mixtape

Kultur Mixtape di Hip-Hop dan Perbedaannya dengan Album

  • By: NND
  • Senin, 15 June 2020
  • 1999 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Melihat judul artikel ini, barangkali banyak yang bingung--Bedanya mixtape dan album? “Mixtape itu kompilasi lagu, sedangkan album itu karya orisinal.” Tak jarang, banyak orang langsung berkata demikian; tentu jawaban itu tidak sepenuhnya salah, namun tidak juga benar.

Ketika menakarnya dengan perkembangan musik, mixtape telah mengalami sejumlah perubahan dalam konteks kegunaannya. Dari awalnya lahir di kancah hip-hop hingga dekade 2020 baru ini, perubahannya sudah cukup siginifikan. Merujuk kembali saat awal lahir, mixtape memang merupakan sebuah kompilasi track yang disusun oleh seorang DJ, lalu berubah menjadi rilisan oleh jajaran emcee yang nge-rap di atas beats-beats sedap, kemudian disempitkan lagi menjadi rilisan satu crew, lalu sekarang, bisa juga menjadi rilisan seorang musisi tunggal.

Fakta ini membenarkan ungkapan “mixtape adalah kompilasi” yang sebelumnya dijelaskan, namun ia sudah berubah seiring musik dan industri musik berkembang. Kenapa ada aspek “industri” dalam memahami mixtape dan definisinya? Jawaban simplenya adalah karena industri musik merupakan aspek penting atas semua perbuahan yang terjadi terhadap mixtape--karena industri musik yang berubah seiring zaman, mixtape pun beradaptasi dan ikut berubah. Mungkin, dalam sudut pandang tertentu, bisa diperdebatkan bahwa mixtape menjadi tandingan dari produk industri yang sejati: Album.

Kita sudahi pelajaran sejarahnya, dan coba terjun ke mixtape kontemporer. Sekarang ini, estetika sebuah mixtape dan album itu sangat mirip. Perbedaannya tidak kasat mata--setidaknya tidak sekontras beberapa dekade lalu. Mengintip mixtape zaman now, tidak aneh kalau banyak orang yang bingung terkait dimana letak perbedaannya. Isinya sama-sama lagu orisinal, apa lagi kalau dimajukan oleh seorang musisi tunggal. Lantas di mana bedanya?

Menjawab pertanyaan ini, perbedaan antara mixtape dan album tidak lagi terdapat pada apa yang ada di dalam lagu-lagu itu, melainkan kepada siapa, dan bagaimana lagu-lagu itu diperdengarkan kepada publik luas. Ya, sebuah mixtape dan album dikatakan mirip karena dalam konteks konten karena wujudnya memang sudah tidak berbeda. Namun, kacamata harus diganti, coba telusur dari sudut pandang musisi, bukan pendengar. Kita harus menyelam lebih dalam untuk mengetahui letak perbedaannya. Mungkin, cara termudah untuk dapat memahami mixtape era kiwari adalah sebagaimana DJ Skinny Friedman menuliskannya via Vice, bahwa  sekarang ini, mixtape merupakan sebuah “street album”--sebuah rilisan bak album yang beredar dengan penjiwaan “jalanan”.

Secara mendasar, sebuah mixtape tidak memiliki banyak ikatan kaku layaknya sebuah album. Ia tidak terpaku dengan kinerja dan penempatan strategis sebuah single, lengkap dengan segala macam teknik penjualan yang berada di balik lagu-lagu tunggal tersebut. Ia juga tidak (harus) terikat dalam sebuah tema besar layaknya album. Jika seorang musisi memiliki banyak materi dalam masa-masa tertentu dalam karirnya, namun terkesan tidak dapat digabung menjadi satu kesatuan album seperti lazimnya, maka mixtape jadi jawabannya.

Selain itu, mencerna mixtape zaman now sebagai “street album” berarti pendistribusian yang juga mudah, simpel, dan “merakyat”. Mixtape biasanya didistribusikan secara luas dan gratis--secara free download. Hal ini merupakan siasat seorang musisi dalam mengarungi industri musik yang kerap dikatakan cukup sadis. Contoh paling mudahnya adalah Chance the Rapper yang namanya melantang semenjak merilis Acid Rap. Keep in mind bahwa Acid Rap bukanlah sebuah album. Ya, rilisan itu adalah mixtape, dirilis dan didistribusikan secara gratis via online. Hasilnya? Chance the Rapper langsung dikenal oleh publik luas sebagai seorang emcee handal yang segar dan unik. Lagunya diputar di berbagai radio dan membuatnya menjadi seorang musisi yang, singkat kata, terkenal.

Tapi apakah Acid Rap berlaku baik di halaman bisnis? Singkat kata, tidak. Tidak sama sekali. Berbicara secara ekonomi, mungkin ia membuka banyak peluang, namun di                                                                                                                                                        qatas kertas, ia tidak menjual. Dan memang tidak akan, karena bentuknya free download. Kasus Chance the Rapper yang berhasil melambungkan karirnya melalui rilisan mixtape menjadi gambaran jelas terkait apa fungsi dan kegunaan mixtape dalam industri musik era sekarang. Tidak hanya Chance, Kendrick Lamar pun--sebelum menjadi mega-bintang jagad rap--beredar di kawasan daerahnya dengan menjadi local hero melalui serial mixtape yang terus membangun fanbase dan basis cult following yang paten.

Jadi itulah sebuah mixtape: sebuah “street album” di mana seorang musisi bisa lebih bebas dan nyaman dalam bergerak dan mengekspresikan karya-karya mereka. Melaluinya, ia bisa menjaring pendengar baru, menghibur die-hard fans dengan rilisan segar, membuka ruang diskusi baru, serta alasan untuk menggarap tur ataupun membuka kolaborasi dengan musisi-musisi lain--semua tanpa adanya pressure yang biasa mengikuti kala hendak melepas sebuah album.

Lebihnya, di saat industri musik yang mulai bergerak ke arah single-centric (fokus pada perilisan single ketimbang album), barangkali peran mixtape menjadi alternatif yang penting untuk menjaga stabilitas proses berkarya? Kalau menurut kalian bagaimana, bro? Apa aja nih, mixtape paling favorit kalian? Suarakan di kolom komentar, di bawah ini!

0 COMMENTS