Grimloc Records: Cara Ucok Homicide Merayakan Kesenangan Bermusik

Grimloc Records: Cara Ucok Homicide Merayakan Kesenangan Bermusik

  • By:
  • Minggu, 21 February 2021
  • 203 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Herry Sutresna atau Morgue Vanguard juga populer dikenal dengan panggilan Ucok Homicide punya peninggalan nyentrik di skena musik Bandung. Ia mendirikan sebuah label rekaman independen dengan diberi nama Grimloc Records.

Awal mula kiprah Grimloc bisa ditarik dari era Harder Records, di mana Ucok juga menjadi bagian di dalamnya. Harder Records merupakan label musik independen yang sempat eksis akhir 1990-an dengan rilisan macam Balcony, Decay, Full of Hate, sampai Undercontrol. Napas Harder tak berlangsung lama. Memasuki milenium baru, mereka bubar.

Awalnya, perjalanan Ucok mendirikan Grimloc Records berjalan bersama dengan Gaya “Eyefeelsix”, namun pada realisasinya ada banyak kawan Ucok yang membantu proses perkembangan label rekaman ini.

Ucok menyebut embrio dari berdirinya Grimloc Records adalah ketika ia merilis album terakhir dari grup musiknya, Homicide, pada 2007 bertajuk Illsurrekshun. Ketika itu, Ucok dan Gaya yang mengurusi segala macam penggarapan album tersebut dari artwork, cetak, distribusi, hingga pre-order.

Saat merilis album terakhir Homicide, Ucok Homicide belum menggunakan nama Grimloc Records melainkan dengan nama Remains. Setelah Remains berubah menjadi toko dan dikelola oleh Okid Gugat, Ucok Homicide mengubah namanya menjadi Grimloc Records.

Ucok Homicide menyebut alasan utamanya mendirikan label diawali dari kebutuhan untuk merilis album dari grup musiknya. Latar belakang itu terus berkembang dengan merilis album-album dari rekan-rekannya. Ucok Homicide mengaku keinginannya membangun sebuah label rekaman didasari niat melestarikan tradisi musik di Bandung.

Kepada Vice, Ucok Homicide pernah menyebut ada penyesalan karena dirinya tidak membangun label rekaman ini lebih cepat. Namun, selama dirinya dan rekan-rekan musisi di Bandung masih bermusik, label ini disebut berkomitmen untuk terus melahirkan karya.

"Kalau ada penyesalan [selama 10 tahun terakhir] kenapa enggak [membangun Grimloc] lebih awal? Karena pada awal 2000-an itu scene Bandung lagi naik. Artinya, Grimloc bakal selalu ada bila kami-kami masih bermusik dan menghasilkan karya," ujar Ucok Homicide.

Akhirnya bersama Gayanugraha, pada 2011 rilisan pertama Grimloc adalah album Pain Per Hate milik Eyefeelsix. Menurut Ucok, album ini begitu monumental bagi Grimloc yang membuat kiprah label garapannya bisa eksis hingga sekarang.

Setelah itu, Ucok dan kawan-kawannya di Grimloc tertarik mengelola label secara serius. Setelah Phenomenon-nya SSSLOTHHH (2013) dilepas, Grimloc memantapkan fokusnya pada satu aspek: merilis karya band-band di sekeliling Bandung.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Grimloc Records (@grimlocrecords)

Prinsip mengorbitkan musisi-musisi sekitaran Bandung diwujudkan dengan munculnya 99% karya yang dirilis melalui Grimloc berasal dari Kota Kembang. Bukan, ini bukan bentuk eksklusivitas atau pilih-pilihan Ucok Homicide semata. Ucok hanya tak ingin "sok tahu" karena memang cuma scene Bandung yang ia ketahui.

"Kami meminjam metode Dischord yang menarik musik ke titik radikal. Radikal di sini konteksnya mengakar. Dalam hal ini adalah akar teritori atau rumah kami sendiri. Hal ini, imbasnya, akan memaksa kami memperhatikan sekeliling terlebih dahulu, memfokuskan upaya-upaya di tempat kaki dipijak," kata Ucok kepada Vice.

"Saya enggak tahu [scene] Jakarta, Surabaya, Mojokerto, Semarang, atau Yogyakarta. Itu poinnya. Dan saya selalu menekankan, ‘Kenapa enggak bikin [label] sendiri di kota kalian daripada minta bantuan dirilis sama Grimloc?" Kalau begitu, Grimloc bisa bantu," ujarnya.

Berangkat dari idealisme itu, barisan roster Grimloc selalu punya ciri khas. Hal ini disebut Ucok Homicide karena tujuan Grimloc bukan ingin menguasai pasar, melainkan menjadi ruang berbagi kesenangan yang berwujud musik.

Pondasi pemikiran itu lantas melahirkan deretan produk padat gizi macam Taring dengan Nazar Palagan (2014), Jeruji (Stay True, 2019), SSSLOTHHH (Phenomenon, 2013), Ayperos NISHPRA, 2015), Wethepeople! (Big Rush!, 2015), sampai Flukeminimix (Between Spaces Into Space, 2015).

Dalam perjalanan satu dekade, Grimloc tercatat baru-baru ini merilis vinyl dari unit grindcore Bandung, Mesin Tempur. Dengan tajuk "Serem THE GREATEST GRIND", Grimloc melepas semua materi Mesin Tempur. Rilisan ini adalah rilisan resmi pertama mereka sejak Mesin Tempur eksis 16 tahun yang lalu.

"Kami tidak perlu menjelaskan seperti apa mereka bersuara, karena apa yang bisa diharapkan dari musik gado-gado parodian grindcore, HC Punk dan Death Metal dengan segala variannya? Dengan legacy satu dekade lebih cari masalah dengan grup hip hop, band beatdown, metalcore dan fans Persib baperan, kami pun tidak paham mengapa mereka tidak sekalian saja menjalani karir meneruskan tradisi D'Kabayan sebagai bodoran garing semesta parahyangan tanpa harus jadi KW-an Kiss atau Slipknot. Satu hal yang kami tau pasti, segoblok apapun ide membuat Mesin Tempur, mereka mengeksekusi rekaman ini dengan super-serius," tulis Grimloc di Instagram resmi mereka.

"Direkam beberapa bulan sebelum pandemi merangsek, berjumlah total (anggap saja) 14 lagu dan bertamukan beberapa nama-nama yang dilarang disebutkan. 3 X 7" Boxset, vinyl warna. Bonus poster 37x37 cm, sticker pack dan beberapa barang tak penting lain," lanjut mereka.

Ucok Homicide: dari Hip Hop hingga Lahirnya Grimloc

Sebelum serius membesarkan Grimloc, Ucok Homicide menjalani karier sebagai penyanyi di sebuah grup musik bernamakan Verbal Homicide sebelum akhirnya diringkas menjadi Homicide untuk alasan kemudahan penyebutan pada 1994.

Homicide dianggap sebagai kelompok anomali yang lebih dikenal di alur musik hardcore atau punk underground daripada di lintasan jalur hip hop. Namun, dalam wawancaranya bersama Lokadata, Ucok menegaskan bahwa musik Homicide 100% hip hop yang terinspirasi dari berbagai genre musik.

Bongkar pasang personel menghiasi perjalanan Homicide. Setelah Sarkasz, DJ Kassaf, dan Adolf mengundurkan diri, Homicide digawangi oleh Ucok, DJ E (Ridwan Gunawan), serta Andre (gitar). Namun, perjalanan dengan formasi terakhir itu menjadi kisah penutup dari dongeng Homicide.

Homicide resmi bubar pada 2007 atau setelah 13 tahun berkarier di industri musik independen Indonesia. Penampilan di lapangan basket Gedung Olahraga Jalan Saparua Bandung pada Agustus 2007 lantas tercatat menjadi panggung terakhir dari Homicide.

Homicide pertama kali merilis mini album "Godzkilla Necronometry” sebagai demo pada 2002, dan kemudian dijadikan bagian split dengan Balcony (band hardcore asal Bandung) dengan judul "Hymne Penghitam Langit dan Prosa Tanpa Tuhan".

Album penuh perdana Homicide lantas lahir pada 2004 dengan tajuk Barisan Nisan. Album Homicide berlanjut dengan lahirnya The Nekrophone Dayz pada 2006 dan Illsurrekshun pada 2008. Uniknya, album Illsurrekshun dirilis oleh Ucok setelah Homicide bubar pada 2007. Album ini disebut-sebut sebagai ego Ucok yang ingin agar Homicide tetap eksis sehingga ia sempat mengambil kutipan dari Refused "Rather be forgotten than remembered for giving in".

Melalui Grimloc Records, Ucok memberi persembahan kepada para publik dengan merilis album kompilasi Homicide yang diberi titel Complete Discography pada 2017. Kendati Homicide kini tak ada, bakti Ucok untuk scene musik Bandung masih berlanjut melalui Grimloc Records.

0 COMMENTS