Hopeless Records: Label Indie dengan Rilisan Berpengaruh

Hopeless Records: Label Indie dengan Rilisan Berpengaruh

  • By:
  • Sabtu, 12 June 2021
  • 129 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Hopeless Records merupakan salah satu label indie yang punya nama besar di industri musik global. Selama lebih dari dua dekade, eksistensi dari label rekaman ini sudah terbukti dengan lahirnya beberapa band rock, punk, dan metal kenamaan di dunia.

Nyatanya, cikal bakal lahirnya Hopeless Records dimulai sejak 1993 ketika sang pendiri, Louis Posen mengarahkan video musik untuk sebuah band punk indie. Louis Posen menggarap video klip tersebut di garasi rumahnya di Los Angeles, Amerika Serikat.

Video klip hasil arahan Posen ini membuat band punk legendaris, Guttermouth, tertarik menggunakan jasa Posen untuk mengeluarkan album 7". Louis Posen menerima tantangan tersebut setelah membaca buku berjudul How To Run An Independent Record Label dan modal duit sebesar 1.000 USD. Posen juga meminta saran dari personel NOFX, Fat Mike, tentang cara menjalankan label.

Lantas, Posen dan Guttermouth merilis album dengan menggunakan dana dari teman dan keluarga mereka, benar-benar DIY. Sementara untuk urusan penjualan dan distribusi, mereka melakukannya dengan pesanan melalui pengiriman pos. Sejak saat itu, Posen terus mengontrak lebih banyak band dan pada 1995 ia resmi menggunakan nama Hopeless Records untuk label rekaman indie garapannya.

Baca juga: Hopeless Records Luncurkan Album Kompilasi Peduli Kesehatan Mental

Ketika sedang dalam masa merintis Posen mendapat kesulitan, penglihatan Louis Posen mulai memburuk karena didiagnosis menderita retinitis pigmentosa. Dengan kondisi ini, tidak menghalangi Posen untuk tetap menjalankan Hopeless Records.

“Sebagai refleksi, kecacatan saya lebih merupakan keuntungan daripada kerugian. Saya merasa seolah-olah saya terus membangun keterampilan - pada awalnya secara tidak sadar - saat mengatasinya, dan keterampilan ini telah membantu dalam kepemimpinan, bisnis, dan membangun relasi," ujar Posen.

"(Jika tidak buta) Saya mungkin akan menjadi orang yang jauh lebih kejam. Saya tidak akan menjadi pendengar yang baik, saya akan menjadi kurang berempati, saya tidak akan bersabar atau berorientasi pada pemecahan masalah. Dan sekarang, kualitas ini adalah bagian besar dari cara kami mendekati segalanya di Hopeless - mulai dari menjadi komunikator yang baik dan tidak pernah mencari alasan, hingga kepada siapa yang kami tandatangani dan yang kami pekerjakan untuk menjadi bagian dari perusahaan kami,” jelasnya.

Tentu saja, Posen tidak sendiri dalam berjuang melawan keterbatasan untuk menjalankan label rekamannya. Maka hadirlah Al Person yang kini menduduki posisi CFO di Hopeless Records, sementara Posen sejak Al bergabung telah berstatus sebagai presiden dari label indie ini.

Al menganggap Louis "presiden paling cakap yang bisa dibayangkan oleh kalian dan para pegawai. Dia pemimpin yang sangat efektif, membuat semua kesepakatan kita, merekrut semua artis kita, memastikan budaya perusahaan kita bisa dipertahankan.”

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Hopeless Records (@hopelessrecords)

Untuk menjaga iklim yang sehat antara label dan artisnya, Hopeless Records punya filosofi yang dipegang erat. Tidak rakus dan ambisius berlebihan adalah dua di antaranya yang bikin Hopeless Records bisa diakui seperti sekarang. Mereka mendasarkan filosofi bisnis mereka pada pentingnya tidak menggigit lebih dari yang dapat mereka kunyah.

“Filosofi kami selalu pertama merangkak, lalu berjalan, lalu lari. Kami bekerja dengan artis yang dapat kami promosikan dengan cerdas dan naik ke tingkat berikutnya dan hanya tumbuh jika kami dapat membenarkan investasi dalam pertumbuhan proyek tertentu atau perusahaan kami secara keseluruhan," ujar Al Person.

Kesuksesan Hopeless Records memang tak datang dengan instan, baru di medio 2000an awal mereka mendapat sukses komersil berkat hadirnya Avenged Sevenfold sebagai roster mereka. Album Waking The Fallen dari Avenged Sevenfold lantas menjadi rekaman Hopeless Records pertama yang meraih sertifikat gold.

All Time Low, melanjutkan fase lain pertumbuhan Hopeless Records di pertengahan hingga akhir 2000-an. Single So Wrong, It’s Right, “Dear Maria,” menerima sertifikasi emas pada tahun 2011. Pada tahun 2008, label tersebut mulai berkembang di seluruh dunia, dan sekarang memiliki anggota tim di Italia, Inggris, Kanada, Australia, Jepang, Singapura, dan Brasil - tempat mereka mengelola wilayah di seluruh dunia.

Dengan prinsip ini, Hopeless Records tidak keberatan jika para rosternya memilih untuk pergi ke label rekaman lebih besar. Hal ini yang kemudian terjadi pada band seperti Avenged Sevenfold hingga All Time Low. 

“Avenged Sevenfold menginginkan promo tingkat tinggi dan status radio yang merupakan investasi yang sangat besar untuk sebuah label. Untuk label independen seperti kami, itu bisa membuat kami gulung tikar. Melakukan buyout di Avenged Sevenfold lebih masuk akal bagi kami karena kami belum siap untuk membawanya ke level berikutnya," jelas Al Person.

Meski nama-nama besar macam A7X dan All Time Low tak lagi menjadi bagian dari Hopeless Records, label indie ini tetap memiliki formasi artis yang menjanjikan, khususnya di skena punk dan rock. Beberapa band yang baru muncul beberapa tahun terakhir dan potensial antara lain Stand Atlantic, Oliver Francis, SUM 41, Tiger Jaw, Neck Deep, hingga Yellowcard.

Industri musik telah banyak berubah dalam waktu singkat, dari fisik ke digital. Dengan munculnya situs streaming seperti Spotify dan Apple Music, Hopeless Records berkembang dengan pergeseran cara orang mengakses dan membeli musik, sambil tetap mempertahankan minat audiens inti mereka.

“Streaming sekarang menjadi nomor satu untuk menghasilkan pendapatan. Hal terbaiknya adalah kami menghasilkan uang paling banyak dari hal-hal yang tidak kami promosikan. Itu hanya di ekosistem. Kami memiliki hak dan pendapatan itu datang kepada kami dan artis kami," jelas Al Person.

Selain bisnis, Hopeless Records juga peduli pada kesehatan mental para musisi. Kepedulian ini ditunjukan dengan peluncuran kompilasi Songs That Saved My Life Vol. 2 pada September 2019. Songs That Saved My Life, sebagai sebuah brand, kerap menggelar penggalangan dana dan amal untuk menyikapi isu-isu terkait kesehatan mental. Sasaran mereka adalah pelaku musik—musisi, pun dan para pendengarnya.

Songs That Save My Life bertujuan mengajak dan melibatkan musisi-musisi melalui lagu-lagu cover dan cerita mereka tentang lagu itu pada publik luas. Proyek ini nantinya akan mendukung sejumlah organisasi kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri.

 

Image source: Instagram/Hopeless Records

0 COMMENTS