Equal Vision Records: Rumah untuk Musik Punk hingga Rock Psychedelic

Equal Vision Records: Rumah untuk Musik Punk hingga Rock Psychedelic

  • By:
  • Jumat, 16 April 2021
  • 54 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Semangat did it yourself (DIY) telah membawa Ray Cappo menuju perjalanan yang luar biasa di industri musik. Berawal dari upaya merilis karya-karya musik dari band garapannya di tahun 1991, Ray Cappo akhirnya mendirikan sebuah label rekaman indie yang berbasis di New York Amerika Serikat dengan nama Equal Vision Records (EVR).

Kisah ini bermula ketika Ray Cappo hengkang dari band hardcore punk Youth of Today pada 1990. Sebagai bentuk perpisahan, Ray Cappo dan Youth of Today merilis mini album berisikan empat lagu. Ketika sudah tak lagi bersama Youth of Today, Ray Cappo mulai tertarik memperdalam kepercayaan Hindu.

Ray Cappo lantas memutuskan untuk membuat sebuah album sebagai bentuk ekspresi atas keyakinannya di bawah naungan band baru bernama Shelter. Karena pesan-pesan yang berorientasi pada agama Hindu dalam liriknya, subgenre Shelter telah dijuluki oleh beberapa orang sebagai krishnacore.

Dalam upayanya merilis karya-karya dari Shelter, Ray Cappo kemudian membentuk label rekaman Equal Vision Records. Di bawah naungan label rekamannya, Ray Cappo merilis beberapa single dan album Shelter seperti album keempat bertajuk Quest for Certainty pada 1992.

Seiring waktu Ray Cappo menjadi sangat sibuk dengan Shelter untuk menjalani serangkaian tur hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjual Equal Vision Records kepada koleganya. Tidak lain tidak bukan, orang yang melanjutkan tongkat estafet label ini adalah manajer Equal Vision Records saat itu, Steve Reddy.

Alasan lain Ray Cappo akhirnya memutuskan melepas tampuk kepemimpinannya. Saat itu, Equal Vision Records yang didanai sendiri olehnya mulai menemui kesulitan dalam menjalankan operasional perusahaan. Dari sana, Ray Cappo memutuskan Equal Vision akan lebih baik dijalankan oleh seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengabdikan 100 persen dari waktunya untuk label.

https://www.instagram.com/p/CMfoH6Xsy3J/

“Setelah tur Youth of Today terakhir, Ray pindah ke India untuk sementara waktu dan saya tinggal di kuil Krishna,” kenang Reddy yang dilansir dari laman resmi Equal Vision.

“Saya ingin menikah dan saya harus mencari cara untuk mencari nafkah bagi diri saya sendiri. Sementara itu, Ray memulai Shelter dan saat mereka membuat rekaman kedua, mereka muncul dengan ide agar saya menjalankan label sehingga mereka dapat fokus pada band, dan itulah cara saya terlibat," ujarnya.

Equal Vision yang pada awalnya dianggap sebagai rumah bagi album Ray Cappo bersama Shelter serta berbagai artis lain yang dipengaruhi oleh Krishna Conscious dalam dunia musik hardcore, mulai memperluas fokusnya dan variasi band yang lebih luas.

“Ide awal saya adalah kami akan berpegang teguh pada apa yang kami yakini. Kami adalah band yang beraliran Krishna, jadi apa? Kami akan menggelar pertunjukan dan mulai bernyanyi dan membagikan makanan. Itu saja. Tapi kemudian saya kehilangan Shelter yang menandatangani kontrak dengan (label rekaman) Roadrunner, jadi kami harus mengambil pendekatan yang berbeda karena tidak banyak band Krishna yang ada," jelas Reddy.

"Jika kami ingin bertahan, kami harus mencoba sesuatu yang berbeda. Saya akhirnya bertemu Josh Louka dari Shift dan sangat menyukai bandnya. Saya meyakinkan dia untuk mengizinkan kami mengeluarkan rekamannya. Mereka bergabung dengan kami dan rekaman itu membuat bola menggelinding dalam hal masuknya band-band non-Krishna (di Equal Vision),” ungkapnya.

Melalui tangan dingin Reddy membikin Equal Vision Records menjadi salah satu label hardcore utama di tahun 90-an dengan merilis band-band bawah tanah macam 108, Ten Yard Fight, One King Down, Bane, hingga Converge. Titik balik bagi Equal Vision Records ketika merilis album debut band melodic hardcore Save The Day pada 1998.

Rilisan itu membantu Equal Vision Records beranjak keluar dari skena hardcore underground dan masuk ke era emo dan post-hardocre yang di pertengahan 90-an sedang berkembang.

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Equal Vision Records (@equalvision)

 

"Ketika saya pertama kali bekerja untuk Equal Vision Records pada 1998, album Save the Day pertama telah dirilis beberapa bulan sebelumnya dengan respons yang beragam,” kenang manajer EVR Dan Sandshrew.

“Sejak itu label ini telah berkembang keluar dari dunia hardcore menuju setiap genre musik. Keragaman yang ada di dalam label adalah kunci pertumbuhan EVR. Label apa pun yang berfungsi dalam satu genre tertentu sedang menyiapkan dirinya untuk menjadi sarang merpati (stagnan),” ujarnya.

Perkembangan signifikan Equal Vision Records memang didukung oleh keberanian mereka menaungi berbagai macam genre musik dan mengikuti perkembangan dan dinamika industri musik. Hal ini dibuktikan ketika mereka mengeluarkan album debut Coheed & Cambria "The Second Stage Turbine Blade pada tahun 2002.

Dari situ, EVR terus berkembang dengan merilis band-band macam Armor For Sleep, Fear Before the March of Flames, The Fall of Troy, Chiodos, Circa Survive, dan band-band populer tahun 2000-an lainnya, sambil tetap setia pada akar mereka dengan lebih banyak rilisan hardcore underground dan post-hardcore seperti American Nightmare, Boysetsfire, hingga Hot Cross.

Pada akhir 2000-an, Equal Vision Records semakin bercabang dan mulai memasuki ranah folk dan rock psychedelic dengan rilis dari The Snake The Cross The Crown, Portugal. The Man, hingga Dear and the Headlights.

Untuk terus mengikuti perkembangan arus musik, pada 2015 Equal Vision Records bekerja sama dengan produser Will Putney untuk meluncurkan Graphic Nature Records sebagai label imprint dari EVR. Langkah ini bikin EVR bisa merekrut band baru menjanjikan seperti All Get Out, Capsize, Glacier Veins, Lume. Selain itu, EVR membantu menghidupkan kembali karier band-band post-hardcore tahun 2000-an seperti Hopesfall dan As Cities Burn.

Kini Equal Vision Records sudah beroperasi selama 30 tahun. Bagi Reddy kunci sukses perjalanan label rekaman buatan Ray Cappo itu adalah mampu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman antara label dengan artis.

“Saya ingin band memiliki pengalaman yang baik dengan Equal Vision. Uang apa pun yang dihasilkan tidak cukup untuk menutupi kesan jika seseorang disakiti. Memiliki pengalaman yang baik dari kedua belah pihak adalah tujuannya," ungkap Reddy.

“Saya tidak pernah terpikirkan untuk membuat label selama ini dan menjadi sebesar ini. Saya berhutang budi kepada orang-orang yang sangat peduli dengan label seperti saya — karyawan disini dan band yang mengambil kesempatan untuk mengejar keahlian mereka," pungkasnya.

 

Image source: Instagram/Equal Vision Records/Ray Cappo

0 COMMENTS