Interview Gavin Iedema: Industri Kurang Mendukung Kemajuan Gitaris Muda

  • By: LS
  • Kamis, 5 November 2015
  • 6561 Views
  • 1 Likes
  • 1 Shares

Gitaris Gavin Iedema memutuskan untuk menjadi gitaris solo dan merambah pasar yang lebih segmented. Ini merupakan langkah yang cukup berani, mengingat ia harus mengerjakan segala sesuatu seorang diri. Bukan masalah jika ia memiliki kemampuan dan tools yang memadai, bukan? Lewat wawancara by phone bersama SuperMusic ID, Kamis (5/11) sore, Gavin yang merupakan juara pertama Supergitar Competition 2014 berbincang soal dirinya yang lebih memilih menjadi gitaris solo ketimbang bermain bersama band, kendala para gitaris muda sampai kesalahan-kesalahan yang masih ia lakukan sebagai gitaris pro.

Projek apa yang saat ini sedang Anda jalankan?

Sekarang ini masih ngejalanin projek dari SuperMusic ID dan Gitar Plus. Album baru juga saya memang rilis setiap setahun sekali tiap bulan April. Kemarin kan udah dua album, sekarang ini lagi nyiapin album ke-tiga. Terus saya juga bantuin Yuke Dewa, dia mau bikin album dalam waktu dekat.

Masih terinfluence oleh Mr. Big, Steve Vai & Joe Satriani kah? Apa seiring perkembangan waktu mulai menemukan influence baru?

Paling banyak sih sekarang temen sendiri. Jadi di sini kan saya sering kumpul bareng komunitas dan sering sharing juga. Kumpul di rumah siapa, guitar camp, terus tukeran ilmu juga. Di situ ilmunya lebih dapet dibandingin sama nonton Youtube.

Sejak umur 24 tahun Anda memilih menjadi gitaris tunggal atau solois. Kenapa lebih memilih career path ini dibandingkan berkarir bersama band?

Kalau jadi gitaris solo lebih segmented dan ketauan siapa yang suka sama saya dan siapa yang enggak. Jadi begitu saya bikin album, begitu saya membuat sesuatu, saya lebih tau pasarnya untuk siapa. Dibandingkan sama band, band itu random banget. Antara yang suka dan enggak suka itu nyampur, enggak kekelompok. Saya sempat menjalani keduanya dan lebih ribet, malah lebih jalan projek solonya.

Kendala apa yang ditemui setelah memutuskan menjadi solois?

Kendalanya, ya perjuangannya semua sendiri (tertawa). Kalau band kan kita bisa rame-rame gotong royong.

Sebagai solois Anda mengerjakan segala sesuatunya sendiri, apakah tidak ada keinginan untuk bergabung bersama label?

Kalau ditawarin untuk masuk label itu pernah atau ada teman yang mau bantu itu pernah. Cuma, dari sistem pembagiannya mereka lebih memikirkan… ya saya sih cuma mau ada orang yang ikhlas bantuin saya (tertawa). Saya enggak mau bekerja dengan orang yang melihat sisi bisnis, di mana mereka harus untung. Soalnya projek solo gitar itu pasarnya enggak kayak bensin yang orang setiap hari beli. Orang habis beli album saya kan enggak akan beli lagi kalau enggak ada album baru.

Setiap tahun Anda rutin mengeluarkan album baru dan mesti di bulan April. Kenapa mesti seperti itu?

Ya… biar ada job lagi, biar ada promo lagi, biar ada penjualan lagi, biar berjalan terus. Kalau saya nyimpen stok untuk beberapa tahun ke depan, berarti saya tidak ada penjualan lagi, penjualan pasti menurun. Soalnya penjualan bagus itu di awal tahun.

Jadi sebagai strategi penjualan juga, ya?

Saya sih mikirnya, ketika album keluar dan lewat dari lima bulan, penjualan udah mulai menurun.

Apakah dengan waktu perilisan yang terjadwal tidak menjadi tekanan untuk Anda ketika membuat karya?

Enggak, justru jatuhnya jadi ada kegiatan. Jadi ada yang dilakuin. Kalau nunggu job doang kan bosen. Coba kalau ada yang ngundang, kalau Januari awal tahun kan, waduh sepi, lagi pada tutup buku (tertawa).

Selain jadi gitaris, apa ada side job lain?

Paling ngajar online, terus review produk alat musik. Beberapa suka ada yang kirim dan minta di-review, dibikinin video.

Sebagai gitaris profesional, kesalahan apa yang kadang masih terjadi ketika manggung?

Oh, banyak (tertawa). Pertama, salah kostum. Salah kostum paling sering tuh. Pas liat pamfletnya, wah acaranya bagus, nih. Eh, taunya pas dateng panggungnya cuma sepetak, baju udah keren kayak penyanyi dangdut (tertawa). Kalau udah kayak gitu, ya udah lah jalanin terus.

Bagaimana soal teknis dan kesalahan bermain gitar?

Untuk teknis sih saya biarkan mengalir aja. Kalau ada kesalahan, semua orang juga memaklumi, kok. Karena kita bermain aktif dan udah enggak melihat gitar lagi, kan. Fokus kita menghibur penonton. Penonton juga mungkin enggak ngerasain itu. Paling yang udah hafal banget lagu baru mereka tau, paling mereka ketawa doang enggak sampai komplain.

Apa yang mesti disiapkan agar percaya diri ketika naik ke atas panggung?

Baru naik panggung aja orang udah ngeliat kita, jangankan di panggung. Waktu kita sampai di venue, orang udah merhatiin kita. Artinya, kita mesti dandan sesuai tempat, enggak yang terlalu berlebihan, tapi enggak gembel juga. Apalagi saya kan pakai gitar yang mencolok, saya baru ngeluarin gitar aja orang udah merhatiin saya semua. Kayak warna pink gitu, orange kalau kena lampu.

Apa saja gear utama yang sekarang dipakai?

Kalau ampli saya enggak pakai. Paling langsung suara dari efek-efek yang saya bawa. Saya enggak mau ribet. Kalau gitar saya pakai yang dibikinin teman. Itu disesuaikan sama apa yang saya pengen.

Penting kah stompbox untuk seorang gitaris?

Penting, karena di situ memang spesialis kan kita belinya satuan. Kalau multi efek kan meragukan. Sama kayak profesi orang aja, dibandingin sama yang serabutan kan pasti lebih jago yang spesialis.

Berapa lama sampai Anda menemukan karakter sound yang pas untuk permainan gitar Anda?

Wah, lama banget. Sampai sekarang aja saya belum nemu. Soalnya saya harus nyobain semua alat yang ada. Sekarang saya udah nemu dengan efek simulator ini, tapi enggak tau lagi ceritanya kalau saya punya duit dan bisa beli yang lebih mahal, pasti berubah lagi.

Intinya pasti tidak akan pernah puas, ya?

Ya (tertawa). Pasti kita bakal terus eksperimen sampai nemuin karakter. Yang penting sih selalu tampil beda aja jangan ngikutin siapa-siapa.

Menurut Anda, apa yang membuat gitaris muda enggak maju-maju?

Kalau saya ngeliat dari industrinya. Industrinya kurang support. Industri banyak kan nih, mulai dari distributor alat, label, perusahaan rekaman dan sebagainya. Mereka mikirnya cuma soal bisnis dan keuntungan doang. Kalau saya punya studio rekaman nih, kalau saya ngajak gitaris yang belum terkenal kan belum tentu laku dijual, intinya enggak akan ada income buat tempat saya.

Dengan keadaan seperti itu, kira-kira solusi apa yang menurut Anda bisa memperbaiki masalah para gitaris muda ini?

Saran saya, bikin video terus, promosi terus ke orang buat nunjukin kalau permainan gitar mereka itu layak dinikmati dan layak untuk dibayar. Bikin videonya juga enggak main-main, harus yang bagus.

Gitaris cerdas menurut Gavin Iedema?

Gitaris cerdas… Mulai dari komposisi musik, mengatasi masalah di panggung atau di luar panggung, cara dia mengatasi itu semua pasti keliatan lah. Misalnya dia tiba-tiba keceletot dia enggak langsung panik dan grogi. Dia masih bisa nutupin semua itu. Dia juga bisa manage semuanya, mulai dari album, promosi, video, semua aspek bisa dia urus sampai orang ngerasa, ‘Wah dia udah diurus sama manajemen, nih,’ padahal enggak. 

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
4685 views
superbuzz
9796 views
superbuzz
8794 views