Girl In Red dan Album Debutnya “If I Could Make It Go Quiet”

Girl In Red dan Album Debutnya “If I Could Make It Go Quiet”

  • By:
  • Sabtu, 22 May 2021
  • 127 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Begitu produktif aktivitas dari musisi bedroom pop asal Norwegia, Girl In Red, di tahun 2021. Pada Maret lalu musisi berusia 21 tahun tersebut merilis single berjudul Serotonin.

Di lagu ini, Girl In Red bekerja sama dengan Finneas sebagai salah satu produser dan kolaborator. Finneas merupakan saudara laki-laki sekaligus produser untuk setiap karya musik yang dirilis oleh Billie Eilish. Saat merilis lagu ini, Girl In Red mencoba memproyeksikan emosi dirinya.

Satu bulan setelah lagu itu rilis, Girl In Red lantas melepas video musik dari single Serotonin pada 29 April 2021. Klip itu ditata seperti montase video rumah tua, dengan Girl In Red berlari melalui ladang dan mengendarai mobil di jalan raya dengan balon merah.

Puncak dari video musik Serotonin itu dihadirkan dengan sosok musisi bernama asli Marie Ulven ini terbang melalui urutan fantastis matahari terbit, piramida Mesir, dan wallpaper default Windows XP. Video musik ini diarahkan oleh Martin Bremnes dan Isak Jensen.

Satu hari setelah merilis video musik tersebut, Girl In Red secara resmi melepas album debutnya pada 30 April 2021 bertajuk If I Could Make It Go Quiet. Dirilis secara independen, pendistribusian album Girl In Red ini dibantu oleh AWAL (perusahaan distribusi musik indie dari London).

Baca juga: Girl In Red Rilis Karya Kolaborasi bersama Finneas

Album ini sudah dibicarakan sejak 2019 dan rencananya dirilis pada Oktober 2020, namun pandemi COVID-19 bikin rencana itu gagal. Girl In Red tak lantas patah arang dengan keadaan, ia tetap merilis single awal dari album barunya ini pada April 2020 dengan judul Midnight Love.

Girl In Red kemudian merilis single kedua dari album ini pada Agustus tahun lalu dengan judul "Rue". Lagu ini disebut Girl In Red sangat personal karena menyangkut hubungan asmaranya.

"Saya menulis lagu ini untuk orang yang saya cintai yang terpengaruh oleh kesehatan mental saya. Saya akan selalu mencoba yang terbaik untuk menjadi lebih baik bagi mereka, dan saya selamanya bersyukur atas kehadiran mereka dalam hidup saya."

Kemudian dengan single Serotonin, Girl In Red melengkapi formasi tracklist albumnya sebelum resmi dirilis. Secara lirik dan melodi, lagu ini mengacu pada pengalaman pribadi Girl In Red lagi. Ia mengaku bahwa selama 10 tahun terakhir mengalami masalah.

"Saya memiliki pikiran yang mengganggu selama beberapa waktu, mungkin selama 10 tahun terakhir: Berpikir saya akan melompat keluar dari jendela, berpikir saya akan melompat ke depan kereta. Ini benar-benar intens dan Anda merasa seperti Anda harus bertarung dengan diri sendiri seperti tidak melakukannya.

"Seperti, saya tidak ingin melompat ke depan kereta. Saya ingin hidup tetapi jika saya berada di stasiun kereta dan saya melihat garis kuning [keselamatan], itu seperti, 'Ya Tuhan'. Saya merasa seperti saya perlu menahan diri dan pergi dan bersandar di dinding untuk memastikan bahwa saya tidak akan melakukan sesuatu yang gila," ujar Girl In Red.

Pernyataan ini selaras dengan Girl In Red yang pernah menyatakan album If I Could Make It Go Quiet merupakan salah satu sarana bagi sang musisi untuk mengenal dirinya sendiri. Lagu-lagu yang ditulis untuk kebutuhan album tersebut datang dari rasa takut baik sebagai seorang manusia yang akan mati kemudian hari atau sebagai makhluk sosial yang tidak akan selamanya menjadi relevan. 

Girl In Red berharap album perdananya nanti dapat membawa jawaban atas pengalaman hidupnya sebagai manusia. Judul albumnya sendiri sebagai sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Girl In Red atas segala permasalahan yang hadir baik di dalam kepala atau di lingkungannya. Girl In Red sesekali menginginkan kehidupan yang damai, meskipun sulit untuk terealisasi.

Album debut Girl In Red cukup mendapat respons positif dari kritikus musik. Albumnya digambarkan memiliki musik yang lebih dewasa dari karya-karya sebelumnya dan lebih terdengar pop ketimbang bedroom pop yang sangat kental di karya Girl In Red sebelumnya.

Kepada NME, Girl In Red mengungkapkan bahwa dirinya ingin coba mengeksplorasi nuansa musik baru di karya atau album berikutnya. "Saya mendengar beberapa musik baru di kepala saya dan saya sangat bersemangat untuk melihat ke mana saya akan pergi dengan ini. Saya hanya perlu duduk dan membuat musik."

Sebelum merilis album perdananya, Girl In Red juga pernah merilis dua buah EP di tahun 2018 dan 2019. Kedua EP tersebut merupakan sebuah karya yang cukup spesial bagi Girl In Red karena EP yang dirilis dalam selang waktu satu tahun itu merupakan sebuah satu kesatuan sehingga Girl In Red merilis EP tersebut dengan judul Chapter 1 dan Chapter 2.

Jauh sebelum merilis kedua EP itu, Girl In Red memulai karier musiknya melalui platform Soundcloud. Musisi asal Norwegia ini merilis musik pop Norwegia di bawah nama Lydia X di tahun 2015. Keinginannya untuk bermusik lahir saat sang ayah memberikan hadiah sebuah mikrofon Blue Yeti. Sejak saat itu, Girl In Red semakin tertarik dengan dunia musik.

Sejak saat itu, Marie Ulven pun mulai mengubah personanya dari Lydia X menjadi Girl In Red dan berhasil merilis single perdananya melalui Soundcloud berjudul I Wanna Be Your Girlfriend yang cukup populer di kalangan penikmat musik digital. Single tersebut berhasil mencapai 5 juta pendengar selama 5 bulan.

 

Image source: NPR

0 COMMENTS