Juni Records: Menjadi Kuat Melalui Industri Musik Digital

Juni Records: Menjadi Kuat Melalui Industri Musik Digital

  • By:
  • Kamis, 11 February 2021
  • 355 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Melejitnya nama Raisa sebagai seorang musisi di pertengahan era 2010-an membuat nama Juni Records pun ikut meroket. Juni Records merupakan sebuah perusahaan rekaman asal Indonesia yang didirikan oleh Adryanto Pratono di tahun 2013. Kini Juni Records telah berhasil jadi rumah untuk musisi-musisi berkualitas Tanah Air. Sebut saja, Kunto Aji, Ramengvrl, Dipha Barus, hingga Barasuara ikut tergabung di dalam naungan Juni Records.

Ketertarikan Adryanto Pratono terhadap profesi manajerial di dalam industri hiburan ternyata sudah ditemukannya sejak remaja. Berawal sebagai fotografer lepas, Adryanto Pratono mulai mencoba untuk menjadi manajer untuk Emayla Band. Dari pengalamannya sebagai manajer band itu, Adryanto Pratono mendapatkan tempaan ilmu dan pengalaman secara nyata. Setelah dari Emayla Band, Adryanto Pratono pun sempat juga berprofesi sebagai manajer dari Ladya Cheryl. Ilmu yang didapat saat kerja juga dirinya padukan dengan ilmu-ilmu yang Adryanto Pratono dapatkan di masa kuliah sebagai mahasiswa komunikasi. Pengalamannya sebagai manajer juga dirinya asah dengan pengetahuan tentang marketing dan bisnis yang akhirnya membuat Adryanto Pratono memiliki karier yang kuat di industri hiburan hingga akhirnya sang founder dan CEO untuk Juni Records bertemu Raisa dan melanjutkan kariernya sebagai business manager untuk salah satu diva muda Tanah Air tersebut sejak tahun 2009.

Seiring berjalannya waktu, Adryanto Pratono pun semakin merasa masih banyak yang bisa dirinya lakukan untuk mengembangkan potensi industri musik di Indonesia. Melihat perkembangan musik digital semakin pesat setiap harinya, akhirnya di tahun 2013, Adryanto Pranoto mendirikan Juni Records yang baru aktif di tahun 2015 dengan tujuan untuk mengembangkan industri musik dalam ranah digital di Indonesia. Potensi bisnis di industri musik digital ini pertama kali datang kepada Adryanto Pratono sesaat dirinya mulai melihat pergerakan Apple yang mulai gencar memasarkan iTunes, yang kini dikenal dengan Apple Music, di pasar Indonesia. Adryanto Pratono pun penasaran dan ingin mengetahui bagaimana caranya, lagu Raisa yang direkam di Jakarta untuk dapat didengarkan secara digital bagi seluruh masyarakat Indonesia maupun dunia. Akhirnya setelah banyak bertanya dan mencari tahu tentang skema promosi dan bisnis dari streaming musik, akhirnya Adryanto Pratono serius untuk mengembangkan hal tersebut ke dalam Juni Records. 

Meskipun fokus untuk musik secara digital, nyatanya hal tersebut tidak mempermudah jalur Juni Records dalam industri musik. Mau tidak mau, Juni Records harus tidak gentar berkompetisi dengan perusahaan rekaman yang lebih dulu tersohor di Indonesia. Kompetisi yang sengit di industri musik Indonesia pun membuat Adryanto Pratono terus mengasah ilmunya. Demi Juni Records, dirinya pun kerap membaca buku, jurnal dari internet, hingga menghadirkan studi kasus demi mengembangkan bisnis musik secara digital. Adryanto Pratono pun bahkan tidak segan untuk menghadiri konferensi dan festival musik untuk mendapatkan ilmu yang dibutuhkan oleh dirinya dalam mengembangkan potensi bisnis dari Juni Records. Diketahui bahwa Adryanto Pratono bersama Juni Records pun pernah menghadiri gelaran Music Matters di Singapura hingga South By South West di Amerika Serikat demi membangun relasi sekaligus mendapatkan pengetahuan. 

Dari perjalanan mencari ilmu tersebut Adryanto Pratono memahami lebih mendalam mengenai konsep New Music Friday yang telah digunakan oleh layanan musik streaming selama ini. Tidak hanya mengetahui bahwa setiap minggu tangga musik akan terus berubah, Adryanto Pratono pun memahami tentang algoritma serta proses kurasi yang dibutuhkan dalam memberikan musik-musik baru setiap pekannya untuk para penikmat musik di seluruh dunia. Akhirnya, dengan perlahan tapi pasti Adryanto Pratono pun membuktikan bahwa Juni Records mampu bersaing di ranah musik digital, sejak 2016 revenue musik yang dirilis oleh Juni Records melalui platform streaming setiap tahunnya selalu mendapatkan peningkatan yang cukup signifikan.

Di tahun 2018 juga jadi tanda bagi berkembanganya Juni Records sebagai sebuah perusahaan. Di tahun tersebut, Adryanto Pratono pun memperkenalkan Juni Studio sebagai sebuah divisi baru yang berada di bawah bendera Juni Group. Juni Studio merupakan sebuah music camp dari Juni Records dengan fokus untuk meningkatkan potensi karya kreatif dari para musisi yang tergabung di bawah perusahaan rekaman tersebut. Namun, Juni Records juga membuka kesempatan secara lebar bagi para musisi yang ada di luar Juni Records untuk berkolaborasi bersama Juni Studio. Para musisi yang terlibat di dalam music camp dari Juni Records ini nantinya akan dipandu dan diarahkan oleh Marco Steffiano, Raisa Andriana, serta Dipha Barus sebagai produser. Hadirnya Juni Studio diharapkan oleh Adryanto Pratono untuk dapat menghasilkan kolaborasi terbaik antara Juni Records bersama seluruh musisi di Indonesia. 

Berawal untuk dapat menghadirkan kualitas musik terbaik untuk genre rock, pop serta EDM, Juni Records pun melakukan ekspansi untuk dapat menyentuh penikmat musik hip hop di Indonesia. Atas dasar itu, Juni Records pun akhirnya melakukan kolaborasi bersama Underground Bizniz Club, sebuah manajemen musik yang fokus di ranah hip hop. Dengan bergabungnya Underground Bizniz Club bersama Juni Records, akhirnya perusahaan rekaman milik Adryanto Pratono tersebut berhasil meminang nama-nama beken di ranah hip hop, seperti Ramengvrl, Gbrand, dan Keilanboi ke dalam roster mereka. 

Selain fokus dalam kreasi musik dan pengembangan musisi, Juni Records pun tetap mendukung aspek promosi kepada musisinya dengan merilis sebuah divisi khusus merchandise. Merchandise ini hadir dalam bentuk kaos, aksesori, serta rilisan fisik dari para penikmat dan penggemar musik dari para musisi yang tergabung di dalam Juni Records. 

Image courtesy of Adryanto Pratono/Davian Akbar

0 COMMENTS