Iggy Pop

Iggy Pop Ciptakan Lagu Tentang Pandemi COVID-19: Dirty Little Virus

  • By:
  • Jumat, 29 January 2021
  • 86 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Penyanyi kawakan asal Amerika Serikat, Iggy Pop, memberi 'ápresiasi' kepada virus COVID-19. Iggy Pop yang kini berusia 73 tahun tersebut membuat lagu khusus bertemakan tentang virus yang juga dikenal dengan severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) itu.

Iggy Pop memberi lagu itu dengan judul Dirty Little Virus yang sudah tersedia di berbagai layanan streaming, termasuk YouTube, sejak Senin (21/12/2020).

Dalam lagu ini, Iggy Pop bercerita tentang COVID-19 yang dalam satu tahun ke belakang masuk ke dalam topik perbincangan dunia. Iggy Pop juga membahas tentang virus corona yang menginfeksi tubuh dengan gaya blak-blakan.

Melalui video yang diunggah di akun YouTube resminya, Iggy Pop menjelaskan bahwa lirik lagu ini memang dibuat tidak bertele-tele. Alih-alih mendramatisasi pandemi yang bikin kehidupan sangat terpengaruh, Iggy Pop menulis lirik dengan kejujuran selama terjadinya pandemi.

Saya tergerak untuk membuat lirik yang langsung, bukan sesuatu yang terlalu emosional atau dalam, tapi lebih seperti jurnalisme," ujar Iggy Pop dalam video itu.

Ïggy Pop juga menjelaskan bahwa di lagu ini ia hanya mencakup empat unsur dasar jurnalisme, yaitu siapa, apa, kapan, dan di mana. "Saya tak membahas unsur 'mengapa' karena akan menjadi terlalu kompleks, tapi saya memasukkan apa yang saya rasakan tentang itu," katanya.

Iggy Pop lantas menegaskan bahwa virus corona menjadi hal besar dalam hidupnya dan juga orang-orang lain selama hampir setahun belakangan. Seperti yang diketahui, pandemi telah bikin berbagai sektor terdampak juga termasuk dunia musik di mana banyak konser yang terpaksa dibatalkan.

Atas segala hal yang telah diberikan oleh pandemi sejauh ini, Iggy Pop dengan tegas menyematkan julukan man of the year kepada COVID-19. Selain tentu saja dengan 'apresiasi' melalui karya musik di lagu Dirty Little Virus.

Iggy Pop sendiri termasuk sebagai salah satu musisi yang produktif di masa pandemi. Pada April lalu, ia dan pentolan Queens of the Stone Age, Josh Homme, merilis film dokumenter mereka di internet untuk menemani penggemar selagi isolasi mandiri.

Bertajuk American Valhalla, film dokumenter yang merekam proses kolaborasi kedua musisi tersebut bisa dinikmati melalui kanal YouTube. Film ini juga dimaksudkan Iggy Pop dan Josh guna mendukung kampanye #stayathome atau #dirumahaja. Peluncuran film ini didasari krisis pandemi, dan bertujuan untuk mengajak pendengarnya untuk berdiam diri di rumah.

American Valhalla bercerita tentang kolaborasi antara dua sosok besar dalam pergerakan musik rock/punk Amerika, yakni Iggy Pop dan Homme. Bersama dengan Dean Fertita (Queens of the Stone Age) dan drummer Matt Helders (Arctic Monkeys), kolaborasi ini menghasilkan album ke-17 milik Iggy sang living legend Iggy Pop, yang adalah Post Pop Depression yang mendarat di tahun 2016 silam.

Melalui unggahan Instagram, Iggy berkata: "Kita sangat berdedikasi untuk memstikan kalian betah di rumah. Maka, kita punya hadiah di hari Senin (30/3). Kita akan menggelar screening daring untuk film American Valhalla."

Iggy juga menambahkan, "Kita sangat senang bahwa Eagle Rock (produser/distributor) memutuskan untuk membagikan harta karun ini sehingga kita semua dapat kesempatan untuk menghidupa ulang #PostPopDepression."

Deskripsi resmi dari film dokumenter itu, seperti yag tercantum dalam laman resminya, bertuliskan, "(Film ini) membawa kalian menyusuri perjalanan dari awal kolaborasi ini dikonsepkan, hingga demo pertamanya yang direkam di padang pasir California. Yang kala itu dikerjakan oleh band yang kemudian di namakan Post Pop Depression band, berisikan Deat Fertita (QOTSA) dan drummer Matt Helder (AM). Ia juga lanjut menceritakan hingga perilisan albumnya, serta kala menggarap tur sold-out di Amerika dan Eropa, yang di dalamnya juga mengemas aksi apik di Ryal Albert Hall di London."

"American Valhall adalah proyek sekali seumur hidup yang sangat berharga. Menampilkan di dalamnya sinematografi keren dan wawancara informatif, serta akses cuplikan yang eksklusif. Film ini mampu menjelaskan bahwa jika kalian tidak mau ambil resiko, maka kalian tidak akan dapat apa-apa, tak peduli siapa diri kalian."

Adapun, sebelum pandemi melanda Iggy Pop sudah berhasil lebih dulu merilis album studio ke-18 sebagai penyanyi solo. Album ini bertajuk Free yang dirilis pada September 2019.

Melalui siaran pers yang beredar, Iggy Pop menjelaskan bahwa Free adalah materi album yang bersifat “kontemplatif dan murung”. Terdapat juga kontribusi dari beberapa musisi tamu seperti Noveller dan Leron Thomas.

“(Free) merupakan sebuah album yang memungkinkan musisi lain berbicara kepada saya, tapi saya juga turut memberikan suara sendiri,” ungkap Iggy Pop.

“Tiba di akhir tur album Post Pop Depression, saya merasa yakin bahwa saya harus menyikapi permasalahan kegelisahan yang sudah lama hinggap dalam kehidupan pribadi dan karir saya. Saya juga merasa lelah dan terkuras. Saya ingin kebebasan. Saya tahu itu hanya ilusi, dan bahwa ‘kebebasan’ itu hanyalah merupakan sesuatu yang kamu sendiri rasakan—tapi saya sudah menjalani hidup saja sejauh ini, dengan percaya bahwa apapun itu yang kita inginkan patut dikejar; bahwa yang sesungguhnya dibutuhkan bukanlah kesenangan atau cinta, tapi perasaan merasa bebas itu sendiri," ujar Iggy Pop.

"Intinya, album ini seperti datang tiba-tiba kepada saya, dan saya pun membiarkannya hinggap,” jelas Iggy Pop.

0 COMMENTS