Foo Fighters Dapatkan Pencapaian Tak Terduga di Usia 25 Tahun

Foo Fighters Dapatkan Pencapaian Tak Terduga di Usia 25 Tahun

  • By:
  • Senin, 22 February 2021
  • 106 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Tidak disangka bahwa kehadiran Foo Fighters kini genap berusia 25 tahun di industri musik internasional. Selama 25 tahun tersebut, Foo Fighters seperti tidak pernah kehilangan semangatnya untuk terus menghasilkan karya-karya terbaik yang relevan sepanjang zaman. Selama 25 tahun itu juga, Foo Fighters mengalami pasang surut, baik yang disebabkan oleh gangguan secara internal maupun permasalahan yang berada di luar kuasa mereka sebagai band, seperti pandemi Covid-19 di sepanjang tahun 2020. 

Meskipun begitu, Foo Fighters tetap berhasil terus bangkit dan melangkah lebih jauh untuk membuktikan eksistensinya sebagai salah satu band rock terbaik saat ini. Hal tersebut juga dibuktikan berkat kesempatan yang diberikan oleh Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, yang mempersilakan Foo Fighters untuk dapat bermain di acara pelantikan sang presiden meskipun secara virtual. Dave Grohl menyatakan bahwa sulit untuk mengemas sebuah penampilan musik secara virtual. Dirinya dan Foo Fighters harus merekam semuanya terlebih dahulu dan memastikan bahwa permainan musik mereka layak untuk ditampilkan. Meskipun mendapatkan kesempatan yang berharga tersebut, Dave Grohl sebagai perwakilan dari Foo Fighters menyatakan bahwa secara pribadi dirinya akan lebih senang untuk bisa tampil di Washington D.C. secara live.

Ibukota dari Amerika Serikat tersebut memang memiliki tempat spesial bagi vokalis dan pendiri dari Foo Fighters tersebut. Pasalnya, Washington D.C. merupakan tempat kelahiran dari Dave Grohl. Selain itu, mendiang ayah dari vokalis Foo Fighters tersebut juga merupakan juru tulis pidato dari salah satu partai politik yang ada di kawasan tersebut. Dave Grohl pun menambahkan bahwa jika sang ayah masih hidup, mengetahui bahwa Foo Fighters bisa tampil untuk acara kenegaraan akan sangat menghadirkan rasa bahagia kepada seluruh anggota keluarganya.

Meskipun jadi salah satu pencapaian yang tidak terduga dalam perjalanan karier 25 tahun band rock tersebut, sebetulnya Foo Fighters telah memiliki rencananya sendiri dalam merayakan hari ulang tahun mereka. Album ke-10 Foo Fighters, Minutes to Midnight merupakan salah satu elemen dalam merayakan 25 tahun perjalanan karier band rock tersebut. Bahkan Foo Fighters sudah mempersiapkan beberapa lokasi penting untuk membuat tur album tersebut jadi spesial. Namun, akibat pandemi virus Corona, perayaan 25 tahun Foo Fighters harus dirayakan secara sangat sederhana. Perayaan sederhana ulang tahun ke-25 dari Foo Fighters ini nyatanya membawa keberkahan yang tidak terduga juga bagi para anggotanya. Setiap tahunnya Foo Fighters selalu menghabiskan waktu mereka di jalanan, tampil di satu konser dan konser lainnya. Lalu di tahun 2020, rutinitas tersebut harus terhenti. Tanpa disadari, tahun 2020 akhirnya para anggota Foo Fighters bisa merasakan untuk menikmati waktu bersama keluarga masing-masing dan setiap anggota Foo Fighters pun merasa bahwa mereka pantas untuk mendapatkan waktu istirahat ini.

Membicarakan tentang album Minutes to Midnight, Dave Grohl mengakui bahwa proses penulisan pada album tersebut dianggap sebagai salah satu proses yang menyenangkan dan membuat dirinya berhasil memaksimalkan output dalam menghasilkan karya terbaik bagi Foo Fighters. Dave Grohl pun mengungkapkan bahwa mungkin saja beberapa fans akan merasa sedikit asing saat pertama kali mendengarkan album tersebut. Terlebih mengetahui bahwa banyak elemen musik yang unik, seperti aplikasi drum loops, warna musik yang funky, serta pendekatan musik pop yang tersaji pada album ke-10 dari Foo Fighters tersebut. Namun jika didengarkan secara intensif, para penggemar Foo Fighters akan menemukan semangat yang sama dari karya-karya mereka sebelumnya.

Taylor Hawkins, penggebuk drum di dalam tubuh Foo Fighters pun berbicara mengenai album ke-10 tersebut. Menurut sang drummer, album Minutes to Midnight merupakan sebuah kumpulan karya yang dapat kembali menjadi sebuah penanda dari perkembangan musik dari Foo Fighters. Taylor Hawkins pun menyatakan bahwa album ke-10 ini punya pengaruh yang cukup besar untuk bisa disandingkan dengan album-album terdahulu Foo Fighters, seperti The Colour and The Shape yang rilis di tahun 1997. Dave Grohl pun menambahkan bahwa setiap album yang dirilis oleh Foo Fighters memang merupakan sebuah respon yang tepat sebagai bukti eksistensi band tersebut. Jika saja album Minutes to Midnight rilis lebih dulu sebelum tahun 2020, mungkin saja para penggemar Foo Fighters akan merasa album tersebut tidak memiliki karya-karya yang enak untuk didengar karena tidak sesuai dengan zamannya. Melalui perkembangan musik yang ditawarkan pada setiap albumnya, Foo Fighters terbukti berhasil untuk tetap memiliki tempat terbaik di industri musik internasional dan tetap terdengar relevan untuk para casual fans.

Selain diwarnai dengan pendekatan musik pop, karya-karya terbaru Foo Fighters yang tergabung dalam album Minutes to Midnight juga menghadirkan penulisan lirik yang terdengar sangat emosional dalam sejarah musik di dalam tubuh Foo Fighters. Salah satu lirik paling emosional yang ditulis oleh Dave Grohl untuk lagu di album ke-10 Foo Fighters ini hadir dalam Waiting On A War. Lirik lagu tersebut ditulis oleh Dave Grohl atas rasa takut jika dirinya akan mati akibat perang nuklir. Rasa takut yang dialaminya di masa kecil tersebut dipicu oleh perang dingin yang terjadi oleh Amerika Serikat serta Uni Soviet di tahun 1980-an. Rasa takut tersebut terus menghantui Dave Grohl semasa hidupnya dan kembali parah saat anak perempuannya mulai bertanya tentang memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Korea Utara melalui siaran televisi. Untuk itu, Dave Grohl mencoba memberi gambaran menyeramkan melalui lagu di album ke-10 dari Foo Fighters.

0 COMMENTS