Gabber Modus Operandi

Gabber Modus Operandi, Ketika Musik Elektronik Ngebut Bertemu Kearifan Lokal Indonesia

  • By: NND
  • Selasa, 10 December 2019
  • 2006 Views
  • 15 Likes
  • 42 Shares

Gabber Modus Operandi (GMO) adalah duo elektronik eksperimental asal Bali yang digawangi oleh Ican Harem dan Kasimyn. Namun, perlu diketahui bahwa apa yang mereka hasilkan itu jatuh pada ujung-ujung paling ekstrem dari musik elektronik.

Saat tampil, Kasimyn berada di balik deck, bertanggung jawab sebagai pemandu musik; sedangkan Ican bisa di mana saja asal bisa menggila dalam kostum-kostum industrial punk-nya: teriak-teriak mengumpat, joget, lompat-lompat, atau apapun itu lainnya.

Sebelum masuk ke dalam musiknya; maka, ya, memang begitulah jadinya mereka—bukan sebatas grup musik saja. GMO juga menyajikan pertunjukan yang, meski hadirnya memang dari musik, mampu memukau penonton layaknya berdiri sendiri. Pertunjukan itu berasal dari aksi-aksi Harem yang intens, atau jenaka, atau menyeramkan. Tak jarang, semuanya sekaligus.

Melalui namanya, kata “Gabber” sendiri diangkat sebagai sebuah ode untuk musik kencang yang menjadi komoditas utama di setiap set mereka, lagu-lagu eerie, gelap, dan intens yang dikemas dengan beat berkecepatan 180-200 BPM memastikan hal tersebut. Sudah jadi ciri khas-nya, memang; tapi bukan itu saja. Melalui beat yang kencang, Gabber Modus Operandi juga menghadirkan budaya-budaya lokal Indonesia ke dalam musik mereka.

Tak jarang, kalian bisa menemukan referensi-referensi tradisi dan budaya Indonesia pada lagu-lagu brutal mereka: Mulai dari chant tarian Kecak asal Bali, suara gamelan, hingga umpatan-umpatan lokal; semua ada di dalamnya.

Ican Harem dan Kasimyn (sumber foto)

Tradisional, sama seperti musik kencang a la gabber yang mereka tunggangi, juga menjadi ciri khas dari GMO. Justru, kelahiran duo ini sendiripun berawal dari unsur tersebut. Selain karena menyukai musik yang sama, serta dipandang sebagai “orang aneh”, Ican dan Kas menjadi akrab karena berbagi ketertarikan terhadap Jathilan—sebuah ritual Jawa yang melibatkan penari, musik repetitif, dan kerasukan oleh arwah binatang atau “lainnya.” Terlihat kemiripannya, bukan?

Baik Ican Harem dan Kas bertemu di Pulau Bali. Sebelumnya, mereka perantau. Kas (eks-United by Haircut, unit punk Jakarta) merantau ke Bali dari Jakarta lalu bekerja sebagai full-time DJ untuk acara dan nikahan, sedangkan Ican Harem pindah ke Bali usai menamatkan studinya di Jogja (di mana ia juga aktif dalam lingkaran seni dan skena metal, punk, dan noise di sana).

Sejauh ini, mereka sudah berhasil merilis dua buah album penuh. PUXXXIMAX! debutnya, meluncur pada 2018 kemarin. Rilisan teranyar mereka adalah HOXXXYA! yang mengudara tahun 2019 ini. Dengarkan salah satu trek dari album barunya itu, “Padang Galaxxx”, di bawah ini:

Feature photo: sumber

1 COMMENTS
  • cimoloriginal@gmail.com

    Cadasss