GENERATION AXE: Mengenal Supergroup 5 Dewa Gitar Lintas Zaman

  • By: NTP
  • Kamis, 20 April 2017
  • 6710 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Menyaksikan lima gitaris bertalenta tinggi dengan skill memukau akan menjadi sebuah pengalaman menonton konser musik rock yang berbeda. Tidak hanya sekedar materi berkualitas tinggi, tapi juga pengalaman langsung melihat lima gitaris memperlihatkan variasi permainan yang jauh dari sekedar solo dan aksi panggung lain.

[bacajuga]

Penonton seakan dibawa dalam lima perjalanan musik yang berbeda dan dapat merasakan intensnya permainan para virtuoso gitar. Tosin Abasi, Nuno Bettencourt, Zakk Wylde, Yngwie Malmsteen serta Steve Vai akan membawakan materi-materi dari berbagai katalog berbeda, dan akan tampil bersama membawakan nomor-nomor legendaris. Pengalaman inilah yang akan disuguhkan lima dewa gitar yang tergabung dalam supergroup gitaris Generation Axe, yang akan tampil pada Jumat, 21 April di Econvention Ancol, Jakarta. Mari mengenal lebih dekat kelima gitaris tersebut.

TOSIN ABASI

Tosin Abasi adalah gitaris termuda—berumur 34 tahun—di Generation Axe. Pada awalnya, Tosin mulai terekspos musik lewat pelajaran klarinet di sekolah dasar. Gitaris asal Washington D.C, AS ini adalah seorang otodidak. Awalnya Tosin hanya memainkan gitar di rumah temannya, hingga akhirnya ia dibelikan gitar oleh sang ayah. Ia pun mulai mempelajari gitar dari kaset video pelajaran para gitaris hair metal.

Pada medio awal dan pertengahan 2000-an, Tosin tergabung dalam PSI dan band metalcore bernama Reflux. Saat masih tergabung dengan Reflux, Tosin ditawari oleh label rekaman Prosthetic Records untuk membentuk proyek solo, tapi Tosin menolak karena merasa kemampuannya belum cukup. Setelah lulus dari Atlanta Institute of Music, Tosin baru menyanggupi tawaran tersebut dan membentuk Animals As Leaders.

Namanya mulai tenar setelah Animals As Leaders merilis dua album, yaitu Animals As Leaders (2009) dan Weightless (2011), yang direspon positif oleh para pendengar dan kritikus. Kemampuan Tosin bermain gitar sangat memengaruhi kualitas tinggi album-album Animals As Leaders, karena proyek tersebut didasari permainan gitar Tosin.

Di album Animals As Leaders, Tosin biasanya menggunakan gitar delapan senar. Seperti gitaris virtuoso lainnya, Tosin juga memiliki seri instrumen signature sendiri. Gitar signature Tosin adalah Ibanez TAM 100, yang sudah dirilis  pada NAMM (National Association of Music Merchants) 2013. Gitar tersebut didasarkan pada Ibanex RG2228 dengan pickup DiMarzio Ionizer.

Selain aktif di Animals As Leaders, Tosin juga sempat menjalani rangkaian tur bersama kuartet G4 pada tahun 2015, bersama Joe Satriani, Guthrie Govan, dan Mike Keneally. Pada 2016, tepatnya sejak April, Tosin juga tergabung dalam rangkaian tur Generation Axe bersama Nuno Bettencourt, Yngwie Malmsteen, Steve Vai, dan Zakk Wylde.

ZAKK WYLDE

Zakk Wylde adalah seorang vokalis, multi-instrumentalis, dan penulis lagu yang kini bermain gitar untuk band heavy metal Black Label Society. Wylde pun pernah menjadi gitaris untuk band Ozzy Osbourne. Desain grafis gitar signature-nya menampilkan bullseye atau target sasaran. Tampilan visual tersebut menjadi ciri khas Wylde.

Wylde lahir dengan nama Jeffrey Phillip Wielandt, 50 tahun lalu di New Jersey, AS. Ia mulai belajar bermain gitar di umur 8 tahun, dan mulai menyeriusi keahlian ini di bangku SMA, ia berlatih sepanjang 12 jam sehari, tiap harinya.

Gitaris bertubuh tegap ini mulai bermain gitar secara profesional ketika kaset demo yang ia kirim ke Ozzy Osbourne diterima. Pada tahun 1987, Wylde pun didapuk menjadi gitaris dan penulis lagu untuk Ozzy. Wylde menggatikan peran Randy Rhoads, seorang gitaris legendaris di band Ozzy Osbourne yang meninggal karena kecelakaan pesawat.

Pada pertengahan medio 90-an,Wylde sempat mengundurkan diri dari band Ozzy dan mengikuti audisi Guns N’ Roses. Walau tak sempat bergabung dengan Guns N’ Roses, Wylde pun akhirnya membentuk Black Label Society di tahun 1998. Pada tahun 2001, Wylde kembali bergabung bersama Ozzy Osbourne sebagai gitaris. Beberapa tahun setelahnya, Wylde bergabung dengan Hollywood Rock Walk of Fame, di mana tandatangan dan cetakan tangannya diabadikan.

Di medio 2000-an, Wylde pun sempat menjadi kontributor kolom Brew-tality di majalah Guitar World, yang membahas tentang teknik bermain gitar serta perlengkapannya. Wylde juga tetap aktif sebagai gitaris Ozzy dan Black Label Society. Sejak April 2016, Wylde bergabung dalam tur Generation Axe bersama Tosin Abasi, Nuno Bettencourt, Steve Vai, dan Yngwie Malmsteen.

NUNO BETTENCOURT

Nuno Bettencourt adalah gitaris berumur 50 tahun yang telah malang melintang di berbagai proyek dan band kenamaan. Gitaris asal Portugal ini pindah bersama keluarganya ke Massachusetts, AS, ssat ia berumur empat tahun. Pada masa kecilnya, Bettencourt justru lebih tertarik pada sepakbola dan hoki, ketimbang musik. Nuno pun kemudian diajari cara bermain gitar oleh kakaknya, setelah ia bermain drum secara otodidak.

Ketertarikan barunya ini mendorong Nuno untuk menyeriusi bermain gitar. Dalam beberapa wawancara, Nuno bahkan menyatakan  bahwa ia kerap membolos saat duduk di bangku SMP. Nuno pun akhirnya berhenti bersekolah di bangku SMA untuk menekuni gitar. Nuno mengaku terpengaruh Eddie Van Halen, The Beatles, Led Zeppelin, Prince, Brian May, Pat Travers, Paco de Lucia, dan Al Di Meola.

Pada pertengahan 80-an, Nuno meninggalkan Sinful, grup hair metal yang ia gawangi, dan bergabung dengan Extreme. Setelah mereka merilis Pornograffitti yang memuat hits “More Than Words”, “Hole Hearted”, dan “Flight of the Wounded Bumblebee” di tahun 1990, nama Nuno melejit sebagai gitaris virtuoso. Nuno bahkan didaulat sebagai Best New Talent pada polling pembaca dan Most Valuable Player di majalah Guitar World tahun 1991.

Nuno memulai karier solonya di tahun 1996 setelah Extreme bubar. Ia pun kemudian merilis album solo perdana Schizophonic di tahun 1997, yang direspons positif oleh para kritikus. Sejak saat itu, Nuno menjadi punggawa beberapa band seperti Mourning Widows (pada tahun 1997), DramaGods (2006), dan The Satellite Party (2007) yang merupakan band bentukan Perry Farrell, eks vokalis Jane’s Addiction.

Selain berkarya lewat format band, Nuno juga pernah terlibat dalam Guitar Wars, album Mindfreak karya pesulap/ilusionis Criss Angel. Nuno juga pernah menggubah beberapa lagu band rock Journey.

Sejak 2000-an akhir, Nuno lebih aktif menjadi kolaborator dan gitaris lepas. Pada tahun 2011, Nuno sempat berkolaborasi dengan band Steel Panther di album Ball’s Out. Tidak hanya berkiprah di kancah musik rock, sejak tahun 2009 hingga 2013, Nuno juga didaulat menjadi gitaris Rihanna dalam rangkaian tur Last Girl on Earth (2009), Loud (2010), 777 (2012) dan Diamond World (2013). Sejak April 2016, Nuno tergabung dalam tur lima gitaris Generation Axe.

YNGWIE MALMSTEEN

Yngwie Malmsteen adalaha gitaris neo-classical metal asal Stockholm, Swedia. Pria berumur 53 tahun ini sudah bermain gitar dari umur sepuluh tahun. Sejak remaja, gitaris yang lahir dengan nama Lars Johan Yngve Lannerbäck ini mengaku sangat terpengaruh oleh musik klasik, khususnya komposisi Niccolò Paganini, komposer dan violis abad 19 asal Italia. Dalam teknik bermain gitar, Yngwie terpengaruh para gitaris legendaris seperti Ritchie Blackmore, Uli Jon Roth, dan Brian May.

Yngwie merilis album pertamanya, Rising Force di tahun 1984. Album yang awalnya dimaksudkan sebagai proyek sampingan Alcatrazz (band Yngwie bersama Steve Vai), justru menjadi batu loncatan bagi karir solo Yngwie. Rising Force didaulat sebagai album rock terbaik Guitar Player Magazine, dinominasikan di kategori Best Rock Instrumental Grammy Award dan mencapai nomor ke-60 di tangga lagu Billboard.

Pada dekade 80-an, gaya bermain serta sound neo-classical Yngwie mencapai popularitas tertinggi. Bersama dengan para gitaris lain seperti Jason Becker, Paul Gilbert, Marty Friedman, Tony MacAlpine dan Vinnie Moore, gaya virtuoso tersebut membuka jalan baru bagi para gitaris instrumental. Bahkan, produsen gitar Fender merilis seri Stratocaster signature Yngwie, bersamaan dengan Eric Clapton. Namun, di dekade ini Yngwie juga tertimpa musibah, ia sempat koma selama seminggu dan syaraf tangan kanannya pun rusak setelah ia mengalami kecelakaan mobil.

Walaupun Yngwie konsisten merilis album di dekade 90-an, popularitas neo-classical metal  telah memudar dan kesuksesannya di Eropa serta Asia pun turun menurun. Di dekade ini, Yngwie merilis  album, yaitu Eclipse (1990), The Yngwie Malmsteen Collection (1991), Fire & Ice (1992), The Seventh Sign (1994), Magnum Opus (1995), Facing the Animal (1997), Concerto Suite for Electric Guitar and Orchestra (1998), dan Alchemy (1999). Semua album tersebut baru bisa dirilis secara resmi di AS pada tahun 2000, saat Yngwie menekan kontrak dengan Spitfire.

Memasuki dekade 2000-an, Yngwie pun terlibat dalam beberapa proyek unik. Di tahun 2003, Yngwie bersama Joe Satriani dan Steve Vai melaksanakan rangkaian tur supergroup gitaris G3. Sedangkan, pada tahun 2007 namanya digunakan untuk “Yngwie Malmsteen” award, di mana pemain harus sukses mengeksekusi 1000 notasi atau lebih di permainan konsol Guitar Hero II edisi Xbox 360. Materi Yngwie juga kerap hadir sebagai konten game, seperti lagu "Caprici Di Diablo", "Damnation Game", dan "Red Devil" yang tersedia di trilogi Rock Band.

Selain aktif tampil di dalam permainan konsol, Yngwie juga didapuk di posisi kesembilan di antara sepuluh gitaris elektrik terbaik sepanjang masa oleh majalah Time. Sejak April 2016, Yngwie tergabung di dalam tur Generation Axe bersama Tosin Abasi, Nuno Bettencourt, Steve Vai, dan Zakk Wylde

STEVE VAI

Steve Vai adalah gitaris, komposer, produser dan penulis lagu yang telah meraih tiga Grammy Award, dan sudah dinominasikan sebanyak 15 kali, Vai juga sudah menjual sebanyak 15 juta keping album. Vai juga dipilih sebagai Greatest Guitarist ke-10 oleh majalah Guitar World. Vai dikenal lewat gaya bermain unik, seperti tapping dua tangan, alternate picking, hybrid picking, sweep picking, legato, akrobat whammy bar, dan circular vibrato, yang ia gunakan saat rekaman maupun saat tampil di panggung.

Di masa kecilnya Vai terlebih dulu mempelajari piano, ia baru belajar bermain gitar di umur enam tahun. Pada masa ini, Vai mengaku terpengaruh oleh soundtrack film musikal West Side Story (1961). Ia baru mengenal musik rock setelah terperangah saat mendengar solo gitar lagu Led Zeppelin, “Heartbreaker” di umur 11 tahun, Vai pun memutuskan untuk menyeriusi bermain gitar di umur 12 tahun. Saat masa SMA, Vai diajari bermain gitar oleh Joe Satriani, gitaris kawakan asal New York. Di era ini, Vai mengaku terpengaruh oleh Jimmy Page, Brian May, Ritchie Blackmore, Jeff Beck, Jimi Hendrix, Allan Holdsworth, dan Al Di Meola.

Setelah lulus SMA pada tahun 1978, Vai melanjutkan pendidikan musiknya di jurusan komposisi dan teori musik, Berklee College of Music di Boston, AS. Selagi mengenyam pendidikan tinggi, Vai juga bekerja paruh waktu sebagai penulis transkrip musik untuk gitaris dan komposer legendaris, Frank Zappa. Setelah berkuliah selama dua tahun, Vai memutuskan untuk pindah ke California dan memulai karir bermusiknya sebagai gitaris di band Zappa hingga tahun 1983.

Setelah ia mengundurkan diri dari band Zappa, Vai memulai karir solonya dan merilis album Flex-Able di tahun 1984. Di era ini pengaruh Vai semakin kentara sebagai gitaris virtuoso lewat kerjasamanya dengan Ibanez. Vai menjadi desainer Ibanez JEM dan Ibanez Universe, gitar tujuh senar pertama yang dijual secara massal. Pada tahun 1985, Vai bergabung sebagai gitaris David Lee Roth, bersama bassis kawakan, Billy Sheehan.

Pada medio 80-an akhir, Vai bergabung dengan band glam rock, Whitesnake, yang merilis album seminal Slip of the Tounge pada 1989. Album tersebut terjual sebanyak 3 juta kopi di seluruh duni dan, mencapai posisi ke-10 di tangga lagu Billboard 200.

Memasuki dekade 90-an, Vai memenangi Grammy di kategori Best Rock Instrumental Performance untuk lagu “Sofa” dari Zappa’s Universe. Pada tahun 1996, Vai pun ikut serta dalam paruh kedua tur legendaris G3, bersama Joe Satriani dan Eric Johnson. Di luar karir bermusiknya, Vai mendirikan Make a Noise Foundation di tahun 1998, yang bertujuan untuk memberikan beasiswa pendidikan musik bagi para musisi yang tidak mampu.

Di dekade 2000-an, Vai juga melebarkan sayapnya ke ranah komposisi dan aransemen musik orkestra. Pada Mei 2004, Vai menampilkan The Aching Hunger bersama Metropole Orchestra Belanda. Vai juga memulai seri klinik masterclass Alien Guitar Secrets di tahun 2006, yaitu tur klinik sekaligus forum diskusi tentang gitar dan industri musik secara keseluruhan.

Setelahnya, pada tahun 2007 Vai juga melepas edisi Ibanez JEM khusus ulang tahun ke-20, yang memiliki body akrilik dan cat interior tiga dimensi, Setahun berikutnya, Vai melepas pedal distorsi signature-nya, yaitu Ibanez Jemini yaitu twin pedal  yang memiliki overdrive dan lead distortion custom.

Di tahun 2010, Vai kembali menampilkan kemampuannya menyusun komposisi. Ia menampilkan dua simfoni yang dibawakan oleh North Netherlands Orchestra di Steve Vai Festival, Groningen, Belanda. Pada tahun berikutnya, Vai memecahkan rekor untuk klinik gitar online terbesar sedunia untuk memperkenalkan kelas online bernama Steve Vai Guitar Techniques, dengan kerjasama dengan divisi pendidikan Berklee College of Music. Meneruskan program pendidikan tersebut, Vai menggelar Vai Academy di tahun 2014 sebagai perkembangan dari Alien Guitar Secrets. Setiap tahunnya Vai mengundang gitaris kenamaan seperti Guthrie Govan, Jeff Baxter, Vernon Reid, Eric Johnson, dan Sonny Landreth untuk mengajar materi dan tema khas dari silabus yang ia susun.

Pada tahun 2016, selain tetap menekuni pendidikan musik, Vai juga memulai tur ulang tahun ke-25 Passion and Warfare di bulan Juni, dan bergabung bersama tur Generation Axe di bulan April.

Untuk menonton kepiawaian Steve Vai, Tosin Abasi, Nuno Bettencourt, Yngwie Malmsteen, dan Zakk Wylde, saksikan Generation Axe: A Night Of Guitars Asia Tour 2017 pada Jumat, 21 April 2017. Bertempat di Gedung Ecovention di Ecopark, Ancol, Jakarta. Acara akan dimulai pada pukul 19.30 WIB hingga selesai. So, don’t miss it! Acara ini dipersembahkan oleh Original Production dan didukung oleh SuperMusic.ID!       

 

0 COMMENTS