Final Attack

Final Attack Ungkap Keresahan Melalui Hardcore

  • By:
  • Kamis, 26 November 2020
  • 753 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Hardcore merupakan salah satu skena bawah tanah yang cukup digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Datang dari berbagai macam latar belakang, skena hardcore dianggap sebagai sebuah ruang ekspresif untuk mengutarakan buah pikir dari mereka yang ada di dalamnya. Terkesan sebagai ruang penuh kejujuran, Final Attack pun ikut serta ke dalam pergerakan yang tersedia di ruangan tersebut. 

Terbentuk di tahun 2004, Sejak masa-masa awalnya muncul di skena bawah tanah, Final Attack kerap tampil dengan menampilkan karakteristik permainan musik hardcore yang cukup berbeda. Kala itu, para penggiat musik hardcore lebih sering menampilkan permainan dengan unsur melodis yang kuat, sedangkan Final Attack memilih untuk menghadirkan diferensiasi melalui permainan musik yang cepat dan straight to the point. Permainan musik ini diakui oleh Final Attack hadir berkat pengaruh band-band hardcore besar di luar negeri, seperti Minor Threat, Cro Mags, Leeway, Madball, serta Negative Approach.

Formasi paling terbaru dari Final Attack saat ini diisi oleh Indra Chino (gitar), Akhmad Bagoes (vokal), Ray Dimas (gitar), Andri Rad (bass), dan Ikhsan Nur Alino Haqqi (drum). Semangatnya yang terus besar untuk selalu mengibarkan bendera hardcore tidak hanya membuat nama Final Attack terkenal di Tanah Air. Kualitas musik dari Final Attack juga sudah terdengar di berbagai penjuru benua Asia, Eropa, hingga sampai ke Amerika Serikat. Berada di jalur independen, Final Attack juga cukup dikenal sebagai salah satu band yang cukup aktif dalam melahirkan karya-karya terbarunya. terbukti sejak tahun 2008 merilis album perdana berjudul Legitimate Threat, Final Attack tidak berhenti terus merilis album-album lanjutan, seperti Action Speaks Louder (2010), Hati, Jiwa, Pikiran (2012), From Dust to Ashes (2015), dan yang terbaru di tahun 2019 berjudul Blind Conviction. Final Attack juga sempat mengeluarkan mini album di tahun 2009 berjudul Length of Time.

Untuk album yang dirilis pada tahun 2019 ini, Final Attack mencoba untuk mengangkat fenomena sosial terkait penggiringan opini yang berujung melahirkan budaya negatif dan menghakimi kaum tertentu yang tersebar melalui platform media sosial atau instant messaging.. Padahal opini tersebut belum bisa dibuktikan keabsahannya. Final Attack mengakui bahwa mereka cukup gerah dan jengah melihat perkembangan fenomena tersebut yang semakin tidak terkendali, hingga akhirnya Final Attack menyuarakan kritik melalui album Blind Conviction. Berisikan 10 lagu, tema dari lirik yang digarap oleh Final Attack untuk album Blind Conviction ini dipilih untuk bisa menggugah hati para pendengar agar dapat kembali merasakan esensi jadi manusia sosial yang hidup berkelompok atau dalam keadaan majemuk. Selain itu mengajak agar setiap manusia bisa lebih bertanggung jawab atas aksi yang dilakukannya terhadap perasaan orang lain.


Untuk mendorong pesan yang dihadirkan pada album Blind Conviction, Final Attack memilih lagu Armageddon sebagai single utamanya. Single ini secara konsep hadir dari buah pikir Andri yang mengangkat persoalan tentang konsep kehidupan masyarakat yang ideal namun dipaksa untuk dapat diterima oleh kelompok masyarakat yang luas. Final Attack menjelaskan bahwa lagu tersebut kurang lebih mewakili rasa risih dari masing-masing anggota mengenai dominasi kekuasaan yang kerap muncul di dalam hidup bermasyarakat, serta pemaksaan dalam penyeragaman ideologi dari suatu kelompok masyarakat yang menganggap diri mereka memiliki derajat yang paling tinggi di antara kelompok lainnya. Lagu ini juga sedikit memberi cuplikan tentang bagaimana sebuah kelompok masyarakat mencoba untuk memaksakan apa yang mereka percaya dengan cara memperdaya kelompok masyarakat lain serta mengubah tatanan budaya secara drastis yang telah berproses secara turun-temurun.

0 COMMENTS