Eksistensi Aransemen Sederhana Manner House Menjawab Pandemi

Eksistensi Aransemen Sederhana Manner House Menjawab Pandemi

  • By:
  • Jumat, 4 December 2020
  • 648 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Di pertengahan hingga akhir tahun 2020 menjadi titik terendah produktivitas setiap lapisan masyarakat di Indonesia maupun di Luar Indonesia, dunia hiburan lah yang pertama merasakan penurunan produktivitas dan para pekerja seni pun menjadi korban keadaan di masa pandemi yang sampai saat ini belum diketahui ujungnya. Manner House menjadi salah satu korbannya, di masa pandemi ini Manner House harus mengurungkan segala kegiatan aktivasi langsung dan otomatis juga hilangnya jadwal manggung on air dan off air. Dengan berbagai macam masalah dan akibat dari pandemi ini, Manner House berusaha menjadikan hal tersebut menjadi sumber ide dalam berkarya dengan tujuan musik mereka bisa mengingatkan dan berguna untuk diri sendiri juga mereka para penikmat musik yang mendengarkan di luar sana.

Terdapat 4 (empat) lagu dalam EP (Extended Play) Manner House yang menjadi pengingat di masa pandemi ini yang nantinya akan dirilis pada Jumat, 20 November 2020. Berikut track yang akan dirilis dalam EP yang bertajuk “A Reminder Not Just For Me, Maybe”:

  1. Please, Don’t Ever, Disappear
  2. Forgotten Sea
  3. Twisted Acolyte
  4. Apalah Waktu di Abad 21?

“Apalah Waktu di Abad 21?” adalah track yang akan diandalkan Manner House pada saat perilisan debut EP nantinya. Tidak hanya rangkaian lirik dalam lagu yang menjadi media pengingat di masa pandemi ini, konsep artwork yang sederhana namun penuh dengan arti juga ambil bagian memperkuat pesan yang ingin disampaikan oleh Manner House ke publik. Personil Manner House, Esa Perkasa dan Zulfikar Azhar mengenakan balutan jubah yang menutupi hingga bagian mulut seolah menggambarkan keadaan saat ini dimana seluruh masyarakat diwajibkan menutup mulut dan hidung (menggunakan masker) saat beraktivitas sehari-hari. 

Di dalam pembuatan EP tersebut Manner House juga berkesempatan untuk mengajak beberapa musisi lain untuk berkolaborasi dan berkarya bersama. Hal tersebut menjadi eksperimen baru yang dilakukan Manner House dalam menciptakan karyanya. Sebut saja Bagus Bhaskara seorang singer juga songwriter berbakat asal Bali ambil bagian dalam pembuatan track 1. Nama kedua yang berkesempatan mengisi di track 2 Manner House adalah seorang singer juga songwriter asal Jakarta Nisa Haryanti dan Virdania singer dan songwriter asal Jakarta menjadi nama selanjutnya yang diajak dalam pembuatan track 3 EP milik Manner House.

Tidak berhenti disitu, deretan musisi lainnya yang juga berkolaborasi dalam debut EP yang dirilis pada 20 November itu adalah Bhanu Marais sang vokalis dari band ILOA ikut mengisi track terakhir dalam EP karya “A Reminder Not Just For Me, Maybe” ini. Tujuan yang diinginkan dengan adanya kolaborasi ini adalah Manner House ingin lebih mengenal musisi-musisi lain diluar sana dan juga saling berbagi exposure yang bisa sangat membantu satu sama lain sesama musisi. Disisi lain berkolaborasi juga sangat membantu merangsang ide dan produktivitas yang menurun di masa pandemi yang masih berlanjut seperti sekarang ini. 

Pada track 4 lagu yang berjudul “Apalah Waktu Di Abad 21?” Manner House mencoba mengangkat sesuatu yang sering dilupakan semua orang untuk dihayati namun sering muncul pula dalam benak. Bersyukur terhadap waktu yang diberikan Tuhan ialah pesan yang coba untuk diingatkan kepada diri sendiri juga kepada orang lain dalam lagu “Apalah Waktu Di Abad 21?”. Di dalam lagu ini juga Manner House melakukan banyak harmoni dari banyaknya keunikan suara musisi yang berkolaborasi bersama dalam lagu tersebut. Mengangkat konsep musik yang sederhana, disini Manner House juga sengaja menghadirkan repetisi reff yang banyak seolah ingin mencoba untuk memberikan sugesti kepada para pendengarnya tentang pertanyaan dan jawaban secara bersamaan yang mereka coba asumsikan di lagu “Apalah Waktu Di Abad 21?”.

Di dalam track yang lainnya pun juga mengangkat tema yang sama yaitu sebagai pengingat dengan nuansa musik unik dan sederhana. Seperti dalam lagu yang berjudul “Please, Don’t Ever, Disappear” aransemen simple juga karakter sound yang unik, mengangkat nuansa penyesalan juga pengharapan yang tersampaikan tulus untuk orang yang sudah tidak lagi bersama saat ini. Lain lagi dalam lagu “Forgotten Sea” unsur piano akan sangat mendominasi di telinga para pendengarnya yang akan membawa pendengar seperti mengambang-ngambang di setiap detik lagu ini. Unsur emosionalitas dalam lagu ini juga sangat tinggi terasa di setiap not yang dimainkan. Berbeda 180 derajat, ketika mendengarkan track yang berjudul “Twisted Acolyte” disini aransemen lagu dibuat dengan sentuhan elektronik berpadu dengan gitar yang seimbang saling mengisi satu sama lain, lagu ini melengkapi eksplorasi musik yang coba disajikan Manner House. 

EP yang bertajuk “A Reminder Not Just For Me, Maybe” ini memiliki banyak warna dari nuansa musik sederhana yang berbeda-beda dan kolaborasi musisi yang beragam latar belakangnya membuat debut EP kali ini lebih unik juga berkarakter. Dari semua warna dalam debut EP tersebut kesederhanaan dan kejujuran menjadi warna yang paling bisa dirasakan di setiap track. Sama seperti rangkaian yang sebelumnya dilakukan, Manner House memberi kesempatan kepada penikmat musiknya untuk bisa mendengarkan lagunya bahkan sebelum dirilis dalam platform musik digital. Seperti 14 November 2020 disiarkan secara eksklusif kepada pendengar di GTV. Menggunakan cara khas yang kreatif, Manner House dan tim membuat media Installation Box yang bekerja sama dengan Rumput Cafe (cafe di Bandung) untuk hearing session pun telah berhasil dilakukan.

0 COMMENTS