album baru

Deretan Album Internasional Terbaru yang Rilis di Masa Pandemi

  • By: NND
  • Selasa, 12 May 2020
  • 2657 Views
  • 4 Likes
  • 2 Shares

Beberapa bulan terakhir, kita hidup dalam situasi yang cukup mencenangkan. Mewabahnya pandemi mengharuskan kita melakukan masa swakarantina, selama itu pula himbauan untuk #dirumah aja diterapkan di berbagai negara. Dari sana, tentu muncul pula pembatasan lain, seperti larangan keramaian yang menyebabkan tidak ada panggung musik--apapun itu bentuknya.

Namun, tidak bisa manggung bukan berarti tidak bisa pula merilis album. Ya, dalam kesempatan ini, SUPERMUSIC telah menrunutkan beberapa nama musisi luar yang merilis album selama masa swakarantina ini diterapkan. Mungkin lagu-lagu mereka mampu menjadi hiburan di masa karantina kalian? Baca lengkapnya, di bawah ini!

***

1. Sad Happy - Circa Waves

Awalnya direncanakan sebagai dua EP yang dirilis terpisah, Circa Waves memutuskan untuk menampung kedua materi tersebut--Sad dan Happy--menjadi double album terbarunya, duduk di nomor empat dalam diskografi unit indie rock asal Liverpool, Inggris ini. Double album tersebut menjadi yang pertama dalam daftar kita, Sad Happy resmi dirilis pada tanggal 13 Maret 2020 kemarin.

Di mana album sebelumnya (Young Chasers, 2015) menampilkan Circa Waves yang energetik ala kugiran garage yang tak jauh beda dari idolanya, The Strokes. Di album keempat ini penulisan lagu sang frontman Keiran Shudall dibidik ke arah yang lebih personal. Sad Happy adalah bukti pendewasaan Circa Waves,  ia hadir melalui dua tema besar dalam kehidupan manusia, yakni sad dan happy, serta transisi yang terjadi di antaranya.

2. Gigaton - Pearl Jam

Ingatkah kalian, beberapa bulan terakhir sebelum pandemi, dunia terus menerus dikejutkan oleh keberanian dan karisma aktivis lingkungan belia Greta Thunberg? Bahwa topik lingkungan hidup sudah sampai di titik yang menkhawatirkan bukan rahasia lagi, dan banyak dari kita yang sudah mulai bersuara secara lantang, mendesak pemimpin dunia untuk mulai memikirkan efek jangka panjang dari permasalahan besar ini.

Begitu pula jadinya dengan album terbaru senior Seattle sound Pearl Jam, Gigaton, yang rilis pada tanggal 27 Maret 2020. Bahasan utamanya adalah iklim, dan Eddie Vedder cs membahasnya dengan cara yang lantang--sangat lantang. Album ke-11 dari Pearl Jam juga membuka palet musik yang lebih luas. Siapa bilang musik keras ala Pearl Jam harus melulu dengan sound grunge yang ikonik? GIgaton juga menampilkan kebolehan mereka dalam “berubah”. Mungkin, ia juga berlaku sebagai pesan bagi kita semua untuk merubah cara pikir dan gaya hidup kita untuk bumi yang lebih baik?

3. It Is What It Is - Thundercat

Kepergian Mac Miller di tahun 2019 kemarin memang merupakan kehilangan besar dalam dunia musik secara umum. Thundercat, bassist handal yang juga seorang kolaborator penting dalam karir Mac Miller, memberikan ode kepada sang mendiang rapper dengan album follow-up dari Drunk (2017) yang judulnya diambil dari lagu “What’s the Use” dalam album Swimming (2018) milik Mac. Bertitel It Is What It Is, album itu dirilis pada tanggal 3 April 2020.

Menilik isinya, It Is What It Is banyak bercerita tentang rasa duka ketika kehilangan seseorang untuk selamanya, tema tersebut sering dijumpai dalam 15 track yang mengisi repertoarnya. Namun diluar bahasan sungkawa, album ini menampung banyak kolaborasi apik, mulai dari Kamashi Washington, Badbadnotgood, Childish Gambino, dan masih banyak lagi.Ia juga kembali mendapuk partner andalan Thundercat, yakni Flying Lotus sebagai produsernya.

4. Wake Up, Sunshine - All Time Low

Berikutnya, kita punya pahlawan pop-punk All Time Low yang juga kembali dengan album baru di tanggal 3 April 2020 kemarin. Mereka hadir dengan Wake Up, Sunshine, sebuah album berisikan 15 track yang menampilkan kembalinya All Time Low ke jalur pop punk, usai menyusuri kancah pop mainstream melalui album terakhir mereka tiga tahun silam (Last Young Renegade, 2017).

Meski begitu, “kembali”-nya All Time Low ke kancah pop-punk tidak dengan tangan kosong. Mereka membawa pulang apa yang didapat dari perjalanan singkat mereka ke jalur pop mainstrain, yakni hook yang catchy dan energi positif yang hadir darinya. Di album ke delepan ini, hal tersebut dimasak ulang dengan apa yang pertama kali membuat mereka dikenal luas--yakni intensitas. Hasilnya cukup menghibur, terutama sembari mendalami pesan-pesan positif dan self-acceptance yang digendong sepanjang album.

5. Heaven to a Tortured Mind - Yves Tumor

Bunglon dalam dunia musik, itulah Yves Tumor. Sekiranya dua album pertamanya, yakni Serpent Music (2016) dan Safe in the Hands of Love (2018) belum cukup membuktikan pernyataan tersebut, hadirlah album ketiga, Heaven to a Tortured Mind pada tanggal 3 April 2020 sebagai pembuktian yang memperkokoh musikalitas luasnya itu. Ketika Serpent Music bermain dengan eksperimentasi musik soul, dan Safe in the Hands of Love dengan pop; album baru ini bak menyatukan semua itu menjadi sebuah kolase suara yang apik.

Sean Bowie, sosok di balik moniker Yves Tumor, menciptakan album yang terdengar futuristik, namun tetap memiliki groove layaknya pop dan R&B. Ia juga hadir dengan produksi suara yang jauh lebih jernih dari sebelumnya, menjanjikan pengalaman mendengar yang surreal bagi mereka yang gemar musik eksperimentasi.

6. The New Abnormal - The Strokes

Sebagai salah satu rilisan yang paling ditunggu-tunggu di bulan April 2020, grup garage rock revival favorit era 2000-an ini kembali dengan album baru setelah bungkam tujuh tahun dari Comedown Machine di tahun 2013 lalu. Banyak yang memperdebatkan bahwa dua album terakhirnya, yakni Angles (2011) dan Comedown Machine, menampilkan the Strokes yang tidak begitu maksimal--layaknya kehilangan arah.

The New Abnormal selaku album keenam Julian cs kembali memeluk ambisi yang sama dalam dua album terakhir mereka itu. Bedanya, kali ini mereka mampu mengemasnya dengan tepat. Rilis tanggal 10 April 2020 kemarin, adalah halaman baru the Strokes yang tentunya memberikan nafas segar dalam diskografi mereka. Melankolia tidak lagi disembunyikan dalam satu-dua lagu sebagaimana album the Strokes sebelumnya. Di album ini, penulisan lagu Julian Casablancas terasa lebih jujur dan terbuka. The New Abnormal memang jauh dari takaran “normal” para fans album awal grup asal New York ini, namun ketikanya diresapi, ia mampu memberikan tampilan the Strokes yang bermain dengan kualitas penuh, dengan arahan yang jelas.

***

Itulah beberapa album yang kemarin sempat di rilis di masa-masa karantina ini, tentu masih banyak lagi album-album yang baru yang patut didengarkan, yang tidak sempat dimasukan ke dalam daftar ini.

Menapak ke bulan Mei 2020, kita juga sudah disambut beberapa album baru yang menarik. Alt-rockers kenamaan asal Amerika, Car Seat Headrest kembali dengan album baru bernafas segar, yang mengkorporasikan elektronika ke dalam aransemennya; adapula aksi shoegaze I Break Horses dalam album terbarunya  Warnings selaku dua album highlight di minggu pertama bulan ini. Nantinya, Mei 2020 juga menjajikan banyak rilisan seru seperti Alicia Keys, Lady Gaga, Charli XCX, Weezer, The 1975, The Killers, dan masih banyak lainnya. Pantau terus rilisan-rilisan menarik ini, hanya di SUPERMUSIC! Apa album favorit lo, yang mana bro?

0 COMMENTS