produser pop

Geliat Produser Muda dalam Musik Pop Indonesia Masa Kini

  • By: NND
  • Kamis, 21 November 2019
  • 507 Views
  • 7 Likes
  • 2 Shares

Produser merupakan sosok yang penting dalam proses berkarya seorang musisi. Apapun itu musiknya, terlepas pula dari genre yang mengikat, peran seorang produser sangat krusial di dalam dapur rekaman. Baik dalam segi teknis ataupun olah ide, seorang produser berperan memberikan tolok ukur serta mengeksekusi perancangan nada, aransemen, tata suara, dan banyak hal lainnya dalam proses penyusunan sebuah lagu--dan semuanya itu dari nol. Dalam halaman musik pop, terutama dalam pop arus utama, musik yang dirancang harus dapat memikat kalangan luas. Dengan kata lain, musiknya harus bisa diterima secara umum, lintas usia dan selera musik. Seorang produser memiliki andil dan tanggung jawab yang besar untuk menyikapi "resep" berisiko tersebut.

Namun, maraknya karya dalam ranah pop mainstream yang disusun tanpa mementingkan kualitas, yang asal rilis berbekal unsur lain di luar mutu, memancing lahirnya stigma negatif terhadap musiknya secara luas. Lantas sindiran seperti "mudah dibuat," "pasaran," "membosankan," "datar," dan "kurang inovasi," atau apapun itu kerap melayang ke arahnya. Namun dari sederet nyinyir-an inilah muncul juga titik terangnya: Bahwa menyikapi musik pop arus utama tidaklah semudah itu, butuh keahlian untuk mampu mensiasati segala sindiran tersebut. Setidaknya, begitulah jadinya  bagi mereka yang  ingin menggubah sesuatu dengan mutu dan kualitas yang baik, namun tetap ikut aturan main "harus umum" yang berlaku.

Sejumlah kesulitan itu menjadi bak menjadi argumen tanding dari pandangan sebelah mata yang melekat dengan musik pop mainstream, sekaligus juga menekankan relevansi produser di dalamnya.

Dalam tulisan ini, Supermusic akan menampilkan kinerja-kinerja dua produser muda yang melebarkan sayap mereka dalam musik yang penuh resiko dan kerap dipandang sebelah mata oleh para pelaku musik lainnya yang tidak sejalan ini. Mereka menjadi garis depan generasi muda yang mulai menepis stigma-stigma negatif tersebut melalui karya-karyanya.

Baca selengkapnya, di bawah ini!

***

Mungkin musik pop mainstream cukup masuk akal jika dikatakan tidak akan pernah mati. Wujudnya itu fleksibel, dan sifat "kekal"-nya itu lahir darinya. Ia berubah-ubah mengikuti zaman, terlihat jelas bahwa di dalam genre inilah unsur tren benar-benar beririsan dengan musik.

Bagi para produser yang terjun ke ranah pop mainstream, telinga harus tajam akan tren. Dulu, pop mainstream sempat di dominasi oleh kualitas tarik suara dan lincahnya para boyband dan girlband di atas panggung, sempat juga dirajai oleh ballad-ballad cinta dan patah hati yang melipir RnB atau bahkan yang condong ke sensibilitas Melayu. Sekarang? Semakin rumit—elektronika jadi cukup relevan, hip-hop dan musik budaya kulit hitam lainnya juga masuk dan menjangkit, namun semua itu hanya berselang beberapa tahun dari sentuhan indie yang sudah terlebih dahulu naik ke atas panggungnya. Ada yang setia dengan nuansa sedih yang megah, ada pula yang ringan-ringan sejuk dengan set akustik yang intim dan fun. Keberagaman, itulah mengapa tantangan yang hadir menjadi cukup besar, lebih-lebih untuk para produser yang harus tetap berdiskusi dengan musisi terkait arahan kreatif yang dikehendaki.

“Bisa membuat sesuatu dari nggak ada, dari nol gitu. The process of invention-nya, sebenernya; seperti menemukan sebuah penemuan baru. Dari nggak ada nih, nggak ada bunyi, sampe keluar dari speaker. Itu menurut gue hal yang apa ya? Kayak lo punya power segitunya untuk bisa meng-create sesuatu," ungkap Petra Sihombing tentang alasannya terjun dan menggeluti dunia music producing—dilansir dari Detik.

Contoh Petra, musisi solo/penyanyi-penulis lagu/produser multi-instrumentalis yang satu ini memang sudah tidak asing lagi dalam kancah musik era sekarang. Berangkat dari karya-karya solo-nya yang sempat menjajaki halaman pop arus utama, hingga ke “era baru”-nya yang menyajikan musik pop yang lebih segmented; bisa dikatakan bahwa ia cukup khatam dalam dunia pop pada umumnya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Terima kasih, Medan ????

A post shared by Petra Sihombing (@petra_sihombing) on

Mengingat keberagaman yang ada dalam musik pop itu sendiri, memiliki "lapangan bermain" yang luas akan sangat berguna. Di balik studio, Petra sudah sempat bekerja dengan berbagai macam musisi . Ia telah membantu proses berkarya sederet musisi arus utama macam Tulus, Vidi Aldiano, dan Kunto Aji, hingga musisi independen seperti Hindia, Aya Anjani, Coldiac dan masih banyak lagi.

Sejatinya, sosok seperti Petra ini akan sangat berguna bagi perkembangan musik pop mainstream. Selain berlaku sebagai pelanjut obor, ia memiliki visi yang luas. Berbekal banyak referensi dari ragam karya yang sudah dikerjakan, ditambah dengan penguasaan terhadap berbagai macam instrumen, maka seorang produser mampu membuahkan kualitas positif dalam materi yang dikerjakan; dan Petra merupakan seorang produser yang memiliki komponen-komponen itu. Sebagai contoh: Pop mainstream bisa disusun dengan sentuhan pop yang lebih segmented agar terasa segar, juga sebaliknya. Bekerja di dua sisi dari koin yang sama mampu memberikan pengembangan pada setiap sisi yang terlibat. Dan mungkin itu pula yang diterapkan oleh Petra sehingga membuatnya menjadi salah satu nama produser yang paling dibidik dewasa ini.

Di lain sisi, musik pop memiliki pasar yang banyak. Hal ini tentu berdampak kepada demand-nya yang juga tinggi. Hasilnya? Banyak lagu pop yang terus dijebolkan ke publik. Tentu dalam menyikapi hal ini, seorang produser musik pop harus berlaku produktif, ia harus siap dihadapkan dengan proyek yang mengantre. Di saat yang bersamaan, sekedar bekerja keras kejar setoran saja tidak cukup, kualitas harus tetap menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dengan matang di tengah banyaknya job yang hadir.

Dalam perkara ini, maka contoh yang paling “pas” untuk diangkat adalah Laleilmanino. Ya, trio produser yang digawangi oleh Lale, Ilman (Maliq & D’Essentials), dan Nino (RAN) ini juga menjadi sensasi dalam banyak ruang-ruang studio lokal. Selaku produser bagi banyak musisi-musisi pop Tanah Air, Laleilmanino berhasil merampungkan banyak sekali karya dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Ajaibnya, sebagian besar karya jebolan mereka itu dilepas dengan kualitas matang yang tidak main-main.

Cukup menarik juga membahasnya, mengingat banyak sekali job yang sudah mereka kerjakan. Terbentuk di tahun 2013, hingga sekarang mereka sudah berhasil mengantongi banyak lagu ke dalam CV-nya. Sebut saja nama-nama seperti Ahmad Abdul, Armand Maulana, BCL, HIVI!, Rio Febrian, dan Widi Wulia, serta masih banyak lagi. Bahkan, beberapa darinya berhasil mendaratkan penghargaan di AMI Awards (“Hanya Engkau yang Bisa” – Armand Maulana, dan “Wahai Kau Tuan” – Widi Wulia).

Mengutip jawaban Nino di artikel wawancara Pophariini ketika ditanyakan soal apa arti kata pop bagi musik mereka, pentolan grup RAN itu menjawab, “Populer, komersial, suara meletup. Tiga hal yang kami harapkan terjadi pada lagu-lagu yang kami ciptakan. Menjadi karya yang bagus & bisa dipertanggung jawabkan, disukai pasar, serta meledak di pasaran.” Tentu, mereka sadar apa resep dasar yang harus dimasak ketika menggarap musik pop, dan melalui pemahaman itu, penerapan sentuhan-sentuhan pribadi mereka mampu dijadikan bumbu yang meramaikan rasa dari tiap lagu rancangannya. Namun, produktivitas tak melulu terkait pemahaman atau idealisme encer milik si produser. Mungkin dalam kasus Laleilmanino, kerja sama tim di antara ketiganya lah yang menjadi rahasia di balik kemanjuran mereka meluncurkan lagu demi lagu ke telinga publik.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Suatu saat nanti kami ingin diingat lewat nada. • • ????: @akbarmoose & @maulanamogot

A post shared by laleilmanino (@laleilmanino) on

Latar belakang musisi, dipadukan dengan kerja sama tim dan chemistry yang pakem menjadi kiat-kiat yang sudah mereka kuasai dalam memproduksi musik, dan itu menjadi pondasi kokoh untuk terus bekerja di balik layar, membantu musisi mendistribusikan musik berkualitas untuk para pendengar.

Petra dan Laleilmanino--melalui segala kelebihan yang mereka miliki--dapat menjadi contoh menarik dalam membahas bagaimana produser (kembali) membentuk industri musik pop yang bisa dikatakan sangat dipenuhi oleh campur aduknya “tangan-tangan luar” ini. Melihat bagaimana karya-karya mereka mulai ramai beredar, terasa bahwa mungkin keberadaan mereka dapat memberikan dampak positif bagi industri musiknya; para musisi dapat lebih menyuarakan jiwa kreatif mereka, dan di saat yang bersamaan, karya itu dapat melesat dengan proyeksi yang lebih akurat ke telinga yang tepat melalui aransemen yang digubah melalui apa yang dilakukan oleh para produser muda ini.

Namun, tidak aneh jika ada yang menyatakan bahwa apa yang mereka punya itu juga dimiliki oleh para produser senior yang sudah lama bermain dalam kancah musik pop Indonesia. Tanpa bermaksud membandingkan generasi dalam nada negatif, tapi ada perbedaan yang kemudian hadir dari konteks ini. Lantas apa yang membedakan? Simpel, "sudut pandang segar". Ya, apa yang membedakan nama-nama seperti Petra, Laleilmanino dan produser muda lainnya adalah inspirasi mereka. Dibesarkan menelan habis musik pop era 80an akhir, 90an hingga 2000an seperti kebanyakan generasi muda zaman sekarang, tentu palet berkarya mereka berbeda dengan apa yang digunakan oleh para senior.

Dalam kasus ini, baik Petra dan Laleilmanino merupakan salah dua nama yang terus mendorong pergerakan roda musik pop di Indonesia. Sebagai pemain yang masih berusia relatif muda, mereka mengerti dan paham betul bagaimana menyusup masuk ke telinga-telinga generasi muda yang sekarang merajai pasar musik lokal sebagai konsumen yang paling aktif.

Inilah aspek yang cukup krusial dalam hubungan produser muda dengan musik pop Indonesia. Dewasa ini, musik pop di Indonesia sudah kerap berpaling dari lintasan yang dari dulu sempat merajainya: yakni musik balada melayu. Terperangkap dalam perilaku over produksi dan over konsumsi, kemuakan mulai hadir. Mungkin salah satu bentuk paling vokalnya bisa dilihat dari lagu “Cinta Melulu” milik Efek Rumah Kaca.

Tren juga memiliki peran penting atas transformasi yang nampak dalam musik pop. Budaya barat, bahkan dari Asia—yakni Korea, juga semakin dimakan oleh publik luas karena pertukaran informasi yang semakin mudah. Belum lagi jika ditambahkan dengan saling bertabrakannya musik pop dengan segmen indie yang belakangan ini sedang ramai, atau segmen lainnya, seperti elektronika.

Semua transformasi itu mampu menemukan saluran yang serasi melalui para produser muda atas pemahan mereka terkait budaya dan tren kontemporer. Itulah sebabnya para aktor muda yang bekerja di balik layar, seperti Petra dan Laleilmanino, dibutuhkan untuk terus menyikapi perubahan ini. Visi “muda”-nya, yang berpadu dengan berbagai macam bekal keahlian yang mereka miliki, menjadi mesin perubahan yang bisa menyetir industri pop lokal ke arah yang lebih baik.

Produser legendaris Brian Eno sempat berkata: “Saya tertarik dengan musisi yang tidak begitu paham dengan ranah mereka berkarya, karena di sana lah saya dapat bekerja dengan sangat baik.” Mungkin, para musisi—juga para pendengar, sekalipun—tak sepenuhnya mengerti musik pop seperti para produser muda ini, toh jam terbang mereka sudah cukup, bekal visi dan keahlian juga ada di dalam kantongnya. Sudah waktunya obor diberikan ke genggaman mereka.

***

Itu dia sedikit contoh terkait geliat para produser muda dalam musik pop lokal di era sekarang ini. Tentunya, siapapun mereka; jasa-jasanya tak pernah boleh dipandang sebelah mata hanya karena mengusung musik yang umum. Apapun musiknya, rintangan akan selalu ada. Rintangan itu tak melulu bersifat sama untuk setiap genre-nya. Maka penting jadinya untuk bersikap terbuka dan selalu menghargai hasil keringat mereka yang sudah bekerja dengan passion.

Menurut Superfriends, adakah nama-nama produser musik pop yang tidak masuk ke dalam bahasan ini, yang juga perlu diangkat atas karya-karya dan apa yang sudah mereka kerjakan? Langsung suarakan pendapat kalian di kolom komentar yang sudah tersedia

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
109 views
superbuzz
285 views
superbuzz
139 views
supernoize
525 views
superbuzz
266 views
superbuzz
238 views