Hassle Records: Konsisten sebagai Label Indie, Bertahan dari Hantaman Pandemi

Hassle Records: Bertahan dari Hantaman Pandemi

  • By:
  • Kamis, 8 April 2021
  • 76 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Tahun 2020 lalu menjadi tahun yang bersejarah buat label rekaman indie asal Inggris, Hassle Records. Tahun lalu menjadi tanda bahwa sudah 15 tahun lamanya Hassle Records mewarnai perjalanan industri musik global khususnya di skena musik-musik keras.

15 tahun lalu, Hassle Records didirikan oleh Ian "Wez" Westley dan Nigel Adams. Dua partner ini sudah bekerja sama sebelumnya di label rekaman Australia, Mushroom. Tetapi, keduanya memutuskan untuk membentuk label baru setelah label tempat mereka bekerja dijual ke Warner Group Music.

Mereka berdua membentuk dua label yaitu Eat Sleep untuk musik yang berorientasi indie dan Sore Point untuk musik-musik yang lebih berat. Namun, karena beberapa masalah, Eat Sleep bereinkarnasi menjadi Full Tim Hobby dan Sore Point berubah menjadi Hassle Records.

Saat menjalankan Sore Point, Ian Wez sempat mendapat sukses besar dengan mendatangkan beberapa band, salah satu yang paling besar saat itu adalah Fall Out Boy. Mereka menandatangani kontrak untuk album debut Fall Out Boy yang cukup laris di pasaran sehingga memberi Ian Wez dan Adams dana mengembangkan label mereka.

Namun, Sore Point yang berafiliasi dengan salah satu perusahaan entertainment besar di London, Ministry of Sound, memutuskan tidak melanjutkan kerjasama dengan perusahaan itu. Karena harus mengeluarkan banyak dana untuk bertahan dengan nama Sore Point, mereka pun memutuskan mengganti nama label menjadi Hassle Records.

"Kami setuju untuk berpisah, tetapi untuk mempertahankan nama kami harus membayar banyak uang kepada mereka, itulah mengapa kami mengubah nama label. Dengan Sore Point, album debut Fall Out Boy (Take This To Your Grave) berhasil dengan sangat baik dan kami sebelumnya sudah membawa band Alexisonfire sebelum bergabung dengan Hassle Records," jelasnya.

"Kami sangat sedih karena kami telah melakukan semua kerja keras itu sejak awal karena kami melakukannya dengan sangat baik, yang berarti bahwa harus berubah memang mengecewakan, tetapi tidak ada yang dapat kami lakukan untuk mengatasinya. Kami hanya harus melanjutkannya."

Melalui nama Hassle Records, Ian Wez dan Adams melahirkan rilisan pertama mereka yaitu EP dari band rock Amerika Serikat, Juliette and the Licks. Band yang dibentuk oleh Juliette Lewis ini merilis EP perdana mereka bertajuk Like a Bolt of Lightning yang berisikan 6 lagu.

Juliette and the Licks sendiri merilis EP perdana ini pada 2004 di bawah label Fiddler di Amerika Serikat, baru melalui Hassle Records EP tersebut didistribusikan di Eropa.

"Kami bekerja bersama seseorang bernama Chris Baker. Suatu hari dia berkata ada artis yang main band, Juliette Lewis. Saya bilang paling hasilnya jelek, kemudian dia meminta saya untuk mendengarkan EP dari mereka, Like A Bolt of Lightning. Ternyata bagus dan saya juga menyukainya," kenang Ian Wez masih kepada Kerrang.

"EP ini dirilis oleh label US Fiddler dan kami tahu mereka. Akhirnya kami merilis EP ini di Eropa. EP ini bagus, tetapi dia juga punya penampilan yang bagus juga saat live. Yang benar-benar membuat saya terkesan tentang dia adalah, pada saat itu, dia mendapatkan jutaan dolar untuk sebuah film dan tur pertama yang dia lakukan adalah bersama band dan salah satu anggota kru, jadi dia benar-benar tidak takut dengan kerja keras," ungkapnya.

Selama perjalanan 15 tahun terakhir ini, Hassle Records memang fokus bergerak mengorbitkan band-band indie, baik itu dari Inggris maupun dari luar negeri. Ian Wez dalam wawancaranya dengan Loudersound pada 2015 pernah menyebut memang ada kesulitan untuk mempertahankan sebuah band untuk tetap ada di label indie ketika namanya sudah mulai besar.

"Jika kondisinya seperti kami, perusahaan yang kecil maka akan sulit untuk mempertahankan artis karena tidak bisa membayar uang muka lebih besar yang dibutuhkan band. Seseorang pernah bilang ke saya jika kami bisa membiayai band-band itu untuk empat atau enam album seperti yang dilakukan label besar, kami akan memiliki band seperti Brand New, Alexisonfire, mungkin Fall Out Boy, dan semua artis Inggris yang kami orbitkan selama bertahun-tahun," ujarnya.

"Jika kita punya uang untuk melakukan itu - dan mempertahankan band-band itu - kita akan menjadi salah satu label rock terbesar di dunia. Tapi kami adalah label independen kecil, jadi kami belum bisa melakukannya. Saya tidak mengatakan kita juga tidak ingin melakukan itu," tegas Ian Wez.

Meski dengan kondisi itu, Ian Wez terus berupaya menjalankan Hassle Records agar konsisten di jalur indie. Tentunya, perkembangan zaman, teknologi, dan tren musik telah membuat Hassle Records menemukan inovasi untuk terus maju.

"Saat kami memulai label ini (2005), penjualan fisik adalah 85% dari bisnis. Menjadi label "tradisional" dengan hanya merilis rekaman fisik adalah apa yang dilakukan perusahaan rekaman saat itu dan jelas kami tidak berbeda dari mereka. Tetapi, maju cepat ke tahun-tahun terakhir, banyak hal berubah," jelas Ian Wez kepada Music Week.

"Pendapatan sekarang, seperti kebanyakan label lain, berasal dari streaming dan penjualan digital adalah fokus utama di samping peningkatan besar dalam penjualan vinyl. Kami juga telah melakukan banyak diversifikasi sejak saat itu dan, sementara bisnis label masih menjadi area utama bagi kami, kami sekarang juga mengelola artis, mempublikasikan artis, dan dalam beberapa hal mengatur tur dan konser."

"Menurut saya bukan hal yang aneh jika label rekaman indie atau seseorang indie terlibat dalam banyak area bisnis, itu penting dalam menciptakan karier. Jika kita tidak berpikir ke depan, kita pasti tidak akan maju dan kesulitan," ujarnya.

Api semangat Ian Wez dalam bentuk Hassle Records terlihat dari tekad keras untuk terus mempertahankan label ini meski sejak tahun 2020 pandemi COVID-19 melanda. Pandemi jelas bikin label indie macam Hassle Records kepayahan soal dana.

Namun, dengan berbagai inovasi juga bantuan pinjaman dari pemerintah Inggris, Ian Wez akan terus berusaha menjalankan Hassle Records. Tidak pernah satu detik pun dalam hidupnya, terpikirkan untuk menutup buku perjalanan Hassle Records.

"Saya tidak akan pernah menutup label rekaman ini. Sebelum memulai Hassle Records, saya bekerja di label alternatif Australia dengan band-band bagus seperti Muse dan Ash. tetapi saya tidak mengambil pekerjaan untuk membantu menjalankan East West [cabang dari label besar Warner Records] karena saya tidak mau bekerja dengan band dan artis yang tidak saya sukai dan hormati," pungkas Ian Wez.

 

Image source: NME, Kerrang

0 COMMENTS