Rage Against The Machine

Tentang Ideologi Bermusik Rage Against The Machine

  • By:
  • Jumat, 23 October 2020
  • 1109 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Tak sedikit band-band yang menyuarakan kritik lewat karya musik, salah satunya adalah Rage Against The Machine (RATM). Band yang berdiri pada 1991 di Los Angeles, Amerika Serikat, ini dikenal dengan ideologi yang sama seperti band punk bawah tanah yaitu kritik berbau politik.

Mengambil aliran musik rap metal/rap rock, Rage Against The Machine dibentuk oleh Tom Morello yang merasa buntu dengan band lamanya, Lock Up. Ia kemudian menemukan de la Rocha yang saat itu menjadi frontman band hardcore, Inside Out. Keduanya kemudian sepakat membentuk band bersama Commerford dan Brad Wilk dengan nama Rage Against The Machine.

Dengan formasi de la Rocha (vokalis), Tom Morello (gitar), Tim Commerford (bass), dan Brad Wilk (drum), musik Rage Against The Machine dipengaruhi band-band seperti Minor Threat, Black Sabbath, Sex Pistols, Public Enemy, Run DMC, dan Cypress Hill. Nama mereka semakin dikenal karena memadukan musik hip hop, funk, heavy metal, dan dance musik.

Rage Against The Machine langsung mencuri perhatian publik ketika merilis demo berisikan 12 lagu. Adalah gambar sampul demo tersebut yang bikin mencuri perhatian karena menggunakan gambar Thich Quang Duc, seorang biksu asal Vietnam yang membakar dirinya di jalanan Saigon (sekarang Ho Chi Minh) pada 1963 sebagai bentuk protes kepada pemerintah.

Karya perdana Rage Against The Machine dijual tanpa label rekaman, namun mampu terjual hingga 5 ribu kopi. Suksesnya demo tersebut membawa Rage Against The Machine bergabung dengan Epic Records, label mainstream yang berinduk kepada Sony.

"Epic setuju dengan semua yang kami minta dan mereka mengikuti itu semua. Kami tidak pernah melihat ada konflik terkait ideologi kami selama kami bisa mengatasi masalah kreativitasnya," ujar Morello terkait keputusan Rage Against The Machine bergabung dengan major label.

Pada 1992, album pertama Rage Against The Machine rilis dengan nama band mereka. Album ini mendapat respons positif di pasaran dengan meraih triple platinum dan masuk Billboard Top 50 dan UK Top 20.

Rage Against The Machine mendapat berbagai pujian dari banyak pihak dan membawa mereka rutin bermain di konser-konser besar. Dari yang mulanya hanya bermain di gigs-gigs kecil, Rage Against The Machine bermain di festival musik macam Lollapalooza, Woodstock, hingga menjadi band pembuka di tur Public Enemy.

Dalam perjalanannya, Rage Against The Machine kerap diterpa isu bubar. Namun, mereka tetap mampu merilis album kedua pada 1996 dengan tajuk Evil Empire. Album kedua ini kembali mendapat kesuksesan dengan memuncaki Billboard Top 200 dan mendapat status triple platinum.

Aksi protes Rage Against The Machine kembali ditunjukkan ketika lagu Bulls on Parade dibawakan di acara Saturday Night Live pada April 1996. Mereka yang seharusnya membawakan dua lagu, dipotong menjadi satu lagu karena berusaha menggantungkan bendera Amerika Serikat secara terbalik sebagai bentuk protes kepada calon presiden dari Partai Republik, Steve Forbes, yang hadir sebagai tamu di acara tersebut.

Pada tahun 1999, Rage Against The Machine merilis album ketiga dengan nama The Battle of Los Angeles. Album teranyar mereka saat itu mendapat status double platinum dengan penjualan 450 ribu kopi dalam pekan pertama dilepas ke pasaran.

Di tengah karier yang semakin menanjak, Rage Against The Machine justru menemui akhir perjalanannya pada 2000. Akumulasi konflik internal hingga tuntutan label seperti tur dan konser disebut-sebut menjadi pemicu utama bubarnya Rage Against The Machine.

Konflik yang paling ramai terjadi pada ajang MTV Video Music Awards 2000 di New York. Acara yang awalnya berjalan lancar tiba-tiba menjadi kacau ketika pemenang kategori Video Rock Terbaik dibacakan yaitu Limp Bizkit.

Bassist Rage Against The Machine, Tim Commerford, tiba-tiba naik ke atas panggung sebagai bentuk penolakan atas keputusan ini. Aksi tersebut menyebabkan acara terhenti hingga akhirnya pihak keamanan menurunkan Commerford dan membawanya ke luar gedung acara.

Dampak dari aksi Commerford tidak main-main, satu bulan setelah insiden itu Zack de la Rocha memutuskan keluar dari band. Ia mengaku malu melihat perangai kawannya tersebut.

"Saya merasa harus meninggalkan Rage Against The Machine sekarang karena proses pengambilan keputusan kami telah gagal total. Tidak lagi memenuhi aspirasi kami berempat secara kolektif sebagai sebuah band dan dari sudut pandang saya, telah merusak cita-cita artistik dan politik kami," ujar La Rocha dalam pernyataannya saat itu.

"Saya sangat bangga dengan pekerjaan kami, baik sebagai aktivis maupun pemusik. Dan saya juga berhutang budi serta mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang telah menyatakan solidaritas dan berbagi pengalaman luar biasa ini bersama kami.”

Meski akhirnya ditinggalkan sang vokalis, Rage Against The Machine masih merilis album keempat mereka pada Desember 2000 bertajuk Renegades. Tak berselang lama setelah album ini dilepas, tiga personel dari Rage Against The Machine membentuk band baru bernama Audioslave.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sleep Now In The Fire

A post shared by Rage Against The Machine (@rageagainstthemachine) on

Sikap Politik Rage Against The Machine

Munculnya sikap politik dari Rage Against The Machine berakar dari pengalaman Morello dan de la Rocha yang tumbuh dalam belenggu rasialisme di masa kecil.

Motivasi mereka berdua untuk menyuarakan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Amerika Serikat seperti rasialisme, kapitalisme, kesenjangan sosial, hingga kekerasan kepada minoritas dituangkan dalam karya Rage Against The Machine.

Muncul lagu-lagu bermuatan poltik dari Rage Against The Machine seperti Know Your Enermy, Take the Power Back, lalu Maria, serta Killing the Name yang menjadi lagu untuk protes dengan salah satu liriknya berbunyi 'Fuck you, I won't do what you tell me."

Meski akhirnya bubar, api perlawanan Rage Against The Machine tetap menyala. Morello, Commerford, dan Wilk membentuk Audioslave, sementara de la Rocha sempat membentuk One Day as a Lion bersama Mars Volta dan Jon Theodore..

Wujud dari perlawanan yang belum usai itu pun dibuktikan dengan kembalinya para personel untuk melakukan konser reuni Rage Against The Machine pada 2007 hingga 2011. Kemudian pada Februari 2020, Rage Against The Machine mengumumkan akan melakukan tur reuni dengan tajuk Public Service Announcement Tour.

Konser ini awalnya direncanakan berlangsung pada 26 Maret hingga 12 September 2020. Namun, pandemi COVID-19 membuat rencana penampilan reuni full team Rage Against The Machine harus ditunda ke musim panas 2021 dengan waktu yang belum dipastikan.

0 COMMENTS