Lima Cover Album Populer Masa Kini

Kisah di Balik 5 Sampul Album Ikonis Masa Kini

  • By: NND
  • Selasa, 30 July 2019
  • 645 Views
  • 5 Likes
  • 1 Shares

Ketika membicarakan perpaduan paling “terang-terangan” dari seni visual dan musik—maka hal yang paling cocok untuk dibicarakan adalah sampul album.

Berawal sejak era 30-an, seni visual telah menjadi wajah bagi banyak album. Ada masanya, keberhasilan diakui saat album yang dibungkusnya memperoleh penjualan yang lebih tinggi. Sampailah industri masuk ke format LP, dengan piringan hitam yang lebih luas, sampul album pun menjadi semakin krusial.

Sejak awal, sampul album berfungsi sebagai ruang visual untuk memberikan gambaran lebih atau perspektif tertentu atas musik yang ditawarkan. Tidak hanya itu, sampul juga mengemban peranan penting sebagai pembentuk identitas visual dari album. Aspek ini penting untuk menanam musiknya ke dalam otak dan ingatan para pendengar.

Maka, SUPERMUSIC merangkum 5 sampul album menarik dari era 2000-an hingga saat ini. Adakah album favorit kalian dalam daftar ini? Baca selengkapnya di bawah!

1. The Strokes - Is This It (2000)

Untuk debut album mereka, The Strokes memilih wajah yang tepat. Album ini mendapatkan predikat ikonik juga karena visual sampulnya. Sampul Is This It menampilkan bagian paha dan bokong perempuan berwarna putih pucat dan tangan berbungkus sarung tangan kulit. Kesan seksi, menggoda, dan sulit untuk dilupakan muncul saat melihat sampulnya. Kontras warnanya juga tampak menonjol—monokrom yang semakin hidup terutama saat bertemu dengan sarung tangan kulit yang digunakan modelnya.

Foto ikonik ini merupakan karya seorang fotografer Colin Lane, seperti The Strokes, ia berasal dari New York. Lucunya, ketika foto ini sudah dicetak dan di-print, Lane belum sempat menunjukannya kepada vokalis, Julian Casablancas—yang ternyata lebih menyukai gambar atom bertabrakan. Pilihan Casablancas menjadi sampul Is This It wilayah penjualan Amerika Utara. Jika saja Julian menemukan gambar atom-atom itu lebih dulu, mungkin saja album ini akan memiliki sampul yang jauh berbeda. Sementara sarung tangan kulit yang dipakai modelnya, Lane juga mengaku itu bukan kepunyaannya. Itu hanyalah sarung tangan bekas sesi foto fashion yang masih tertinggal dan baru diambil sehari setelah foto ikonik itu diabadikan.

2. Paramore - RIOT! (2007)

Coretan ala doodle yang diramaikan oleh tulisan “RIOT!” sebagai judul albumnya di desain oleh Mark Obriski. Cukup fenomenal dan ikonik, album ini menjadi pijakan mantap bagi Paramore. Dilepas di tahun 2007, RIOT! memuat berbagai hits single macam “Misery Business”, “Crushcrushcrush”, dan “That’s What You Get”. Kali ini, tema yang diusung oleh sampul RIOT! sangat klop dengan musiknya. Doodle coretan dengan style punk yang kasar menimbulkan aksen muda, liar, bebas, tapi tetap terjerat permasalahan pribadi. Seperti sebuah coretan personal di suatu catatan diary.

Saat album ini dirilis, frontwoman Hayley Williams masih berusia 18 tahun. Album kedua ini menjadi sebuah fenomena, diterima secara baik oleh kritik dan publik. sampul albumnya sempat terbentur kontroversi ketika para pecintanya menuduh Justin Bieber meniru  Riot! untuk sampul singlenya, “We Were Born For This”. Kalau menurut kalian bagaimana? Apakah benar Bieber menirunya, atau hanya mirip saja?

3. Kendrick Lamar - good Kid, M.A.A.D City (2012)

Ini adalah album kedua rapper yang saat ini menjadi salah satu nama teratas di kancah musik hip-hop dunia. Kendrick Lamar merilis good Kid, M.A.A.D City di tahun 2012. Album sophomore-nya berhasil menjadi pembuktiannya, sekaligus mengantarnya ke kancah hip-hop papan atas dan menjadi musisi fenomenal generasi saat ini. Melalui rilisan ini, Lamar benar-benar memperlihatkan kualitas musik dan lirikalnya. Caranya bernarasi dan kekuatan benang merah tema di sepanjang album adalah resep keberhasilan album ini.

Mengusung tema serupa dengan musik dan narasinya, sampul good Kid dihuni foto polaroid lawas otentik yang menampilkan Lamar kecil ditengah paman-pamannya. Sekaligus foto Lamar bersama kakek, dan ayahnya yang terpajang di tembok persis dibelakangnya. Paman yang memangku Lamar terlihat menunjukan lambang geng dengan tangan kanannya; sebuah tanda bahwa ikatan keluarganya dengan kehidupan geng mengalir deras. Lamar terlihat sangat kecil, benar-benar seperti good kid yang berada di tengah kota yang gila. Sebuah penyajian dari cinta, keluarga, kekerasan yang jujur dan terus terang.

4. Kanye West - Yeezus (2013)

Sebagai album studio keenam dari sang rapper penuh kontroversi ini, Yeezus merupakan sebuah album yang merumahi 10 trek besutannya, yang dikemas dengan tritmen produksi yang cukup berani. Secara narasi—lirik-lirik di dalamnya masih berkutat dengan hal yang hampir sama dengan beberapa rilisan sebelumnya, tapi dikisahkan dengan tema dan referensi yang lebih “religius”. Meski begitu, lampu sorot dalam album ini dibidik ke arah produksinya. Kanye menampilkan, sekali lagi, bagaimana beats-nya mengemban ekplorasi, pemikiran kedepan, dan mampu menjadi sesuatu yang cukup berbeda dari rilisan sebelumnya.

Tidak kalah menariknya, adalah sampul albumnya. Yeezus menyajikan sebuah sampul yang sangat minimalis. Terlalu minimalis, bahkan, untuk beberapa orang. Wajar saja, CD case-nya kosong tanpa sampul, begitu juga dengan desain CD-nya yang dibiarkan kosong. Satu-satunya grafik yang hadir hanyalah label merah yang hinggap di bagian kanan bawah album ini, yang bertuliskan judul albumnya, “Yeezus”. Dari mana asalnya album ini terbentuk, sulit untuk dilacak. Namun, kala itu Virgil Abloh—desainer kenamaan brand besar macam Louis Vuitton dan Off-White—bekerja sebagai salah satu art director dari tim Kanye. Dalam sebuah kesempatan saat ia menggelar ceramah di Universita Colombia, ia sempat menyatakan bahwa format sampul yang mereka majukan ini melambangkan sebuah ucapan selamat tinggal untuk format CD. Ya, dengan kata lain, sampul tersebut hendak menandakan kematian format CD yang sudah semakin tidak relevan di era digital ini.

5. Lorde - Melodrama (2017)

Dari kancah musik pop global, Lorde bukanlah nama kemarin sore. Album debutnya, Heroine langsung menempatkannya sebagai salah satu artis muda berbakat. Musiknya yang segar, unik, berkarakter dan sangat relevan menjadi senjata utamanya. Di album Melodrama, Lorde membuktikan bahwa dalam segi musikalitas, ia tetap menjelajahi sisi-sisi terluarnya. Meski tidak sesukses Heroine dari segi komersil, album ini adalah musik pop yang jujur. Tak kuran, album ini menampilkan tumpah-tumpahnya perasaan Lorde yang diiringi aransemen pop modern dan lawas dengan cara yang sangat serasi.

Sampulnya pun menampilkan sisi magis dari gaya fine art. Warna biru yang dominan menjadi asupan utama lukisan karya Sam McKinnsis, yang menngambarkan seorang Lorde yang sedang rebahan di atas tempat tidur, dan di dalam selimut. Permainan cahaya dan bayangan dari lukisan minyak tersebut mampu memberikan perspektif yang cocok dengan tema-tema yang diangkat oleh Lorde sebagai narasi dalam keutuhan albumnya. McKinniss mengaku bahwa melalui lukisan itu ia ingin menangkap kehidupan remaja, dan ia tampaknya berhasil. Bahkan, Lorde sendiri sampai menjadi fangirl karya-karya McKinniss dan akhirnya mereka bertemu untuk minum kopi bersama. Lukisan tersebut berhasil menghidupkan dimensi kerentanan, keterasingan dan kesepian tapi juga indah, lembut, dan mendalam. Semuanya menjadi pilar-pilar utama Lorde saat menyusun Melodrama.

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    visual sampul albu The Strokes berkesal seksi dan menggoda

Info Terkait

superbuzz
33 views
superbuzz
195 views
superbuzz
335 views
superbuzz
306 views
superbuzz
83 views