WANTED MUSIC LIT: Indonesia Butuh Lebih Banyak Literatur Musik!

  • By: AB
  • Jumat, 11 November 2016
  • 3408 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Datanglah ke toko buku, dan coba cari buku biografi musisi, band, atau sejarah musik Indonesia. Bisa dipastikan Anda akan kesulitan mendapatkannya. 

Barangkali, musik bagi kita masih sekedar perkara bunyi. Belum sampai ke titik penting di sekitarnya, termasuk soal pengarsipan. Kalaupun ada, gagasan itu lahir secara swadaya dan masih jauh untuk disebut kultur. Lepas dari bunyi, kehadiran musik dibuntuti peristiwa-peristiwa menarik. Mulai dari kehidupan pribadi si musisi, perjalanan karier, sampai proses kreatif di balik karya-karyanya.

Sebut saja nama band lokal besar secara acak, lalu pikirkan bagaimana cara kita mendapatkan informasi sahih tentang itu. Tentu tidak mudah menemukan solusinya. Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kemahsyuran kuartet perempuan rock star Dara Puspita, juga tidak tahu bagaimana liarnya God Bless era 1970-an, atau bagaimana musik ala Barat berjibaku dengan keputusan politik Soekarno di era 1950an-1960an awal. Tidak ada buku yang menukil itu semua. Akhirnya, kita terpaksa meraba sejarah dengan mata tertutup.

"Kalau kita berkunjung ke toko buku, jelas sekali bahwa jumlah literatur musik kita kalah jauh dibanding musik luar negeri - Amerika Serikat dan Inggris. Bicara kualitas, saya rasa kekalahan kita jauh lebih telak lagi," kata Eko Wustuk, penulis Rock Memberontak.

Eko cukup jeli dalam merangkai benang merah Rock Memberontak, dengan menitik beratkan konten kepada penuturan proses kreatif di balik penulisan lagu dari dua musisi rock, Robi "Navicula" dan Che "Cupumanik."

Menurut Eko, merekam peristiwa musik lewat buku akan memberi dampak bagi generasi mendatang. Setidaknya, sebagai referensi tentang apa yang pernah terjadi di dunia musik Indonesia.

"Menurut saya, semua bidang ilmu butuh literatur. Itu adalah pijakan bagi generasi sekarang untuk membangun masa depan yang lebih cemerlang. Pada akhirnya, juga akan jadi pijakan bagi generasi mendatang untuk melakukan hal serupa. Musik tanpa literatur, saya yakin, tidak akan ke mana-mana. Kesalahan yang sama akan diulang oleh musisi berikutnya dan kemajuan yang dicapai oleh musisi dari generasi sebelumnya hilang dari ingatan."

 

Rudolf Dethu, penulis buku biografi Superman Is Dead, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral!, merasa soal pengarsipan - lebih-lebih musik - belum jadi budaya. Bahkan, pemerintah yang seharusnya menjadi tonggak penting pengarsipan pun tidak melakukannya dengan baik.

"Dari pemerintah, negara, enggak pernah mencoba mengarsipkan musik. Beda dari luar negeri, musik pop sekalipun tetap ada peneliti yang menerbitkan buku atau jurnal ilmiah. Kita bisa tahu rekam jejak musik itu," jelas Rudolf saat dihubungi via telpon.

Soal bobroknya budaya pengarsipan - yang tentu berkaitan dengan budaya menulis, membaca, merawat - ikut disorot oleh David Tarigan, pengamat sekaligus pengarsip musik dari lembaga pengarsipan musik swadaya, Irama Nusantara. 

"Negeri ini sudah cukup miskin soal pengarsipan data. Sejarah negeri ini saja minim sekali. Apalagi soal (literatur) musik," kata David.

Dari penelusuran SuperMusic.id, setidaknya ada dua lusin judul buku populer terkait musik Indonesia, beberapa di antaranya adalah buku 100 Tahun Musik Indonesia (karya Denny Sakrie), Ucok AKA: Antara Rock, Wanita & Keruntuhan (Siti Nasyi'ah), Based on True Story: Biografi Pure Saturday (Idhar Resmadi), Negeri Pelangi (Ras Muhammad), dan Koes Plus Tonggak Industri Musik Indonesia (Ais Suhana)

Dari buku-buku yang ada, terbilang jarang buku biografi yang dapat dijadikan "kamus A-Z" bagi penggemarnya. Lantas, siapakah yang sebenarnya bertanggung jawab atas minimnya literatur musik di Indonesia?

"Jelas (kepedulian menulis buku lahir dari) musisinya. Kemudian fans-nya. Dua pihak itulah yang bisa, dan hanya mereka yang bisa, melahirkan karya literatur musik yang jujur dan bermutu. Kalau yang peduli label atau penerbit buku, semua akan dikembalikan pada pertanyaan: Emang bukunya bakal laku?" kata Eko.

Sedangkan David berpendapat, literatur musik tak harus selalu lahir dari tangan musisi, "Kesadarannya bukan jadi tugas musisi. Tetapi bagaimana orang yang memiliki talenta menulis, dan punya ketertarikan mau menceritakan kembali kepada orang-orang. Harusnya, mereka (penulis) yang lebih dulu bergerak. Pastinya yang muda, yang masih punya energi, dan bisa menyalakan api-api yang dimiliki musisi. Meski hal ini mutual, butuh saling dukung dengan musisi juga."

 

Rudolf, yang pernah bertindak sebagai manajer Superman Is Dead dan akrab dengan skena musik di Bali, menilai bahwa minimnya budaya menulis sejarah dan biografi musik didasari empat faktor. 

"Pertama, ada rasa malu karena band atau musisi itu merasa masih belum apa-apa. Kedua, kurangnya kesadaran tentang pengarsipan. Para band kadang merasa Facebook Fan Page sudah maksimal, padahal kita tidak tahu seperti apa nasib Facebook ke depan, bisa saja akan seperti Friendster. Paling tidak, arsipkan lewat website atau buku."

"Faktor ketiga, mencetak buku masih mahal. Keempat, faktor takut apakah ada yang beli atau tidak, ini terkait soal minat baca masyarakat kita yang rendah," papar Rudolf.

Mengenal band atau musisi idola tidak cukup lewat telinga, membaca sejarah dan biografi mereka adalah asupan wajib penggemar musik. Sayangnya, karier puluhan tahun, menaklukkan ribuan panggung, dan memegang platinum penjualan jutaan kopi bukan jaminan bahwa para musisi akan terekam dalam kata dan jadi bagian sejarah, karena bisa saja terlupakan begitu saja tanpa jejak yang jelas. 

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
4078 views
superbuzz
4502 views
superbuzz
3677 views
superbuzz
3852 views
superbuzz
5334 views