Krautrock: Invasi Rock ‘Dingin’ 70-an dari Jerman

  • By: NTP
  • Rabu, 15 November 2017
  • 3973 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Di belantara reruntuhan kota-kota Jerman Barat pasca Perang Dunia II, puluhan musisi, seniman dan kolektif mencoba membangun kembali kebudayaan Jerman. Mereka juga menerangi generasi muda dari bayang dosa kemanusiaan pendahulu mereka.

Musik krautrock, kosmische, elektronische tumbuh di Munchen, Hamburg, Berlin dan Koln di masa pasca psikedelik pada akhir 60-an. Mereka menciptakan bentuk musik baru melalui eksperimentasi bunyi, metode serta instrumen mutakhir, mengambil berbagai elemen musik Anglo-Amerika sekaligus menolak bentuknya.

[bacajuga]

Setelah hancur lebur pasca PD II, generasi baru Jerman ingin tahu segala hal mengenai masa lalu negeri mereka. Retakan generasi ini terasa di budaya pop Jerman. Televisi dan radio kerap memainkan musik medioker (pop schlager) sementara perubahan tak bisa dibendung lagi. Berbeda dengan generasi PD II yang cenderung fasis, semangat penjelajahan dan kebebasan menjadi esensi dari krautrock.

Istilah krautrock juga mengandung polemik, frasa ini berasal dari hinaan terhadap orang Jerman (kraut) dan tak sepenuhnya mewakili musik para pelakunya. Sementara dua sebutan lain, kosmiches dan elektronische musik terlalu condong mewakili grup dan musisi dengan dosis elektronik tinggi, seperti Harmonia, atau Tangerine Dream.

Krautrock akhirnya digunakan secara umum sebagai payung untuk menggambarkan musik eksperimental Jerman pada periode ini. Beberapa band paling dikenal dari era ini adalah Can, Faust, Amon Düül II, Kraftwerk, Neu!, Popol Vuh, Ash Ra Tempel, dan Tangerine Dream.

Musik ini merupakan bagian dari pembaruan budaya populer Jerman dan gerakan sosial-politik di akhir 60-an. Krautrock bersanding dengan gerakan sineas New German Cinema, kolektivitas komune dan aktivisme politik. Seringkali ketiganya berjalan bersama; Amon Düül II berasal dari sebuah komune dan dekat dengan gerakan Red Army Faction, sementara Popol Vuh kerap mengisi scoring film besutan Werner Herzog.

Dalam buku Future Days, David Stubbs menganggap krautrock sebagai proses dari pembaruan identitas kebudayaan Jerman. Proses ini mengharuskan generasi baru untuk mengakui kejahatan kemanusiaan para pendahulu mereka agar rekonsiliasi, penyembuhan dan pembangunan ulang dapat terlaksana.

“Tegangan yang terjadi di dalam krautrock yaitu kebisingan dan keindahan, alam dan industri, utamanya berbicara tentang trauma dan penyembuhan, kehancuran dan kelahiran di tingkat bawah sadar,” tulis Stubbs.

Bagi Stubbs, kebebasan struktur krautrock membuka ruang-ruang baru, seperti ketertarikan pada luar angkasa, dan filosofi Timur. Dimensi dan ranah baru ini membuka ruang baru dalam politik imajinasi. Musik ini seakan membuka kemungkinan akan masa depan baru.

Musik ini secara sadar berusaha keras lepas dari masa lalu Jerman di bawah Nazi. Mereka menolak pemujaan berlebihan terhadap figur, menggunakan struktur horizontal kolektif untuk menawarkan alternatif bentuk. Irwin Schmidt, kibordis Can, menyatakan bentuk kolektif yang cair berasal dari kebijakan “no führers”(pemimpin).

Memang ada beberapa figur terkemuka di kancah ini seperti Holger Czukay (bassis Can) atau Klaus Dinger (drummer Neu!), tapi mereka bukan bintang layaknya rockstar di industri musik. Krautrock tidak mengenal frontman atau frontwoman lantaran semua personel bekerja sebagai elemen di kolektif yang saling melengkapi, seperti gerigi sebuah mesin. Stubbs menunjuk album Future Days (1973) sebagai puncak praktek ini, di mana “semua ego menyublim agar organisme ini bersinar.”

Bercermin dari band dan musisi hari ini, di mana sikap individualis dan arogansi bintang menjadi wajar, maka kolektivisme terlihat asing. Saat itu, Can, Faust, Amon Düül II mempraktekkan kolektivisme sebagai pembangunan budaya lewat nilai-nilai komunal, di atas reruntuhan kultus individu totaliter warisan Nazi. Walau bermain seperti mesin dan secara intens menggunakan instrumen elektronik, grup krautrock justru terdengar bebas dan manusiawi.

Musik ini terdengar manusiawi karena luasnya cakrawala bebunyian yang ia miliki. Elemen ini hadir dari gaya bermain mekanik, monoton dan ketukan motorik. Gaya permainan ini ironisnya dicomot dari ketukan drum The Velvet Underground dan James Brown, musik Anglo-Amerika. Grup krautrock juga kerap memainkan sound psikedelik populer dari Britania Raya. Sementara eksplorasi struktur dan komposisi krautrock dipengaruhi oleh periode jazz elektrik seperti Miles Davis atau free jazz seperti Albert Ayler. Pendekatan rock eksperimental Frank Zappa, Pink Floyd dan Jimi Hendrix mereka olah menjadi bangunan musik baru yang unik dan khas.

Menurut Stubbs, yang perbedaan terbesar krautrock dari musik rock Anglo-Amerika, selain bentuk band adalah struktur lagu. Band-band krautrock memainkan lagu dengan perspektif horizontal, membuka selebar mungkin ruang bunyi. Tekstur adalah elemen krusial krautrock, pendekatan ini dipengaruhi oleh Karlheinz Stockhausen, komposer avant-garde yang kerap bereksperimen dengan instrumen elektronik.

Lagu dan album krautrock tidak menggunakan struktur vertikal di mana lagu “berakhir” dengan chorus atau solo instrumen dan klimaks. Lirik dan vokal digunakan sebagai bebunyian lain, bukan penyampai pesan atau ekspresi diri. Ketukan monoton krautrock berjalan dengan modus pengulangan yang kerap maju ke depan. Kebebasan mereka hasilkan lewat dentum motorik dan luasnya bebunyian elektronik.

Pengaruh terbesar krautrock adalah membebaskan musik populer untuk menjangkau semua arah. Post-punk, electronica (dan turunannya), hip-hop, indie rock dan pop, masing-masing membawa DNA krautrock, kosmiche dan elektronische musik, baik disadari oleh pelakunya atau tidak. Julian Cope, penulis Krautrocksampler menyebut krautrock sebagai musik populer Jerman yang sibuk dikotakkan ke dalam satu istilah. Sulit untuk tidak mengagumi, menikmati dan menggali bentangan bunyi, variasi sound berbagai band, album dan lagu yang dihasilkan pada periode ini. Setelah ledakan blues, tidak banyak musik yang bisa pengaruhnya bisa kita telusuri hingga sekarang.

Pada akhirnya, krautrock adalah sebuah pertukaran budaya yang ledakannya masih sangat hidup di kosakata musik populer hari ini. Tanpa blues dan rock n’ roll, krautrock tidak mungkin terbangun, tanpa krautrock, musik populer (terutama hip-hop dan elektronik) pun tidak akan sama. Di tengah masa pembangunan identitas baru budaya Jerman, para musisi, seniman dan kolektif ini menciptakan musik berpengaruh, lengkap dengan kekhasannya sendiri, dan hanya mungkin tercipta satu kali saja.

Berikut adalah daftar album krautrock penting dan berpengaruh:

Bersambung ke halaman 2...

[pagebreak]

Album-Album Esensial Krautrock

Ash Ra Tempel - Ash Ra Tempel (1971)

Trio ini memainkan apa yang nantinya disebut post-rock di dekade 90-an. Dua lagu dalam debut ini menghadirkan jamming dan improvisasi psikedelia panjang, seperti membawa konsep progressive rock ke tingkat yang paling gila. Walau tidak berusia lama, pengaruh trio Hartmunt Enke, Manuel Gottsching (gitaris ini kelak menjadi pionir proto-electronica) dan Klaus Schulze (kibordis dan pemain synth ini akan mempelopori progressive electronica), masih terasa hingga band-band neo-psikedelia hari ini.

Amon Düül II - Yeti (1970)

Yeti turut memengaruhi arah sound periode embrio kancah krautrock. Album ganda ini berisi satu sisi yang terstruktur, dan sisi lain yang berisi improvisasi. Kemampuan Amon Düül II menulis lagu dan menjelajahi teritori bebunyian baru dalam satu album. Eksplorasi tingkat tinggi sisi kedua Yeti dianggap sebagai pilar penting sound space rock di Britania Raya dan AS kelak.

Faust - Faust IV (1973)

Faust terdengar lebih “tenang” di album ini, walaupun nada-nada surreal dan bebunyian aneh masih kerap kita temui, tapi struktur serta komposisi Faust IV mengarah ke rock konvensional. Lagu-lagu di album ini tidak menyatu total seperti album Faust sebelumnya, melainkan berdiri sendiri dengan berbagai konsep. Faust memainkan komposisi instrumental panjang, reggae, progressive rock, kocokan gitar proto-noise rock, improvisasi jazz selagi mencetak identitas mereka di semua sound tersebut. Pendekatan Faust yang lebih konvensional justru melempar mereka ke batas-batas terluar rock.

Neu! - Neu! (1972)

Michael Rother (gitar, bass) dan Klaus Dinger (drum) adalah alumnus kuartet elektronik paling berpengaruh, Kraftwerk. Keduanya memainkan dan mengembangkan cetak biru gaya monoton Kraftwerk. Mereka menambahkan permainan gitar kasar proto-industrial dan psikedelik, serta ketukan motorik yang nantinya identik dengan Neu!. Keahlian Rohter dan Dinger adalah menciptakan komposisi efisien, yang membangkitkan sensasi konsisten dan repetitif. Duo ini memainkan musik mekanik dan robotik, corak ini nantinya akan memengaruhi musik elektronik (disco, techno), synthpop dan industrial.

Popol Vuh - Hosianna Mantra (1972)

Multi-instrumentalis Florian Fricke adalah pionir synthesizer. Penjelajahannya dengan instrumen ini kental mendominasi dua album pertama Popol Vuh, Affenstunde (1970) dan In den Gärten Pharaos (1971). Fricke kemudian menjual Moog-nya ke Klaus Schulze (Ash Ra Tempel) untuk menjelajahi instrumen akustik. Di album ini Fricke memertemukan tradisi musik Barat dan Timur, ia ingin menghasilkan pengalaman spiritual yang melampaui tradisi agama tertentu. Ia bahkan menyebut album ini, “misa untuk hati” dan tanpa disadari, membentuk sound New Age yang masih bertahan hingga tiga dekade setelahnya.

Can - Tago Mago (1971)

Album ini adalah album terbaik dari kancah krautrock. Formasi Damo Suzuki (vokal), Holger Czukay (bass), Michael Karoli (guitar), Jaki Liebezeit (dram/piano) dan Irmin Schmidt (organ, electric piano) merekam album ini pada sesi jamming panjang di sebuah kastil milik seorang kolektor seni. Czukay kemudian memotong, menyunting, menambahkan dan menyusun sesi jamming ini menjadi sebuah album, sebuah teknik yang nantinya populer di hip-hop, rock alternatif 2000-an dan pelaku musik elektronik. Tago Mago adalah sedikit dari album ganda yang tidak mubazir dan bertele-tele, semua bagiannya dapat dinikmati sebagai satu perjalanan panjang. Singkatnya, Tago Mago pantas berada dalam jajaran album rock terbaik.

1 COMMENTS
  • kobay

    Kereeeen

Info Terkait

supericon
420 views
supericon
502 views
superbuzz
7933 views
superbuzz
399 views