar, mengingat cerita horor yang terus-menerus hadir dari cerita para artis soal kontrak dengan label besar yang mengeksploitasi mereka sehingga melumpuhkan visi kreatif mereka. Jamie kepada Music Week menjelaskan bahwa tugas Dirty Hit adalah mendukung musik indie dengan memberikan platform yang musisi butuhkan.

“Sektor indie adalah, dan selalu sangat penting bagi musik dan budaya Inggris. Jika Anda melihat artis seperti Arctic Monkeys, Dave dan Adele, ini tidak bisa disangkal. Sebagai sektor, kami perlu terus mendukung artis dan memberi mereka platform yang mereka butuhkan," jelasnya.

Dengan bangga, Jamie juga menuturkan bahwa kesuksesan The 1975 telah menjadi inspirasi bagi para anak muda untuk lebih kreatif dengan memaksimalkan apa yang dimiliki untuk memproduksi musik. "Mereka (The 1975) telah menginspirasi banyak seniman muda untuk tidak menerima aturan yang coba diterapkan oleh orang-orang di media."

No Rome, artis R&B Filipina-Inggris yang menandatangani kontrak dengan Dirty Hit pada tahun 2017, mengatakan bahwa filosofi dari label tersebut bisa langsung ia pahami hanya dari percakapan awal yang dia lakukan bersama Dirty Hit.

“Ketika saya sedang berbicara di telepon dengan label pada saat itu, beberapa dari mereka tidak sepenuhnya setuju dengan saya menangani gagasan ini sebagai seniman 'audio-visual'. Saat saya berbicara dengan Dirty Hit melalui panggilan telepon, mereka berkata, 'Ya, kami menyukai ide itu.' Mereka melihat potensi apa yang ingin saya lakukan,” ujarnya.

Baca juga: Beabadoobee Tampilkan Kolaborasi Bersama The 1975 untuk Single Barunya

Dan seperti banyak label atau jejak artis-sentris lainnya, banyak artis baru dalam daftar Dirty Hit mendapatkan keuntungan dalam berbagai cara karena berada di orbit yang sama dengan The 1975. Band ini telah mengajak beberapa rekan satu label mereka dalam tur termasuk Wolf Alice ( band alt-rock Inggris), Pale Waves (band synth-pop gelap Inggris), Japanese House, dan No Rome.

"Saya tak tahu soal sistem di label lain, tapi saya rasa untuk label Dirty Hit akan selalu menawarkan dukungan untuk artinya, memberi ruang untuk berkembang, dan kesempatan untuk meraih karier yang bagus, dan harapannya bisa meraih keuntungan finansial sehingga mereka bisa membuat karya lebih banyak," ujar Jamie Oborne kepada Coup de Main.

"Saya sering berkata, kita tidak berada di bisnis menjual musik, tetapi kita berada di bisnis berjualan identitas. Itulah mengapa saya jatuh cinta pada musik. Bukan berarti ketika kita membeli sebuah album, maka kita membeli musik, justru kita membeli bagian kecil dari sebuah identitas."

 

Image source: Instagram/Wolf Alice, Shutterstock

0 COMMENTS