sugar man

Kisah Pilu Sixto Rodriguez, Musisi Legendaris yang Sempat Terlupakan

  • By: NND
  • Selasa, 15 September 2020
  • 306 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Wajar jika seorang musisi hadir dengan album yang berkualitas, bahkan dua album berkualitas, namun tidak laku di pasaran. Wajar juga kalau musisinya “hilang” setelah album-albumnya itu gagal. Tapi yang tidak wajar itu jika album itu ditemukan ulang, membuat musisinya jadi sensasi masa kini, selepas beberapa dekade usai albumnya pertama kali rilis. Itulah yang jadi kisah dari Sixto Rodriguez.

Sebagai seorang musisi, nama dan kisah unik Sixto Rodriguez mendadak jadi sensasi dunia karena tayangan film dokumenter Searching For Sugar Man di tahun 2012 silam. Singer-songwriter asal Detroit, Amerika itu sempat melepas dua album bersama label Sussex Records dari L.A. pada tahun ’71 dan ’72. Albumnya tidak laku, tapi terimpor ke Afrika Selatan. Di sana, musiknya laku keras. Banyak bootleg mulai dicetak, dan musik-musik Rodriguez terasa relevan dengan isu anti-rasisme di sana. Karyanya kerap didengarkan oleh gerakan anti-apartheid, hingga aktivis-aktivis besar pun mengaguminya. Masalahnya, tidak ada yang tahu siapa itu Sixto Rodriguez. Bahkan, rumor pun akhirnya menyebar bahwa Sixto Rodriguez telah meninggal, hingga beberapa fans berat pun berangkat untuk mencari tahu apa yang terjadi dengannya.

Itulah premis utama filmnya–beberapa fans berat musiknya yang ingin siapa itu Sixto Rodriguez. Itu yang diangkat oleh Malik Bendjelloul, sang sutradara dari Searching For Sugar Man. Ia merekam petualangan dua fans Sixto asal Cape Town, Afrika Selatan, menuju kampung halaman sang musisi di Detroit.

Benar saja, Sixto Rodriguez pun masih hidup. Film dokumenter itu menangkap bertemunya kedua fans dengan idolanya, ditutup dengan sebuah panggung besar di Afrika Selatan di mana sang musisi bermain lepas, membawakan lagu-lagu berkualitas dan seakan mematenkan bahwa musiknya tidak patut hilang ditelan lagi oleh waktu dan zaman. Sebuah klimaks yang apik dari film dokumenter yang unik dan menarik. Searching For Sugar Man sukses menyabet penghargaan Film Dokumenter Terbaik di Oscar 2012.

Keluar dari bahasan film dokumenternya–jika musiknya memang seenak itu, lantas kenapa penjualannya gagal di kala rilis? Banyak yang menyatakan bahwa labelnya, Sussex Records, jadi dalang utama. Kala itu, labelnya tengah cukup sibuk; mereka punya dua musisi besar, yakni Dennis Coffey sang gitaris motown yang terkenal atas solo gitarnya (juga merangkap jadi produser Rodriguez), serta Bill Withers yang merupakan nama besar kancah soul. Memiliki dua bintang yang berkarya di era sama, nama Sixto Rodriguez pun tidak dapat terwakilkan dengan benar.

Di lain sisi, jika bukan karena labelnya, adapula permasalahan lingkungan musik di era awal 70-an itu. Pasalnya, tahun itu merumahi aksi-aksi besar yang cukup menyeramkan buat pendatang baru. Soul dan R&B punya album What’s Going On-nya Marvin Gaye dan There’s A Riot Going On dari Sly and the Family Stone. Kancah rock? Ada Who’s Next milik The Who dan The Rolling Stones yang baru saja melepas Sticky Finger. Tidak lupa, tahun itu adalah tahun kehadiran David Bowie. Dengan iklim talenta yang sedang subur itu, musik folk-soul/rock/psychedelic ala Rodriguez agaknya sudah ketinggalan zaman. Bahkan, Rodriguez tidak sendirian. Tahun ini, Nick Drake, Judee Sill, atau Arthur Lee, semua dari mereka melepas karya brilian taun itu, namun mendarat di bawah radar.

Meski begitu, jika memang rilisan-rilisan Sixto Rodriguez terkesan low-key kalanya rilis, aman dikatakan bahwa musiknya relevan di era sekarang. Bahkan, sesungguhnya kualitas musik Sixto itu tidak lekang zaman. Dave Matthews sudah meng-cover lagu andalannya, “Sugar Man”, untuk waktu yang cukup lama. Jika Sixto jadi berita lama di kalanya rilis, ia jadi angin segar di era kiwari.

0 COMMENTS