FILM BIOPIK MUSIK: Terjunnya Kisah Nada Ke Layar Lebar

  • By: NTP
  • Minggu, 26 February 2017
  • 3531 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Biopik musik adalah salah satu cara paling mudah dan menyenangkan untuk mengenal kisah musisi legendaris. Film biopik memadatkan perjalanan panjang sang subjek selama bertahun-tahun ke dalam 90-120 menit, atau menyorot rentangan momen berpengaruh dalam hidup sang musisi.

Jika biopik musik di era pra-60-an biasanya berkisah tentang komposer besar, maka era setelahnya bercerita soal musisi legendaris di kancah musik populer. Perkembangan pesat teknologi telekomunikasi menangkat pamor figur-figur tersebut menjadi bintang populer yang dikenal di berbagai belahan dunia.

Kemampuan tinggi mengolah musik, ditambah kepribadian eksentrik, dan karya yang sanggup menggetarkan jiwa, membuat para musisi ini menjadi sosok berpengaruh. Menjadi wajar ketika kehidupan mereka diadaptasi ke dalam bentuk film.

Kehidupan pribadi dan karir mereka, melalui sorotan konstan, terasa seperti kisah petualangan hebat, alhasil menjadi bahan baku potensial naskah film. Pula, ketenaran mereka membuat kesuksesan finansial biopik musik sudah digenggam satu tangan, tinggal bagaimana para sutradara merancang tim ciamik dan para penulis menggodok naskah yang apik.

Biopik musik selalu berkenaan dengan eksistensi sang musisi dalam kebudayaan populer, medium ini sudah akrab dengan jutaan pendengar sang musisi. Subgenre ini menggunakan film sebagai medium massa, karena kisahnya berkaitan dengan banyak aspek karir mereka yang tidak terungkap bentuk hiburan populer lain. Contohnya, seperti apa masa lalu mereka sebelum menjadi pesohor? Bagaimana proses artistik sang musisi?  Atau adakah peristiwa yang memantik mereka untuk berkarya?

Bagaimanapun seorang musisi atau grup dikisahkan, biopik musik berkualitas biasanya mampu menyeimbangkan realisme dan fiksi, serta mencuri perhatian penonton, kemudian mempertahankannya.

Pasca dekade 70-an, biopik musik kian kompleks, menyambungkan masa kini dan masa lalu, menggabungkan fakta dengan mitos, akhirnya menghasilkan film yang berlapis-lapis, (mungkin juga berat sebelah atau tunggal) yang membentuk perspektif terhadap kejadian masa lalu dan hidup orang-orang di dalamnya.

Mengingat susahnya mencapai titik tersebut, tidak banyak biopik musik yang berkualitas dan bisa berdiri sendiri sebagai karya seni. Kebanyakan hanyalah menjadi media promosi perpanjangan, atau flop, yang justru tak bisa disandingkan sebagai catatan hidup sang musisi. Berikut SuperMusic ID merangkum beberapa biopik musik yang layak kamu tonton:

Straight Outta Compton (2015), Sutradara: F. Gary Gray

Biopik resmi yang diproduseri oleh anggota N.W.A ini mengisahkan perjalanan grup hip-hop paling kontroversial saat bergulat untuk merekam album perdana, tur, dan mencapai puncak ketenaran sebelum akhirnya bubar karena perbedaan kreatif. Film ini secara mendalam mengisahkan percekcokan, kompromi, dan keberanian lima pemuda asal Compton ini ketika melawan otoritas. Straight Outta Compton dengan tepat memotret api semangat hip-hop di masa awalnya.

Sid and Nancy (1986), Sutradara: Alex Cox

Adaptasi sinematik dari jeblosnya Sid Vicious, eks bassis Sex Pistols, ke dalam liang narkotika yang berujung pada overdosis heroin dan pembunuhan kekasihnya, Nancy Spungen. Aktor kawakan Gary Oldman dengan karismatik memerankan Vicious sampai-sampai John Lydon (vokalis Sex Pistols) memujinya, dan di saat bersamaan juga menyatakan Cox pantas ditembak. Akting nihilis Chloe Webb, pemeran Spungen, benar-benar padu dengan penampilan Oldman.

Control (2007), Sutradara: Anton Corbijn

Lewat warna monokrom, Anton Corbijn memotret kesuraman hidup vokalis band post-punk legendaris Joy Division, Ian Curtis (diperankan Sam Riley), dan istrinya, Deborah (Samantha Morton). Alih-alih digambarkan sebagai pentolan salah satu grup terbesar Inggris, Corbin dan Riley membangkitkan keresahan jiwa Curtis: pria malang yang mencoba menumpahkan segala keresahannya ke dalam musik.

Last Days (2005), Sutradara: Gus Van Sant

Biopik ini tergolong unik, Gus Van Sant mereka ulang hari-hari akhir Kurt Cobain (atau tepatnya, seseorang yang menyerupai Cobain), walau hingga kini tak diketahui persisnya seperti apa detail momen-momen tersebut. Last Days menampilkan fiksi total dan prediksi puitis, secara halus menantang aturan tak tertulis biopik yang memprioritaskan fakta. Michael Pitt (aktor pemeran Blake, yang menyerupai Cobain) menunggu ajal dengan lemas, berkeliaran dalam sebuah rumah mewah di hutan Washington, seakan membuktikan bahwa it’s better to fade away than burn out.

The Doors (1991), Sutradara: Oliver Stone

Maestro biopik, Oliver Stone, mengisahkan perjalanan megah The Doors lewat Jim Morrison (diperankan Val Kilmer). Dengan segala kemegahan dan  kelemahannya, ia menyuguhkan akting terbaiknya di film ini. Kilmer menampilkan Morrison sang pecandu, sang penyair, sang pecundang, dan sang pahlawan, dengan keliaran yang sulit ditandingi. The Doors menampilkan empat pemuda penyiram bensin akan semangat perubahan tak terkendali, yang akhirnya harus padam dan mati.

I'm Not There (2007), Sutradara: Todd Haynes

Biopik musik eksperimental ini benar-benar berdiri sendiri sebagai karya seni, menjadi sebuah penghormatan tertinggi bagi musisi sekaliber Bob Dylan. Haynes memilih untuk mendobrak segala aturan film biopik, mengalirkan kisah hidup Dylan secara non-linier melalui enam aktor-aktris (lintas gender dan ras) di enam fase hidup berbeda.

Christian Bale, Richard Gere, Heath Ledger, Ben Whishaw, Michelle Williams, dan Cate Blanchett didaulat menjadi ‘wajah’ Bob Dylan. Bale memerankan Dylan di masa protes; Franklin memainkan Dylan yang terobsesi pada musisi folk Woody Guthrie; Wishaw memerankan Arthur Rimbaud, penyair panutan Dylan; Ledger memainkan peran meta sebagai Jack Rollins/Pastor John (personifikasi Dylan di masa protes), dalam sebuah biopik; Gere memainkan Billy the Kid, peran Dylan di film western Pat Garett and Billy the Kid (1973). Penampilan terbaik di film jatuh pada Blanchett, yang memainkan Dylan era “gitar elektrik”. Atas peran ini Blanchett dinominasikan sebagai Best Supporting Actress di Academy Awards ke 80 (2008).

Salah satu film terbaik Haynes ini menampilkan perspektif berlapis atas figur Bob Dylan, dan mengajukan pertanyaan penting pada para penonton, yaitu: siapakah sebenarnya Bob Dylan?

0 COMMENTS