5 grup elektronik lokal

5 Grup Elektronik Lokal Masa Kini yang Perlu Lo Tahu!

  • By: NND
  • Selasa, 3 December 2019
  • 460 Views
  • 14 Likes
  • 7 Shares

Dalam beberapa tahun terakhir, menjalarnya musik elektronik kerap muncul di berbagai kancah kota-kota besar di Indonesia. Bermuara dari perkembangan teknologi yang menghasilkan lebih banyak alat yang memperluas lapangan bermain, akses terhadapnya, atau meluasnya referensi; vonisnya, musik dansa elektronik di Tanah Air sudah melewati fase remaja.

Sekarang, ia sudah mendewasa dan memiliki pasar berkelanjutan, jauh lebih mendukung ketimbang dekade 2000-an, dengan sajian sub-genre yang tidak stagnan dan lebih beragam.

Pertumbuhan ini lahir secara organik, utamanya tumbuh atas usaha para penggerak kancah yang kerap bergerilya atau rela keluar modal demi menggelar party di titik-titik baru. Gerak ini membuat kancah elektronik bergerak ke arah inklusif dan tidak lagi terpaku pada klab-klab big room. Selera mulai dicetak, budaya mulai terbentuk, dan sekarang, perluasannya sudah terasa.

Darinya, lahirlah nama-nama grup yang patut diperhitungkan, dan kali ini, SUPERMUSIC akan membahas lima grup elektronik lokal masa kini yang patut kalian kenali. Siapa saja mereka?

1. Mantra Vutura

Tristan Juliano (anak bungsu Addie MS) dan Zakari Danubrata (perkusionis/musisi jazz muda) adalah Mantra Vutura. Duo elektronik asal Jakarta ini berdiri pada 2017, dengan latar belakang musik jazz, pop, dan electronica, yang dimiliki Tirstan dan Zakari mereka menghasilkan musik dengan sound luas.

Kata “Mantra” merujuk pada sisi bumiputera, sebagai anak-anak nusantara, yang hadir dari gebukan perkusi Zaki, singkatnya dipanggil. “Vutura”, di lain tangan, diambil dari kata “future”, atau imajinasi akan masa depan dari bebunyian futuristik permainan keys dan synth Tristan.

Mereka memadu dua pendekatan tersebut dengan tepat, Mantra Vutura mampu melahirkan karya-karya apik yang dikemas dengan unsur eksperimental. Kolaborasi juga menjadi senjata mereka, proses ini dapat menghasilkan varian bunyi yang segar.

Salah satu karya terbaru mereka adalah studio album debutnya, Human (2019). Di album itu, sound unik mereka menuntun alunan vokal dari nama-nama kawakan macam Danilla, Bam Mastro, Kunto Aji dan lainnya.

2. Sunmantra

Mengutip laman Beatport mereka, Sunmantra adalah sebuah grup “...psych rock, post techno, dan electronic fusion band.” Namun, apakah ketiga hal tersebut mampu mewakili musik-musik hard-hitting trio Jonathan “Jojo” Pardede, Bernardus Fritz “Koni”, dan Omar Joesoef? Belum tentu.

Referensi musik yang beragam—baik dari saat masih aktif di band rock psikedelia, atau produser techno bertangan dingin asal Barat dan Utara, serta apapun di antaranya; semua masuk ke dalam radar mereka.

Jangan terkejut kala melihat ungkapan “psikedelia” di atas. Awalnya memang begitu, setidaknya bagi Koni dan Jojo. Selepas band Black Mustang, keduanya terus bermusik dan berbagi session meskipun tidak tinggal di satu kota.

Alih-alih setia pada petualangan psikedelia dan distorsi, godaan musik elektronik ikut tumpah ke dalam sesi-sesi mereka itu. Dari warna dominan yang baru ini, lahirlah Sunmantra di tahun 2012.

Sebagai Sunmantra, mereka memulainya secara perlahan. Grup tersebut memainkan musiknya lintas klab. Lalu, mulai melintas kota. Sekarang, baik itu EP, remix ataupun trek orisinal; mereka telah menemukan ruang-ruang untuk menyambungnya ke telinga yang tepat.

Cicipi rilisan ternyarnya, EP Astral Turf yang memuat dua trek orisinal serta remix dari Roe Deers (LIT) dan Niv Ast (ISR), yang dirilis via Nein Records (UK).

3. Gabber Modus Operandi

Saat melacak genesis duo Gabber Modus Operandi (GMO), kita perlu mundur ke era di mana Kasimyn (eks-United by Haircuts) mulai menjadi DJ di deret celah kancah punk Pulau Bali. Musiknya tidak kenal ampun. Ngebut, 200 BPM.

Lalu, ada juga Ican Harem yang merantau dari Aceh (sempat berdomisili di Yogya, aktif dalam dunia seni dan skena noise), yang baru pindah ke Bali. Dia sama liarnya, sama ngebutnya.

Pada 2018, mendaratlah keduanya di lingakaran punk Pulau Dewata, lepas landas, dan mengudara menjadi GMO, sebuah wujud akulturasi budaya lokal, internet, dan barat yang menggila.

Musik, bisa dikatakan, hanya setengah dari GMO. Menakar mereka sebagai grup musik “saja” merupakan sebuah understatement.

Aksi panggung mereka terlihat wajar: belingsatannya Ican melepas tarian setengah trance dengan kostum punk industrial sembari menjeritkan umpatan sadis, mampu merebus darah penonton. Di balik deck, Kasymin yang berperan besar. Ia meletupkan suara brutal katarsis, dan irisan budaya populer yang disajikan dalam wujud paling beringas.

Hardcore techno (atau gabber), musik tradisional lokal Indonesia, black metal, dangdut, noise, punk; semuanya aktif hadir di sound GMO secara intens. Mengutip ucapan Kasymin kepada Bandcamp:

“Indahnya bermusik bagi kita adalah limitasinya. Kita bisa berhenti kapanpun jika sudah terlalu barat, atau terlalu lokal. Kita ada di tengahnya.”

Maka begitu pula rasanya mendengar album-album GMO seperti PUXXXIMAX! (2018) atau yang teranyar, HOXXXYA (2019), rasanya memang seperti tengah berada di tengah badai yang siap meratakan semuanya.

4. Jeslla

Jeslla memang diisi oleh dua perempuan, tapi tidak berarti musik mereka dipastikan cerah-cerah saja. Digawangi oleh Gabriella Puteri Miranda (vokal, piano, synth) dan Jesslyn Juniata (vokal, synth); duo elektronik ini tidak hadir dengan unsur pop yang wajar. Sebagai tolak ukur, musik mereka berkiblat pada nama-nama macam Bjork, Radiohead, Nerve, serta Son Lux. Jadinya? Dingin, mengawang, dan penuh ruang.

Mereka membentuk Jeslla pada 2017, keduanya menggambarkan Jeslla sebagai sebuah “manifestasi kesadaran perempuan yang jauh lebih gelap dan mendalam.” Lirik tajam dan instrumentasi pekat menyusun “ciri khas” dan pondasi yang kokoh. Synth berlapis-lapis dan kaya tekstur bersanding manis dengan ketajaman pukulan drum machine, menghadirkan nafas artifisal yang apik ke dalam musiknya.

Sudah ada beberapa rilisan yang dimajukan Jeslla, seperti single “Coldwave” yang menempatkan mereka di jagad musik independen. Cicipi juga materi terbaru Jeslla, EP Un. Repertoar kecil EP ini dilengkapi oleh empat lagu beruang “luas”. Sedikit spacy, mengawang, dan "tragis". Jesslyn dan Gabriella menumpahkan spektrum gelap dalam pendar musik pop, dan kehadiran warna baru ini terasa tepat waktu.

5. Random Brothers

Modular memang menakutkan. Selain kerumitan kabel yang intimidatif, instrumen ini juga membutuhkan pengorbanan finansial signifikan. Namun, berbekal kecintaan terhadap musik elektronik, dan instrumen analog itu, Randy Danistha (Nidji) dan adiknya, Nara Anindyaguna membentuk duo elektronik Random Brothers. Bagi keduanya, duo ini menjadi laboratorium eksperimen yang luas.

Random Brothers berawal dari sebuah taruhan simpel, sebentuk kompetisi kakak-adik. Merujuk wawancara mereka dengan Globetrotter, duo ini lahir dari sebuah taruhan untuk membuat lagu: yang lebih dulu rampung dapat tiket gratis ke Australia.

Lepas setahun, tidak ada yang mampu menyelesaikannya. Alhasil terduduklah mereka dan berujung menggarapnya bersama. Bekerja sama, materi itu beres hanya dalam sehari, dan semenjak itu, Random Brothers menjadi kendaraan musik bersama.

Chemistry keduanya kerap melahirkan musik gelap, gritty, dan agresif. Terdengar juga ruang eksplorasi yang acap disetir ke arah industrial, elektro, dan synthwave. Contoh EP Stalk (2017) atau single Random Eyes ( “Growth” dan “Random Eyes”). Seperti inilah umpan silang adik-kakak ini.

Namun, dalam materi terbaru mereka, Random Ambient 001 (2019), Random Brothers seraya membuktikan bahwa grup tersebut memanglah sebuah lab eksperimen: kali ini pendekatan ambient dimajukan, berkebalikan dengan spektrum musik mereka selama ini.

Nama-nama ini menjadi sedikit dari lapisan komunitas musik elektronik yang sekarang tengah meramaikan belantika musik Indonesia. Tentunya, kematangan lima grup ini mampu menjadi gambaran terkait sudah seberapa jauh musik elektronik berkembang di Indonesia. Siapa yang menurut kalian juga patut untuk ditempatkan ke dalam daftar ini?

1 COMMENTS
  • Rckystwn

    Mantap..lumayan nambah wawasan

Info Terkait

superbuzz
108 views
superbuzz
42 views
superbuzz
403 views
superbuzz
216 views
superbuzz
195 views