Pamungkas

Jalan Sunyi Pamungkas, Solois Muda Berbakat

  • By: NND
  • Selasa, 27 August 2019
  • 241 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

Dari sederet solois di Hodgepodge Superfest 2019 (HPSF 2019), Pamungkas adalah salah satu yang termuda. Penyanyi-penulis berusia 26 tahun ini akan menapak di panggung di Allianz Eco Park, Ancol di hari ke dua, Minggu, 1 September.

Dikenal setelah merilis lagu ciptaannya “I Love You But I’m Letting Go” dari debutnya, Walk the Talk, musisi muda ini seakan tengah membuktikan eksistensinya kancah musik nasional. Ia bukan musisi kemarin sore yang layak diremehkan, lantaran sudah bermusik sedari kecil.

Perjalanan musiknya tidak selalu mulus, telinga Pamungkas terganggu—sebelah kanan setengah tuli dan yang kiri tuli total. Pam, sapaan akrabnya, dirahasiakan kondisi inderanya.

Ia terjun ke dunia musik dari les drum, dengan harapan kerasnya instrumen ini dapat memulihkan telinganya. Les drum pun tak lama ia tinggalkan karena merasa ingin buru-buru terjun dan bermain musik. Tidak hanya drum, ia bahkan sempat mengikut les gitar meski hanya sebulan.

Pam adalah otodidak, ia belajar bermain piano, lanjut gitar dan drum. Beruntung ayahnya pelaku industri sebagai founder salah satu manajemen artis kenamaan. Ayahnya yang kerap mengajaknya ikut tur semenjak usia dini.

Ia mulai dari bawah, sebagaimana ayahnya berpesan, dan mulai menapaki langkah-langkah menjadi seorang musisi. Dimulai dari kru, naik menjadi pengisi gitar, lalu menjabat posisi ko-produser, hingga akhirnya mampu menjabat sebagai produser.

Sekarang Pam sudah mampu melangkah sendiri. Benar saja, ia pun melangkah sendiri dan tampaknya, berhasil menemukan arah yang tepat. Kariernya sebagai solois mulai menopang nama dan karyanya.

Pam mengaku banyak terinspirasi dari musisi-musisi Britania Raya dan Amerika Serikat. Nama-nama seperti Beach Boys, Radiohead, The Beatles, The Smiths, hingga Artic Monkeys masuk kedalam kantong kiblatnya. Tidak hanya itu, dalam menulis lagu ia juga belajar banyak dari duo Lennon/McCartney, John Mayer, Sondre Lerche, dan Bob Dylan.

Dalam karya Pam, juga terasa aksen elektronika yang kental mengalir. Jelas rasanya, karena ia pun turut merujuk musisi serupa seperti Disclosure, FKJ, Maggie Rogers, Jacob Collier, dan Ruby Empress.

Ia menggabungkan penjiwaan folk dalam penulisan lagu dengan ragam tekstur dari pendekatan elektronikanya. Keduanya tak lupa dirajut dengan nada catchy dari repertoar pop, begitulah caranya berkarya.

Perjalanan solo karier Pam terbilang berjalan perlahan tapi pasti. Perjalanan karirnya pun ia jalani secara bertahap. Semenjak tahun 2012, ia sudah mulai menulis lagu untuk proyek solonya, contoh hits kenamaannya, “I Love You But I’m Letting Go”, “We’ll Carry On”, dan “Bambino”. Lagu-lagu ini menemukan rumahnya yang tepat ketika akhirnya ia merilis album debutnya.

Walk The Talk diproduseri sendiri oleh Pamungkas. Awalnya ingin membuat album pop, pada akhirnya ia beralih ke elektronik pop. Unsur elektronik sangat kental dalam album ini, beberapa kali vokal Pam juga terdengar dipoles dengan efek.

"Sebagai musisi gua ingin membuat musik yang listenable. Mudah untuk bikin yang susah didengar, tapi tidak mudah untuk bikin yang listenable, menurut gua itu tantangan tersulit sebagai musisi," kata Pam, dilansir dari CNN.

Pamungkas juga akan menjadi salah satu penampil solo lokal di jajaran penampil di Hodgepodge Superfest 2019. Sebagai salah satu festival musik yang mengandalkan percampuran genre yang apik di dalamnya, Hodgepodge Superfest 2019 akan membuka panggungnya di Allianz Ecopark, Ancol pada tanggal 31 Agustus – 1 September 2019.

Pastikan kehadiran kalian dan jangan lupa untuk menyikmak aksi panggung dan karya-karya Pamungkas yang akan ia bawakan secara live nantinya!

Dengarkan juga “I Love You But I’m Letting Go”, salah satu trek kenamaan dan yang menjadi single keempat dari album debunya, Walk The Talk, di bawah ini:

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
237 views
superbuzz
133 views
superbuzz
188 views
superbuzz
153 views
superbuzz
198 views
superbuzz
165 views