Fleet Foxes

Fleet Foxes Bercerita tentang Perayaan Kehidupan di Album Shore

  • By:
  • Rabu, 14 October 2020
  • 523 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Pertama kali mendapatkan atensi dari banyak telinga pendengar musik internasional di tahun 2007 berkat EP yang berjudul Sun Giant, Fleet Foxes kembali hadir di tahun 2020 membawa album terbarunya, berjudul Shore. Album keempat band ini baru saja rilis pada tanggal 22 September 2020 lalu. Uniknya, band ini mengumumkan mengenai album barunya ini di pagi hari. Di kala waktu orang-orang baru membuka mata sehabis terlelap di malam hari. Tepatnya pada pukul 6.31 Pacific Times waktu Amerika Serikat sana. Waktu ini dipilih karena menandakan bahwa di tempat Fleet Foxes berasal sudah masuk musim gugur untuk album barunya, dan menamai albumnya ini Shore.

Shore sebagai album keempat Fleet Foxes ini berisikan 15 lagu. Album ini juga jadi penanda yang pertama kalinya merilis album melalui Anti- sebagai label rekamannya. Jika dibandingkan dengan album sebelumnya, Crack Up di tahun 2017, album terbaru milik Fleet Foxes ini terdengar memiliki nuansa yang lebih bright, cerita, dan sarat akan optimisme. Selama dua tahun proses rekamannya, secara spesifik vokalis sekaligus frontman Fleet Foxes. Robin Pecknold, mengerjakan album ini di bulan September. Mulai dari September 2018, lalu dilanjut pada bulan September 2019, hingga perilisannya juga yang jatuh di bulan September 2020. Sang vokalis juga menganggap album Fleet Foxes satu ini sebagai sebuah perayaan atas kehidupan di ambang kematian.

Dalam menemukan nuansa lagu yang lebih hangat namun sarat akan optimisme untuk Fleet Foxes, Robin secara ekstensif mendengarkan lagu-lagu dari beberapa musisi legendaris, seperti Arthur Russell, Curtis Mayfield, Nina Simone, Michael Nau, Van Morrison, Sam Cooke, The Roches, João Gilberto, Piero Piccioni, Tim Bernardes, Tim Maia, Jai Paul, and Emahoy Tsegué-Maryam Guèbrou. Lagu-lagu tersebut ternyata membuatnya lebih merasa produktif dan menggugah hasratnya untuk secara konsisten menulis lagu, baik secara aransemen atau konsep bagi album terbaru Fleet Foxes yang sedang dikerjakannya kala itu. Untuk semakin dapat merasakan suasana yang berbeda dan hangat, Robin pun pergi ke Portugal untuk menetap sementara demi kelanjutan proyek Fleet Foxes ini. Untuk dapat menulis lirik yang sesuai bagi lagu-lagu di album keempat ini, Robin pun kerap menghabiskan waktunya dengan berkendara menggunakan mobilnya. Jarak tempuh yang cukup jauh, mulai dari tempat tinggalnya di Greenwich Village, New York menuju danau Minnewaska dan pegunungan Catskill ia lewati untuk menghadirkan karya yang ideal bagi Fleet Foxes.

Robin Pecknold juga berperan sebagai produser untuk album Shore milik Fleet Foxes ini. Pengerjaan album terbaru Fleet Foxes ini juga dibantu oleh Beatriz Artola sebagai teknisi rekaman dan mixing. Proses rekaman album terbaru dari Fleet Foxes ini cukup menarik untuk ditelaah. Memulai rekaman di tahun 2019, Robin memulai proyek terbaru ini di Aaron Dessner's Long Pond Studio. Di tempat ini juga jadi milestone bagi Fleet Foxes untuk membuat rekaman bersama kolaborator di luar anggota band. Nama-nama kolaborator yang membantu suksesnya album terbaru ini di antaranya adalah, The Westerlies, Andy Clausen, Chloe Rowlands, Riley Mulherkar, dan Willem de Koch. Di tahun yang sama, Robin membawa proyek rekaman Fleet Foxes ini ke Paris, tepatnya di sebuah studio di kawasan St. Germain untuk melanjutkan sesi rekamannya. Di sana Fleet Foxes berkolaborasi dengan Uwade Akhere seorang musisi amatir yang juga mahasiswa Oxford. 

Di penghujung tahun 2019 hingga Maret 2020, Fleet Foxes kembali melanjutkan rekamannya di Electro-Vox Studio, Los Angeles. Pemilihan studio ini merupakan keinginan terpendam dari sang pentolan Fleet Foxes itu sendiri. Sempat terhenti di masa lockdown pandemi, band indie folk Amerika ini masuk dapur rekaman lagi dan memilih The Diamond Mine di kota Long Island, Queens, New York. Menurut Robin, pengalaman dari berpindah tempat satu ke yang lain di masa rekaman memberikan perspektif baru untuk menghadirkan karya berbeda di tubuh Fleet Foxes.

Selama dua tahun proses pengerjaan albumnya ini, Robin Pecknold selalu merasa khawatir apakah dirinya akan dapat kembali meraih kejayaan untuk band nya ini, layaknya album pertama mereka di tahun 2008 silam. Dirinya khawatir, apakah karya-karya terbaru dari Fleet Foxes ini bisa diterima oleh banyak kalangan, mulai dari fans, sesama musisi, hingga kritikus. Namun pada bulan Maret yang lalu, saat dunia dilanda pandemi dan orang-orang menyuarakan ketidak adilan terhadap kaum minoritas menjadi titik balik bagi Robin untuk mulai kembali menggarap album baru untuk Fleet Foxes. Melihat dan merasakan keadaan dunia yang cukup memprihatinkan ini membuat rasa khawatir yang ia rasakan sirna seketika dan menganggap apa yang dirinya rasakan hanyalah sebuah ganjalan kecil dibandingkan apa yang sedang terjadi di dunia saat ini.

Oleh karena itu, Robin menganggap lahirnya album Shore milik Fleet Foxes ini adalah sebuah perayaan untuk dirinya dan mereka yang mampu bertahan hidup di masa sulit. Robin pun merasa bersyukur bahwa dirinya masih memiliki kesempatan baik dalam waktu dan rasa bahagia saat membuat musik untuk Fleet Foxes. Menurut Robin, musik adalah sebuah anugrah yang sangat berharga bagi pentolan band satu ini. Musik dapat membawanya terus hidup dan jadi sebuah penawar di tengah pahitnya situasi dunia saat ini. 

Resmi berdiri di tahun 2006 dan mengalami bongkar pasang personel serta masa hiatus di tahun 2013, kini Fleet Foxes diisi oleh Robin Pecknold (vokal, gitar), Skyler Skjelset (gitar, vokal latar), Casey Wescott (keyboards, mandolin), Christian Wargo (bass), dan Morgan Henderson (biola, perkusi, saxophone).

0 COMMENTS