Emo Night

Emo Night: Sejarah, Semangat, dan 'Kasus'-nya

  • By: NND
  • Rabu, 19 June 2019
  • 1176 Views
  • 4 Likes
  • 0 Shares

Belum lama ini istilah "emo night" sedang marak dibicarakan di Jakarta. Pada dasarnya, emo night sendiri merupakan sebuah acara berkonsep karaoke massal dengan DJ Set yang memainkan lagu-lagu emo secara luas.

Kasus "emo night" ini marak ketika salah satu penggerak acara emo night di Jakarta mengklaim pengunaan istilah "emo night" tersebut, sebagai sebuah produk kebudayaan dan istilah umum, serta bukan istilah otentik yang dikeluarkan oleh pihak yang mengklaim. Banyak yang ikut angkat bicara dan mengkritik klaim tersebut; beberapa diantaranya merupakan musisi, ataupun sosok yang berkutat dalam skena musik independen Jakarta, atau bahkan dari kota lain.

Melalui unggahan Instastory di Instagram, pihak Crowdsurfers.id mengumumkan klaimnya atas istilah tersebut. Hal itu kemudian menyulut banyak pertentangan pendapat, yang akhirnya berujung dengan permohonan maaf via unggahan foto pada feed mereka.

Tercantum dalam permohonan maaf tersebut, pihak Crowdsurfers.id meluruskan klaim mereka—menyatakan bahwa klaim yang diajukan tidaklah diarahkan kepada istilah "Emo Night" dan "Emo Night JKT", melainkan "Emo Night JKT by Crowdsurfers.id"; sebuah hal yang jauh berbeda ketimbang yang mereka umumkan via Instastory. Melalui permohonan maaf dan pembenaran ini, kolom komen tetaplah menjaring ribuan komentar dari netizen. "Emo Night" menjadi sebuah topik yang hangat dibicarakan karena

Dengan begitu, SUPERMUSIC hendak mereka ulang sejarah kelahiran emo night, dari mana asalnya, bagaimana semangatnya, dan apa yang dijalankan hingga sekarang; semua itu, melalui tulisan berikut.

***

Merujuk sejarahnya, Emo night paling pertama yang pernah tercatat dimajukan dengan nama "Diary" sebuah acara garapan penulis Pitchfork pada tahun 2009 yang tidak menggunakan nama "Emo Night" sama sekali di dalamnya; "Emo Night" hanya digunakan oleh "Diary" untuk menjelaskannya kepada pihak luar yang baru sekali datang ke acara tersebut. Namun untuk contoh, ada baiknya bahasan ini dikupas dengan Emo Nite L.A.

Salah satu emo night dengan nama paling prominen adalah Emo Nite L.A.—yang sempat terlibat kasus serupa dengan crowdsurfers.id di Jakarta terkait klaim—yang pertama kali digarap oleh tiga orang teman: T.J. Petracca, Morgan Freed, dan Barbara Szabo. Dengan niat mengadakan acara "party di bar" yang memainkan musik-musik yang mereka gemari, diusunglah Emo Nite L.A. pertama yang disebarluaskan hanya melalui Facebook pada akhir tahun 2014. Melihat antusiasme yang tinggi dari acara pertama itu, mereka mulai menggelarnya secara serius.

"Kita buat event tersebut di Facebook, dan tanpa disadari, 500 orang hadir," Terang Petracca kepada Rolling Stone AS. "Kita buat lagi acara serupa di bar Echo Park, dan hal yang sama juga terjadi. Bahkan, lebih ramai lagi yang datang."

Hingga acara ketiga mereka, Emo Nite L.A. berhasil menggandeng Mark Hoppus sebagai guest DJ karena penerimaan yang baik oleh publik. Kedatangan bassist dari band pop-punk veteran itu membantu membuat nama Emo Nite L.A. semakin melambung tinggi. Dengan begitu, tertanamlah komunitas emo night di L.A., yang memiliki massanya sendiri. Secara garis besar, seperti inilah biasanya emo night lahir dan menjadi sebuah komunitas—berawal dari kecintaan terhadap musik yang dulu menyokong masa pendewasaan.

Mark Hoppus (Sumber foto)

Dari hal ini, dapat ditarik garis bahwa emo night sendiri merupakan sebuah produk yang lahir dari kecintaan terhadap sebuah musik. Sebagai sebuah acara yang lahir dari semangat bawah tanah yang memegang teguh ideologi independen yang masih ingin bebas (dipasarkan via Facebook, memainkan lagu-lagu kesukaan pribadi milik musisi kenamaan, dll).

DJ Set, sebagai atraksi utama dalam emo night, memudahkan pemutaran lagu-lagu yang dimainkan. Berbeda dengan band yang harus rehearsal terlebih dahulu; dengan DJ set, lagu-lagu yang dimainkan terbebaskan dari limitasi 'harus latihan dulu' dan semacamnya. Dalam segi produksi, persiapan juga jauh dimudahkan karena hanya membutuhkan DJ set dan speaker yang mumpuni. Bermodalkan hal-hal tersebut, emo night sudah dapat digelar. Itu, dan playlist yang tentunya dapat relate oleh crowd yang hadir.

Dalam penggarapannya, emo night hampir selalu dapat menjaring massa yang masif. Konsep yang dimajukan inilah yang menjadi daya tariknya. Lagu-lagu nostalgia dapat memikat keramaian untuk bersenang-senang secara bersama. Pengunjung, yang biasanya berkisar dari umur 20-an hingga 30-an, memiliki relevansi yang kuat dengan lagu-lagu yang dimainkan, sehingga menjadi sebuah konsep alternatif dalam jajaran acara yang dewasa ini menjadi sorotan utama skena bawah tanah; seperti gigs dan party yang ada pada umumnya.

Emo night menjadi sebuah acara yang cukup fenomenal karena kerap membuka ruang dan sarana bernostalgia melalui karaoke massal. Lagu-lagu yang dimainkan, bagi sebagian banyak orang, merupakan lagu yang dulu menghiasi masa remaja atau ketika menghadapi pendewasaan. Mengunjungi lagu-lagu tersebut dengan format nyanyi bersama tentu menawarkan daya tarik yang cukup menghibur. Emo night yang kerap dihadiri bersama teman-teman juga menjadi senjata utama yang memancing keramaian tersebut.

Selain nostalgia, lagu emo—dengan segala konten liriknya—menjadi sebuah ranah yang sering dikunjungi oleh individu-individu yang terisolasi. Emo night hadir menawarkan sebuah konsep "komunitas" dalam kehidupan individu-individu yang kerap menepis konsep tersebut. Hadirnya komunitas yang berangkat dari musik yang sama inilah yang kemudian dapat menjaring para individu tersebut untuk berkumpul bersama; satu lagi alasan mengapa emo night selalu ramai ketika digelar.

Namun, tidak hanya L.A. yang memiliki emo night, blog musik Washed Up Emo sudah menjalankan Emo Night NYC semenjak tahun 2011. Chicago, Brooklyn dan Boston juga memiliki emo night-nya sendiri; begitu juga Cleveland, Nashville, Philadelphia, dan juga kota-kota lainnya diluar Amerika. Di Asia, Singapura merupakan salah satu negara/kota yang memiliki emo night yang besar. Beberapa tahun terakhir ini, kota-kota besar di Indonesia sudah mulai menggelar emo night. Jakarta, sebagai ibukota, menjadi salah satu kota yang cukup sering mengadakannya.

Bagi emo night besar seperti L.A., Brooklyn dan Boston; mereka telah melakukan apa yang menjadi kasus di Jakarta kemarin: klaim (Perlu diketahui bahwa, klaim mereka atas "Emo Night" pun sudah mati semua, cek di sini).

Klaim barulah menjadi sebuah aspek yang penting ketika konflik telah muncul, sebagaimana terjadinya di sana. Pendiri-pendiri emo night, contoh Emo Night Brooklyn, kerap melepas tur keliling kota dan membuat party-nya itu di setiap kota yang mereka kunjungi. Tak jarang, kota-kota tersebut juga memiliki emo night-nya sendiri. Disinilah klaim dapat memiliki fungsi yang jelas. Unsur "pertahanan" yang muncul dari klaim terasa dibutuhkan ketikanya sampai pada permasalahan serupa. Menyitir apa yang diberitakan oleh Vanyaland.com, Emo Night Brooklyn sempat terjalin konflik dengan Emo Night Boston; ada unsur klaim yang diangkat, namun keduanya pun tidak memiliki klaim atas nama Emo Night.

Beda kisahnya dengan yang terjadi di Nusantara. Di Jakarta sendiri, terdapat beberapa pihak yang kerap menggagas emo night; dan hingga sekarang, belum ada konflik yang muncul dari adanya beberapa aktor dalam satu kota itu, Entah tidak ada, atau tidak sebesar itu konfliknya hingga terdengar. Emo night di Indonesia dianggap sebagai sebuah produk dari kebudayaan—sama seperti di luar, sebenarnya; dan semua, baik anak kuliahan hingga kolektif yang sudah mapan, dapat menggarap acara serupa. Konflik, mungkin, baru akan terjadi ketika tanggal acaranya bersamaan atau bersebelahan, tapi itupun jarang terjadi mengingat bentuknya yang merupakan sebuah "alternatif" dari apa yang sewajarnya ada.

Emo Night Jakarta & Bandung

Di Indonesia, terutama di Jakarta, keputusan sebuah pihak penyelenggara untuk mengklaim emo night bersamaan dengan nama mereka sendiri sebenarnya tidak terlalu "membahayakan" para penyelenggara lainnya. Mungkin beberapa di antaranya akan jadi sedikit lebih berhati-hati untuk tidak melanggar apa yang mereka klaim; namun secara keutuhan, emo night masih dapat digelar secara bebas sebagaimana selama ini dijalankan di Jakarta, dan di Indonesia.

Klaim yang dilepas oleh Crowdsurfers.id merupakan bentuk awal dari apa yang sempat terjadi di kota-kota besar Amerika. Namun, di Indonesia, hal tersebut mungkin belum diperlukan. Entah belum, atau mungkin tidak akan pernah, karena semangat bawah tanah dari para penggerak yang (masih) kental.

Mengutip tulisan Vice dalam artikel serupa terkait Emo Nite L.A. dan klaim, "Mencoba mengklaim sebuah genre itu sangat menyedihkan, bahkan untuk emo sekalipun."

***

Sekian bahasan SUPERMUSIC terkait isu “emo night” yang sedang marak-maraknya di kancah musik independen Jakarta. Bagaimana pendapat kalian terkait fenomena ini? Suarakan di kolom komentar di bawah!

*Sumber foto Emo Nite LA

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
267 views
superbuzz
454 views