Kandarivas on Seringai

Exclusive Interview: Seringai di Mata Kandarivas

  • By: NND
  • Senin, 30 September 2019
  • 491 Views
  • 13 Likes
  • 73 Shares

Usia 17 tahun memang masih terdengar muda bagi kebanyakan orang, namun tentunya angka tersebut bukanlah sebuah angka yang mudah digapai jika kita berbicara tentang usai sebuah band. Ya, salah satu ujung tombak musik rock/metal Tanah Air, Seringai memang bukan band sembarangan. Guna merayakan ulang tahun mereka sebagai sebuah unit musik yang ke-17, tentunya perayaan digelar dengan semeriah mungkin.

Untuk itu, Seringai merangkul SUPERMUSIC untuk menggelar Highoctane Superfest--sebuah festival intim yang membuka panggungnya di Studio Palem Kemang, Jakarta Selatan, pada tanggal 28 September kemarin. Highoctane Superfest menghadirkan juga sejumlah grup musik cadas yang dipilih sendiri oleh Seringai. Tentuya, band rock oktan tinggi yang terbentuk pada tahun 2002 itu maju juga sebagai headliner-nya.

Berbicara lineup, maka ada satu nama unik yang tersemat dalam enam band yang ditunjuk oleh Arian cs. Sambut Kandarivas, sebuah unit grindcore eksperimental asal Negeri Sakura, Jepang, yang diterbangkan langsung ke Jakarta untuk memeriahkan hajatan sweet seventeen ini.

SUPERMUSIC berkesempatan untuk duduk bersama dan berbincang seputar kedatangan mereka ke Jakarta dan bermain bersama Seringai dan teman-teman lainnya. Simak tulisan berikut untuk membaca wawancara ekslusif dengan mereka!

***

Dituntun oleh Wendi Putranto (manajer Seringai) masuk menyusuri backstage--terdapat banyak musisi-musisi yang sedang asyik beramah tamah sembari bercanda-gurau. Di ujung ruangan, terdapat bongkahan amplifier yang tercolok, tersambung juga dengan gitar dan bass yang menjerit-jerit menyeret. Terlihat keutuhan Kandarivas yang duduk di kursi-kursi tepat di depan formasi ampli itu. Mereka sedang pemanasan; maklum, sebentar lagi menapak panggung. Ketika disapa, mereka dengan ramah meletakan instrumennya dan dengan segan menyambut tim kami.

Kami membuka sesi wawancara dengan menanyakan penerbangan mereka ke Jakarta, mereka menyatakan semua berjalan dengan baik-baik saja.

"Penerbangan ke Jakarta baik-baik saja, semua lancar. Kita tiba di Jakarta juga kemarin malam, kok. Jadi tidak mepet," tutur Tomoki, gitaris/vokalis Kandarivas dan satu-satunya yang lancar berbahasa Inggris.

Sebagai satu-satunya grup musik dari luar negeri yang digaet ke dalam lineup, kami kemudian menanyakan bagaimana mereka bisa diajak bermain bersama. Tomoki, mewakili Kandarivas, menjawab, "Semua bermuara dari festival tur di Jepang bernama Everloud Japan yang digelar pada tahun 2018 silam. Kami tur bareng Deadsquad dari Indonesia karena rilis materi split bersama. Jadi kami sudah kenal Stevi (Deadsquad) duluan."

Everloud sendiri sudah tiga kali digelar di Jakarta, festival tersebut memang digubah oleh Stevi sebagai sebuah bentuh hubungan baik antara skena dari kedua negara--dengan Kandarivas sebagai pengurusnya di cabang Jepang.

"Kita bertanggung jawab untuk Everloud di Jepang. Pertama kita undang Deadsquad, tentunya. Kedua Noxa, Yang ketiga, kita mengundang Seringai. Dari situ kita kenal Seringai," ungkapnya melanjutkan. "Kita telah berhubungan baik dengan mereka (Seringai) dan kita sudah berhasil menggandeng mereka main di Jepang. Sekarang gantian, kita yang datang ke sini untuk bermain di acara mereka karena mereka mengajak kita. Kandarivas sangat senang diberikan kesempatan ini!"

Melanjutkan wawancara, kami menanyakan pendapat mereka tentang usia 17 tahun dari Seringai. Tomoki langsung angkat bicara, "Kita baru kenal Deadsquad selama tiga tahun. Mereka grup hebat. Dari sana, kita sadar semua musisi ekstrem yang senior di Indonesia--semuanya segan dan menaruh respect terhadap Seringai. Mungkin usia 17 tahun ini memastikan itu."

Tidak jauh--tepat di belakang mereka, terlihat personil Seringai yang sedang asyik berbicara dengan crew, panitian, hingga personil band lain. Terlihat jelas bahwa apa yang diungkapkan oleh Tomoki itu ada benarnya, semua segan dengan Seringai.

"Mereka itu muncul dari skena bawah tanah, bukan? Dan sekarang, mereka sudah berhasil dihormati oleh banyak orang lintas kalangan. Untuk itu, kamipun juga sangat respect dengan Seringai!" jelasnya merangkum.

Lepas dari bahasan tersebut, kami juga menanyakan apakah Kandarivas memiliki momen-momen spesial, atau bahkan lucu, dengan Seringai (mengingat kelakukan mereka). Wajah Tomoki langsung tersenyum lebar.

"Semalam! Semalam itu ulang tahun saya!" Sahutnya sembari tertawa. "(Seringai) mengadakan party untuk merayakan ulang tahun saya itu. Hasilnya? Saya mati total. Mabuk parah!"

Spontan, kamipun bertanya apakah ia masih hangover--sebuah pertanyaan yang langsung mantap ia jawab, "Ya, saya masih sedikit pusing sekarang. Hahahaha! Meski begitu, kita semua siap manggung dan tidak sabar bermain. Kita minum di dekat sini (Kemang). Kemarin itu adalah ulang tahun terbaik dan yang terburuk bagi saya, dan semua terjadi di satu malam yang sama--karena saya mabuk berat! Hahahaha! Terima kasih Seringai!"

Lanjut dan menyetir pembicaraan ke ranah musik, kami menanyakan bagaimana musik Seringai bagi mereka. Tomoki menyatakan bahwa meski dia tidak terlalu kenal betul dengan skena ekstrem Jakarta, ataupun Indonesia, Seringai menjadi salah satu nama yang cukup berbeda.

"Mereka mampu mengemas musik yang galak--yang masih heavy itu, ke dalam sebuah format yang cukup catchy, jadi banyak yang bisa bernyanyi bersama dan pastinya lagu-lagu mereka menjadi sangat seru! Meski tidak terlalu paham dengan skena ekstrem Indonesia, lebih-lebih Jakarta; saya yakin Seringai itu grup yang hebat. Mereka mampu menghargai skena bawah tanah musik Jepang. Terutama Arian! Dia itu sangat menyukai musik-musik ekstrem dari Jepang. Hahahaha!"

Lantas, untuk menutup sesi wawancara ini, kami menanyakan pertanyaan terakhir terkait "kedewasaan" Seringai dengan usia mereka yang sekarang sudah 17 tahun ini. Tomoki, mendengar pertanyaan tersebut, langsung tertawa keras.

"Dewasa? Tidak! Hahahahaha! Mereka itu tidak nampak tua, kan? Musik mereka juga begitu--awet muda! Apalagi orang-orangnya... Hahahahaha!

***

Melihat jawaban-jawaban Kandarivas, maka bisa dikatakan apa yang mereka katakan itu benar--dari sudut pandang mereka yang tinggal begitu jauh dengan kita saja, imaji Seringai itu sama seperti apa yang kita--sebagai pendengarnya di Indonesia--miliki: seru, bebas, dan menolak tua.

Selamat berulang tahun untuk yang ke-17 kepada Seringai. Meski ini sweet seventeen--ulang tahun yang ke-17, kita semua sadar betul bahwa dalam bermusik, semua itu sudah "berhenti di 15".

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
206 views
superbuzz
646 views
Supporting Stage
264 views
superbuzz
679 views
superbuzz
374 views
superbuzz
511 views