Superorganism

Exclusive Interview: Membedah Keunikan Superorganism

  • By: NND
  • Rabu, 4 September 2019
  • 249 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Sebagai salah satu penampil internasional dalam jajaran lineup Hodgepodge Superfest 2019, Superorganism merupakan grup musik dengan personil yang paling ramai. Selain itu, mereka juga memiliki musik yang—bisa dibilang—paling unik. Lahir dari dan melalui internet, kolektif berisikan delapan orang ini kerap membuat geger pendengarnya melalui sound electro pop yang bercampur dengan aksen indie pop/rock yang juga tak kalah signifikan. Tidak hanya itu, estetikanya yang mencolok dan melenceng dari wajar, ditambah juga dengan kedekatannya terhadap kultur internet, berhasil membuat Superorganism menjadi sebuah band yang cukup “aneh” dan “unik”—dalam artian yang baik, tentunya.

Diberi kesempatan untuk mewawancarai Superorganism secara ekslusif, tim SUPERMUSIC (SMID) pun sempat duduk bersama ketiga personilnya, Harry (H), Tucan (T), dan B usai mereka menyajikan set spektakuler dan penuh kemeriahan di panggung Hodgepodge Superfest 2019. Ekspektasi pengunjung hari itu seperti terbayar tuntas: Superorganism hadir lengkap dengan aksi panggung bertabur koreografi, musik yang meriah dan terasa hidup, Orono (sang vokalis) yang menggemaskan, dan keanehan yang nikmat. Untuk itu, Superorganism perlu dibedah, dan dalam wawancara ini SUPERMUSIC turut serta mengorek keunikan mereka dalam bermusik. Simak wawancara ekslusif kami dengan Superorganism, di bawah ini!

***

SMID:             Great set! Saya menyimak penampilan kalian... meskipun hanya sedikit. Saya hanya dapat menonton dari samping. Terima kasih atas waktu yang kalian berikan untuk wawancara ini.

T,H,B:              Terima kasih!

T:                       Pasti terdengar lucu, ya—mendengar kami tampil dari samping?

H, B:                 Hahahaha!

SMID:             Tidak, kok. Set kalian bagus!

H:                      Terima kasih, ya. (Set) Ini cukup spesial karena merupakan show terakhir dari tur kami.

SMID:             Oh, berarti sehabis ini kalian akan pulang? Ke London, ya? Kalian semua sudah tinggal disana,’kan?

H:                      Iya, betul. Eh, tidak semua sih—Orono juga akan pulang dulu ke Jepang.

SMID:             Nah, mumpung tentang “pulang”... Lagu-lagu pertama dari Superogranism dirilis saat kalian masih tinggal di negara yang berbeda-beda, sekarang sebagian besar dari kalian telah tinggal bersama di bawah satu atap. Bagaimana proses menulis dan merekam lagu bagi kalian sekarang, setelah anggotanya sudah terkumpul?

T:                       Sebenarnya sekarang kita sudah tidak tinggal satu atap lagi, beberapa personel kita sudah pindahan. Jadi, ya kita sudah tidak dalam satu rumah lagi.

H:                      Tapi tinggal dalam satu rumah tidak begitu berpengaruh dalam proses-proses tersebut juga, kok. Cara kami kerja itu selalu sendiri-sendiri, lalu kami saling mengirim apa yang sudah kami buat. Mungkin itu adalah kebiasaan dari awal yang masih terbawa sampai sekarang.

T:                       Kita bahkan masih saling email meski hanya bersebelahan kamar!

SMID:             Jadi peran personal space itu penting bagi proses bermusik kalian, ya?

H:                      Ya, benar sekali. Tapi tetap saja, saya rasa pengaruh yang hadir dari tinggal bersama itu tetap ada. Kita semua lebih sering mendengar musik yang sama. Kita nongkrong, dan berbicara tentang isu-isu yang ada, jadi ya itu ‘kan juga memberi efek kepada prosesnya, jadi mungkin disitu pengaruhnya signifikannya.

T:                       Berada dalam zona waktu yang sama juga sangat berguna. Proses kirim-mengirim jadi lebih mudah karena respons yang cepat.

B:                       Intinya ya semuaya jadi lebih efisien, meski tidak banyak yang berubah.

H:                      Betul! Lagi pula, kita bukan tipe band yang nge-jam di satu ruangan, dan menciptakan sesuatu di saat itu juga.Kita lebih ke, si dia menciptakan sesuatu di kamarnya sendiri, saya juga menciptakan sesuatu di kamar saya sendiri—begitulah seterusnya sampai kita menggabungkannya semua. Proses kita lebih terpisah.    

SMID:             Baiklah, pertanyaan selanjutnya. Musik gubahan Superorganism memiliki range yang cukup luas—musik kalian memiliki sentuhan girang, fun, aneh, dreamy, dan pada titik-titik tertentu bahkan menjadi cukup trippy. Apakah hal ini bermuara dari fenomena keberagaman kultur dari masing-masing personil kalian? Dari mana datangnya?

T:                       Iya, saya rasa keberagaman kultur memiliki peran dalam membentuk musik kita yang seperti ini. Jadi saya rasa segala pengalaman hidup kita masing-masing—yang memang berbeda-beda—turut serta membentuk hal tersebut. Menariknya, bukan hanya musik, justru; tapi juga seni, film, dan semuanya. Kita menggangap diri kita bukan sebuah band, sih. Kita lebih ke sebuah “multi-media”, lengkap dengan visual dan segala macamnya.

H:                      Iya, betul sekali. Dan berbicara keberagaman kultur, hal ini mengalir kedalam musik kita tanpa kita sadari. Ada juga peran dari internet terkait keberagaman kultur ini. Internet mampu menjembatani seluruh perbedaan kultur kita. Tidak peduli kamu berasal dari mana, kamu bisa tahu apa yang saya atau dia alami melalui internet. Agak aneh memang. Karena ada Internet, meskipun kita berbeda kultur, kita bisa saling mengerti. Contoh saja kita, saya dari UK, dan mereka ini (Tucson dan B) dari New Zealand; tapi kita saling mengerti. Internet!

SMID:             Menarik, jadi selain keberagaman kultur yang mengahadirkan perbedaan, ada juga peran internet yang justru menyikapi perbedaan kalian itu, ya? Dan itu semua berpengaruh terhadap musik kalian yang luas?

B:                       Yup! Globalisasi melalui internet: itulah yang terjadi dengan keberagaman kultur kita. Meski berbeda, kita bisa tetap mengerti—bahkan menyukai hal yang sama!

H:                      Mungkin kita merupakan sebuah contoh yang tepat untuk membahas hal tersebut—“globalisasi melalui internet.”

SMID:             Berbicara tentang Internet...  Merujuk pada persona kalian; tentang sejarah terbentuknya Superorganism, bagaimana kalian menampilkan diri kalian sendiri dalam video klip, pembawaan kalian, estetika yang kalian pasang untuk imaji Superorganism,  serta nuansa yang kalian lepaskan—baik dalam bermusik, juga dalam spektrum non-musiknya; kalian sangatlah cocok untuk diutarakan sebagai pembadanan dari grup musik jebolan “era internet”. Apa pandangan kalian terhadap internet itu sendiri—baik sebagai meduim, pun juga sebagai sebuah platform—untuk musik dan bermusik?

T:                       Saya setuju dengan hal tersebut; kita adalah grup band jebolan internet. Gini deh, kita semua itu bertemu di Internet. Jadi tanpa internet, saya rasa tidak akan ada Superorganism.

H:                      Internet itu benar-benar merubah semuanya. Saya rasa tiap generasi memiliki realitanya masing-masing—dan perbedaan itu juga hadir dalam bagaimana mereka menyikapi realitanya yang berbeda-beda. Kita yang masih kecil berbeda dengan kita yang sudah besar. Tapi saat orang tua kita masih seusia kita, internet belum menjadi sesuatu yang signifikan. Internet itu seperti sebuah pergeseran paradigma. Semua yang terjadi setelah hadirnya internet itu berubah total, jadi saya tidak bisa membayangkan dunia tanpa internet. Ia mengubah semuanya, entah juga menjadi lebih baik atau buruk, mungkin saya baru bisa menjawabnya setelah saya sudah mau meninggal nanti.

SMID:             Baiklah, tapi kembali berbicara tentang Internet sebagai sebuah media dan platform dalam musik dan bermusik... tentunya ini adalah era yang cukup baik, bukan?

T,H,B:              Oh, ya tentunya! Terbaik!

B:                       Kita mengonsumsi semua musik kita melalui internet. Semua tentang musik menjadi sangat dimudahkan. Kita punya playlist spotify yang di mana semua anggota kami turut serta berkontribusi dalam menambahkan lagu di dalamnya.

H:                      Ya! Streaming itu ajaib! Saya ingat pernah membaca buku biografi Kurt Cobain, dan ia membicarakan band-band punk rock yang cukup obscure dan asing di telinga. Saya masih muda kala itu, dan ini jauh sebelum streaming itu ada. Intinya, sangat susah mencari musik tanpa internet! Saya ingin sekali mendengarkan band-band aneh itu, tapi saya tidak bisa karena belum ada internet. Sekarang, mencari apapun sudah semudah itu.

T:                       Hahaha, saya jadi ingat dulu sebelum ada internet, saya selalu melihat halaman “thanks to” dari setiap band yang saya miliki CD-nya, hanya untuk  melihat semua band-band yang mereka ucapkan terima kasih. Begitulah cara saya mencari musik saat masih belum ada internet.

B:                       Dulu itu tidak instan, kita harus pergi ke toko dulu untuk mencarinya... belum-belum kalau tokonya ada di negara yang berbeda. Musik menjadi jauh lebih mudah semenjak ada internet, dan kita mensyukurinya untuk itu. Kita beruntung.

SMID:             Lanjut. Untuk berikutnya, apa yang akan datang dari Superorganism? Singles? EP? Atau bahkan album, mungkin?

T,H,B:              Album!

T:                       Ya. Album, kok.

B:                       Kita akan maju secara total untuk rilisan berikutnya. Jadi, tentu saja hal tersebut akan menjadi sebuah album!

SMID:             Akankah rilisan tersebut dirilis pada tahun depan?

T,H,B:              Hahahahaha!

H:                      Ya, mungkin 2020. Kita sudah pasti selesai merekam pada tahun 2020.

SMID:             Baiklah, pertanyaan terakhir! Siapakah yang pertama kali mengidekan untuk menggunakan suara “gigitan apel” dalam trek hits kalian, “Something For Your M.I.N.D.”?

T,H,B:              Emily!

B:                       Betul, itu idenya Emily. Dan karena itu, kita semua jadi gemar memakan apel kemanapun kita pergi. Karena memang harus. Untuk musiknya! Hahahaha!

SMID:             Senang rasanya bisa mendengar suara itu ikut muncul di trek penutup kalian tadi!

H:                      Percayalah, kita pun juga sangat senang main di Jakarta!

SMID:             Baiklah, terima kasih atas waktunya! Sampai jumpa dan sukses terus, Superorganism!

T,H,B:              Bye!

***

Waktu singkat dalam interview tersebut sudah mampu memberikan gambaran tentang Superorganism yang sadar bahwa mereka memang unik. Namun, mengingat juga kesadaran yang mereka miliki terkait internet dan bagaimana mereka hal tersebut membantu mereka terbentuknya mereka, serta apapun itu yang merancang keunikan mereka—seperti keberagaman kultur; mereka sadar betul bahwa mereka bukanlah sebuah anomali. Masih banyak musisi dan band yang juga demikian. Lahir dalam dunia maya dengan perbedaan yang signifikan. Nampaknya, Superorganism tahu mereka hanyalah salah satu contoh dari budaya baru dalam musik yang lahir karena internet. Mungkin kedepannya, akan hadir banyak aksi-aksi musik seperti Superorganism.

Tidak hanya Superorganism, SUPERMUSIC masih memiliki sejumlah konten ekslusif yang diambil dalam gelaran Hodgepodge Superfest 2019 kemarin! Pantau terus SUPERMUSIC untuk artikel wawancara serupa, ya!

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
237 views
superbuzz
133 views
superbuzz
188 views
superbuzz
199 views
superbuzz
277 views
superbuzz
273 views