Club Rock: Klub Musik Paling Legendaris Di Dunia

  • By: OGP
  • Minggu, 15 January 2017
  • 3844 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Klub malam identik dengan segelintir aktivitas hiburan dewasa di waktu sebelum fajar terbit. Sorot lampu remang tak jarang ditemani asap rokok tebal. Tak lupa dihiasi dengan hidangan utama berupa hentakan riuh para penampil yang mengiringi repertoar andalan, sembari menemani santai malam para pengunjung. Beberapa klub malam ternyata memiliki andil cukup besar dalam perkembangan khazanah musik dunia.

Seolah menjadi batu loncatan bagi para bibit potensial sebelum terjun ke industri musik berskala besar. Kalangan produser musik handal biasanya dengan cekatan menangkap sinyal bakat si calon bintang di tempat berkapasitas sempit itu. Hebatnya tak hanya sekedar menjadi wadah unjuk gigi, di klub malam menjadi arena berkumpul ria pelaku komunitas skena tertentu. Bahkan tak jarang sebuah klub malam menjadi objek wisata bagi para peziarah rock!

Mari intip 8 klub malam rock legendaris di seantero dunia. Adakah tempat hangout yang ingin kamu kunjungi?

 

CBGB

Bagi sebagian penggemar rock tentu tak asing dengan frasa CBGB. Ya, obor sejarah punk di negeri Paman Sam mulai menyala ketika klub malam CBGB menjadi fasilitator bagi para pelaku musik di tengah riuhnya Kota New York. Bar yang resmi ditutup tahun 2006 ini menjadi arena bermain bagi sekumpulan musisi legendaris seperti Ramones, Television, Talking Heads dan Patti Smith  di awal karir bermusik mereka. CBGB pertama kali dibuka pada desember 1973 oleh sosok Hilly Kristal. Sesuai dengan akronim namanya, pada mulanya CBGB merupakan wadah pertunjukan musik bagi pelaku Country, Blue Grass dan Blues. Namun di tahun 70’an mulai diisi oleh berbagai penampil band punk. Hingga di tahun 80’an skena hardcore mulai mendominasi panggung CBGB. Bahkan masa kejayaan punk dan CBGB sempat difilmkan oleh sineas Randall Miller di tahun 2013 dengan judul yang sama.

 

Hacienda

Bagi publik dataran Inggris, klub hiburan malam Hacienda merupakan tempat cikal bakal terbentuknya skena Madchester. yang sempat hype di periode akhir 80’an hingga awal 90’an. Berjejer band-band tenar pernah pentas di panggung kecil milik Hacienda. Sebut saja gerombolan The Smiths, The Stone Roses, New Order, The Charlatans hingga The Happy Mondays turut meramaikan gemerlap malam di Hacienda. Namun karena terlilit masalah finansial, di tahun 1997 Hacienda akhirnya terpaksa tutup gerai untuk selamanya. Walau telah ditutup, ingatan manis akan sejarah keemasan musik tanah Britania Raya di era 90’an tetap terekam abadi bersama Hacienda.

 

100 Club

Tanah Britania Raya memang tak pernah habis menyimpan segudang tempat-tempat penting perkembangan sejarah rock di dunia. Salah satunya adalah 100 Club. Bar yang berlokasi di Oxford Street, London itu telah berdiri sejak tahun 1942 lalu. Sejumlah musisi-musisi kenamaan sempat mengecap berbagi panggung di sana. The Rolling Stones, The Who, The Damned, Siouxie & the Banshees,Sex Pistols hingga The Clash pernah menghadiri pentas di sana. 100 Club dibuka pertama kali sejak tahun 1942 lalu. Jika di Kota New York perorbitan skena punk bermula di CBGB, maka 100 Club adalah pusat utama punk underground di Kota London.

 

Crocodile Cafe

Fenomena meledaknya grunge di awal periode 90’an merupakan sebuah revolusi di industri musik menuju era milenium. Sederet nama-nama beken seperti Nirvana, Pearl Jam Alice In Chains dan Mudhoney didaulat sebagai salah satu penggagas musik yang dikenal bercirikan teriakan amarah nan agresif tersebut. Tapi tahukah? Sebelum grunge sebesar dan mendunia seperti saat kini. Para penggerak grunge itu sendiri memulai dari hal kecil sedari berpindah panggung ke panggung lainnya. Crocodile Cafe seolah menjadi tempat berkumpul para kawanan grunge elit. Ternyata sebuah bar kecil mampu menjadi tempat sarang bagi sang revolusioner musik dunia.

 

The Cavern Club

Para Beatlemania tentu tak asing dengan sebuah tempat bar bernama The Cavern Club. Ya, sebuah bar yang terletak di area Liverpool ini merupakan tempat dimana band legendaris The Beatles, tampil rutin sebagai home band sebanyak 292 kali pentas. Di tempat hiburan malam itu, sang manajer Brian Epstein menyaksikan langsung performa Lennon Cs ketika unjuk gigi di depan para penonton yang hadir. Ternyata bakat The Beatles tercium oleh Epstein. Maka dari sini, dimulailah awal dari perjalanan panjang The Beatles menjadi band populer di dunia. Hal ini bermula dari panggung kecil di klub Cavern. Tak hanya Beatles semata, sejumlah band-band hebat seperti Queen, The Rolling Stones dan The Who pernah mengisi buku tamu di The Cavern Club.

 

Max’s Kansas City

Kota New York identik sebagai kiblat musik dunia. Berbagai genre musik tumbuh bermekaran di salah kota terbesar di dunia tersebut. Sebelum CBGB merebak menjadi wadah kebudayaan musik underground, klub hiburan bernama Max’s Kansas City lebih dulu menjadi tempat berkumpul bagi para musisi, penyair dan seniman di tahun 60’an. Tak ayal bar sekaligus restoran makanan ini menjadi tempat paling glamor pada masanya. Klub malam dibuka untuk umum pada tahun 1965 oleh figur Mickey Ruskin.  Dengan cepat Max’s Kansas City menjadi destinasi favorit yang sering dikunjungi oleh komunitas rock yang berjaya di era itu. Bob Dylan, Patti Smith, Tim Buckley, Janis Joplin hingga The Velvet Underground. Musisi-musisi tersebut sering mengadakan pertunjukan kecil untuk menghibur para pengunjung. Max’s Kansas City layaknya tempat peraduan kultur pop dan seni berbaur menjadi satu.

 

Troubadour

Tak mau ketinggalan dengan kota metropolitan seperti New York, di zona bagian California terdapat deretan klub malam tenar lainnya. Mungkin salah satu dari penggila musik rock sudah tak asing dengan nama Troubadour. Ya, klub malam ini merupakan salah satu dari sekian banyak tempat hiburan malam yang memiliki sejarah vital rock n roll dunia. Bertempat di areal Santa Monica Boulevard, sekitaran West Hollywood. Dibuka perdana tahun 1957 oleh Doug Weston. Banyak publik yang tidak tahu sebelum terjun menapaki karir perjalanan bermusik, banyak kalangan dari musisi-musisi legendaris mulanya mengawali karir di Troubadour. Sebut saja nama-nama beken seperti The Byrds, Fleetwood Mac, Rod Stewart, Bruce Springsteen hingga Guns N’ Roses pernah mencicipi pentas di sana. Sampai saat kini Troubadour masih tetap aktif dan sering mengadakan pertunjukan musik secara umum.

 

Poster Cafe

Di periode pertengahan 90’an ada satu tempat bersejarah bagi perkembangan musik indie di Ibukota. Bagi para penggemar musik independen tanah air , nama Poster Cafe tentu bukan hal yang tabu. Tempat ini menjadi wadah bertemunya antar komunitas pecinta musik saling berkumpul ria. Konon kabarnya sang pemilik cafe adalah rocker gaek pentolan God Bless Ahmad Albar. Poster Cafe mengawali tonggak pergerakan indie dengan melahirkan bibit-bibit band potensial di masanya. Unit-unit seperti Rumahsakit, Getah, Stepforward hingga Naif besar di era Poster Cafe sedang bermekaran di ranah underground. Berlokasi di dalam kawasan Museum Satria Mandala, Jalan Gatot Subroto Jakarta. Namun tak bertahan sampai lama, Poster Cafe pun akhirnya harus gulung tikar sebelum memasuki babak era milenium. Poster Cafe layaknya sebuah kisah urban di generasi kini. Tertera hanya sebatas lewat cerita memoar turun temurun dari segelintir orang.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
16 views
superbuzz
16 views
superbuzz
16 views
superbuzz
16 views
superbuzz
16 views