Prophets of Rage HPSF 19 Interview

Exclusive Interview: Prophets Of Rage

  • By: NND
  • Kamis, 5 September 2019
  • 277 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

“Kita bekerja sangat, sangat keras untuk membuat grup enam orang ini terdengar seperti sebuah kesatuan—menjadi sebuah kepalan tinju rock dan rap dengan enam jari,”

Itulah sepenggal kalimat yang dilepas dengan nada akrab dan tenang dari Tom Morello kala SUPERMUSIC mewawancarainya. Beda ceritanya ketika ia berada di atas panggung Supermusic pada malam harinya—tepatnya pada hari Minggu, 1 September 2019, di Allianz Eco Park, Ancol Jakarta—dalam gelaran Hodgepodge Superfest 2019.

Malam itu dia menggila melalui pekikkan gitarnya yang riuh melantang, menggetarkan tubuh-tubuh para pengunjung yang berlompat-lompat kegirangan. Lengkap dengan keutuhan supergroup-nya, Prophets Of Rage—band mega bintang yang diisi juga oleh Brad Wilk dan Tim Commerford (RATM, Audioslave), DJ Lord dan Chuck D (Public Enemy), serta B-Real (Cypress Hill)—Morello cs. memberikan sebuah malam yang tak terlupakan bagi semua pasang mata yang menyimak. Mereka berhasil membuat Jakarta kembali “mengamuk”, tepat di hadapan backdrop panggungnya yang besar dan bertuliskan “MAKE JAKARTA RAGE AGAIN”.

***

Ya, sebelum semua itu terjadi, tim SUPERMUSIC berkesempatan untuk mewawancarai grup musik yang memadukan musik rock dengan rap ini. Wawancara ekslusif ini berlangsung di bilangan Jakarta Pusat. Kala itu, Prophets of Rage diwakilkan oleh kedua personilnya, Morello dan DJ Lord.

“Saya, terutama, sangat senang bisa main kesini. Saya, Tim, dan Brad belum pernah ke Indonesia sebelumnya dan saya menyadari dari internet seberapa besar antusiasme para fans disini. Antusiasme dan kegirangan itu berlaku dua arah—kita juga demikian. Lebih-lebih ketika melihat para fans yang tadi menunggu di lobby (hotel). Dan (Hodgepodge Superfest 2019) juga menjadi acara terakhir di tur kami, jadi itu juga yang membuat semua ini spesial,” pungkas Morello.

Ia pun mengaku telah mendengar dan mendapati beberapa gambaran tentang Indonesia, terutama kondisi negara kita circa 70an melalui tulisan Noam Chomsky. Tidak begitu dengan DJ Lord, orang dibalik turntable grup tersebut menyatakan sudah pernah kesini dua kali; bersama Public Enemy di tahun 2011, dan sempat juga datang seorang diri. “(Saat manggung dengan Public Enemy, 2011) Crowd-nya hebat—semua bernyanyi bersama dan saya juga makan terlalu banyak. Hahaha! Intinya, selalu bisa bersenang-senang di Indonesia,” tutur pria bernama asli Lord Aswod itu.

Morello pun menimpali, “Intinya, Indonesia—dari apa yang saya tahu—merupakan sebuah negara yang memiliki keberagaman yang hebat, dan cinta yang besar terhadap rock ‘n roll.”

Pembicaraan kemudian mulai disetir ke arah musik mereka. Untuk itu, tim SUPERMUSIC menanyakan tentang kumpulan lagu mereka yang selalu dikemas dengan pesan-pesan yang kuat dalam liriknya—pertanyaan yang langsung dijawab oleh sang gitaris legendaris itu. “menurut saya lirik bisa menjadi sangat penting. Musik-musik yang paling berpengaruh terhadap saya ketika saya menyikapi pendewasaan adalah musik dari grup macam Public Enemy dan The Clash. Mereka berhasil menggabungkan musik yang sangat hebat dengan psan-pesan yang sangat meaningful. Dan musik sendiri bisa menjadi sebuah aspek yang sangat penting—ia bisa membuatmu “lari” dari pemasalahan hidup, ataupun membuatmu “menyikapinya”. Dan itulah yang ingin kita lakukan melalui Prophets of Rage.

Ia mengemasnya dengan menyatakan, “Prophets of Rage itu hadir to rock you outto rock you out very, very hard; bahkan, karena itulah tujuan utamanya. Tapi selain itu, while we were rocking you—ada ruang untuk menyematkan pesan-pesan yang penting untuk diutarakan, macam keadilan sosial dan hak asasi manusia.”

DJ Lord juga turut mengutarakan pendapatnya, terutama terkait musisi muda yang berkarya dengan lirik-lirik yang, meski masih muda, sudah berani mengangkat tema politik, “Sangat penting. Setiap orang harus bisa bersuara terkait apa yang ia rasa tidak adil. Dan jika suara itu dikemas melalui musik, ia bisa mencapai celah-celah yang tidak bisa dicapai oleh sarana yang konvensional.”

Berbicara musisi muda, kami pun menanyakan Morello, siapakah musisi muda favoritnya. Ia menyatakan sudah cukup lama “jatuh hati” dengan permainan bass milik bassist dari grup Nova Twins asal Inggris. Meski begitu, ada kerasahan yang ia rasakan terkait generasi sekarang, terutama dalam memproduksi gitaris muda yang pakem.

“Saya besar dalam era “guitar heroes”—era 80an, yang di mana gitaris itu seperti dewa. Banyak sosok yang bisa menjadi panutan dan membuat anak-anak muda kala itu mengangkat gitarnya. Sekarang, “guitar-music” telah mengalami perubahan. Sekarang arahnya antara menjadi musik heavy metal yang sangat, sangat terdengar seperti suara zaman lawas, atau ke arah musik pop yang minim kontribusi gitarnya,” jelasnya.

“Tapi DJ Lord! DJ Lord itu... masih bisa dikatakan cukup muda, kan?” ucapan Morello tersebut disambut tawa dari semua pihak— termasuk Lord dan dirinya sendiri. “DJ Lord cukup menginspirasi saya. Cukup menginspirasi saya karena pendekatannya terhadap instumen yang dia kepalai sangalah teknis dan bernuansa.

Lepas dari pembahasan pesan dalam lirik, wawancara digiring masuk ke ranah rilisan baru. Tom kembali angkat bicara. “Kita punya sebuah lagu baru yang akan segera meluncur dalam beberapa hari lagi, namun untuk album baru... kita masih tengah mengerjakan materi-materi tersebut.” Nampaknya, tak perlu meunggu lama lepas Hodgepodge Superfest 2019 untuk segera menyicipi materi baru dari barisan supergroup apik ini.

Lagu baru menandakan grup ini masih segar dari proses menulis lagu dan menyusun aransemen. Tim Supermusic pun kemudian mengorek bagaimana mereka berproses dalam lembaran tersebut. Menumpu skill yang handal, kami penasaran bagaimana mereka mengerjakan sebuah lagu baru—bagaimana keahlian mereka yang sudah matang dibentuk oleh jam terbang itu berpengaruh terhadap umpan silang supergroup enam orang ini.

“Begini, pada awalnya RATM terbentuk—Brad, Tim, dan saya—kami sadar dan merasakan betul bahwa jiwa musik yang mengalir antara kami itu sangat unik. Jadi, perihal musisi, menurut saya faktor yang paling signifikan terhadap proses membuat sebuah lagu itu bukan skill-nya, namun chemistry-nya. Jadi, baik Tim dan Brad memiliki skill yang hebat, dan kita bermain secara serasi dengan bersamaan. Di sanalah titik pentingnya,” kupasnya secara antusias.

Begitupula rupanya yang terasa ketika  jajaran baru dari trio rap-rock menyambut DJ dan MC’s baru kala membentuk Prophets of Rage. Dengan masuknya DJ Lord, Chuck D, dan B-Real; hal yang sama pun turut naik ke atas panggung. “Kamu bisa memiliki semua super power tapi jika tidak serasi, maka tidak akan jadi apa-apa. Kamu bisa punya Captain America, Hulk yang kuat, siapapun—tapi jika tidak ada kordinasi yang mantap, maka tidak akan jalan juga,” sahut DJ Lord.

Morello kembali menjelaskan, “Kita bekerja sangat, sangat keras untuk membuat grup enam orang ini terdengar seperti sebuah kesatuan—menjadi sebuah kepalan tinju rock dan rap dengan enam jari,” yang kemudia kembali ditimpali oleh Lord, “Bayangkan, semua berawal dari tidak ada instrumen sama sekali—hanya saling sahut menyahut memberi ide tentang bagian mana yang diisi oleh siapa. Bayangkan hanya dengan papan tulis besar, semuanya berawal dari hal seperti itu—atau kalau dalam kasus Chuck, sebuah notepad.”

“Sebelum bertemu dan bermusik untuk menciptakan lagu baru, semua berjalan tanpa listik. It’s all acoustic,” kemas Lord.

Menutup sesi wawancara ini, Morello pun ditanyakan pesannya terhadap para fans-nya di Indonesia. “Untuk saya terutama, acara ini sudah menjadi sebuah gelaran yang telah tertunda seumur hidup saya, karena ini pertama kalinya saya bermain kesini. Dan untuk bisa hadir di tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya—90.000 miles away from home—ini sangatlah menarik!”

***

Fast forward beberapa jam kemudian, tepatnya jam 10.30 malam di hari Minggu itu; keenamnya seraya merealisasikan analogi yang mereka lontarkan—menjadi sebuah kepalan tinju percampuran rap dan rock yang galak dan tak kenal ampun. Semua terhantam musiknya.

Set mereka berlangsung dengan intens, lagu-lagu legendaris dari jajaran diskografi RATM selalu berhasil menggilakan para pengunjung. Lagu-lagu orisinal supergroup itu juga disambut baik, tak lupa juga tiga lagu “real hip-hop”—sebagaimana sahutan dari Chuck D dan B-Real malam itu. Sebuah ode untuk mendiang Chris Cornell bersua melalui “Cochise” yang dibawakan tanpa vokal. Trek mereka ditutup dengan “Bombtrack” yang—sama dengan judulnya—meledak-ledak hingga tuntas.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
237 views
superbuzz
134 views
superbuzz
189 views
superbuzz
199 views
superbuzz
273 views
superbuzz
250 views