LADY ROCK: Perjalanan Kaum Hawa di Jagat Musik Rock

  • By: OGP
  • Jumat, 21 April 2017
  • 7664 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Frasa rock secara harfiah tentu merujuk pada sebuah jenis musik, fusi dari berbagai genre yang dikemas menjadi seni musik baru dan menjadi simbol kebebasan esensial bagi tiap pegiatnya untuk berekspresi. Namun seiring berjalannya waktu, dunia rock selalu identik dengan hal-hal berbau maskulinitas. Maka tak heran kalau istilah rock selalu diasosiasikan kepada dominasi kaum pria ketimbang wanita.

Tanpa mengurangi rasa hormat, keberadaan kaum hawa kini malah sedikit terpinggirkan oleh lawan jenisnya. Hegemoni pria di dalam entitas bernama rock memang tak bisa disangkal keberadaannya. Namun hal itu tak lantas membuat posisi kaum hawa harus mengalah diam termangu dan tersudut di balik bayang-bayang pria. Sama halnya dengan pria, kalangan wanita pun punya hak kesamaan derajat untuk berada di garda terdepan jagat musik, ikut serta mewakilkan citra semangat rock n’ roll yang memiliki esensi kebebasan tanpa terbebani tuntutan.

Para ‘Srikandi rock’ itu kemudian kerap kali dipanggil dengan sebutan lady rocker. Bagi kalangan jurnalis musik, sekumpulan wanita pendobrak itu ternyata mampu memberikan dampak penting untuk sesama jenisnya di dunia seni. Bukan sekadar teruji di konteks musikalitas, lebih dari itu mereka pun turut menyelipkan pesan khusus kepada wanita-wanita di luaran sana untuk sedia keluar dari zona ‘belenggu’.

Maka tak jarang di dalam larik lagu yang dimiliki seorang lady rocker cukup mengandung unsur maupun makna tentang feminisme. Hal tersebut cukup merepresentasikan apa yang dialami oleh mayoritas wanita di dunia musik.

Di luaran sana, banyak tercetak deretan musisi wanita berpengaruh dari masa ke masa. Kehadiran mereka ternyata juga memiliki magnet tersendiri bagi lanskap musik. Contohnya seperti di dekade 50-an terdapat seorang penyanyi rockabilly wanita pertama bernama Wanda Jackson. Jackson juga dikenal publik luas sebagai salah satu pionir rock n’ roll atas kontribusi yang dihasilkannya di dunia musik rock.

Selang sedekade kemudian tepatnya di tahun 1960-an, dunia musik rock melahirkan ikon lady rocker hebat lainnya seperti Janis Joplin. Wanita bersuara vokal khas itu memukau jutaan penggemar musik setelah dirinya menjadi salah satu penampil pada gelaran festival musik rock legendaris Woodstock yang pertama. Namun di kala mengecap masa jayanya, ia meninggal tragis di usia yang terbilang muda akibat overdosis obat-obatan terlarang.

Obor estafet pun tak berhenti sampai disitu. Tina Turner berhasil mencapai tonggak pencapaiannya sebagai solois wanita paling disegani di industri musik dunia di kala itu. Lewat kerja kerasnya dalam membentengi front terdepan wanita di kancah musik rock, ia pun seringkali dipredikati oleh segelintir ekspertis musik sebagai queen of rock n roll.

Setelahnya muncul nama-nama ‘pemberontak’ hebat lainnya seperti Patti Smith dan Joan Jett. Keduanya cukup kompak mengibarkan semangat rock n roll lewat cara yang terkesan subversif dibanding penyanyi-penyanyi wanita sejawat lainnya. Smith dilantik secara resmi di ajang Rock and Roll Hall of Fame di tahun 2007. Sedangkan Joan Jett sempat merajai tangga lagu Billboard di awal 80-an bersama band yang dikomandoinya sendiri, The Blackhearts. Sebelumnya Jett tergabung di band ikonis The Runaways.

Di kancah underground/punk, jangan lupa peran gerakan Riot Grrrl pada 90-an awal, yang disulut oleh band-band macam Bikini Kill, Bratmobile, Heavens to Betsy dll. Mereka turut mendobrak stigma musik punk rock yang juga didominasi oleh kaum adam itu dengan pesan-pesan feminisme.   

Jika menilik kembali progresi kaum hawa di jagat musik rock nasional, terdapat sekelumit cerita yang tak kalah esensial dengan perkembangan musisi wanita di mancanegara. Tonggak peradaban wanita di peta musik nusantara dimulai ketika grup musik asal Surabaya, Dara Puspita, mendobrak batas kebudayaan di tanah air. Perlu diketahui, di era kepemimpinan Soekarno, budaya westernisasi melingkupi budaya pop seperti musik, sungguh dilarang eksistensinya oleh sang bapak proklamator.

Walau usia band ini tergolong singkat, hanya sekitar tujuh tahun, setidaknya Dara Puspita telah membukakan jalan dengan memantikkan api ‘kebebasan’. Hal ini tentu jadi pemicu bagi wanita-wanita pribumi lainnya untuk bebas berkesenian dan berekspresi. Warisan yang disebar oleh kuartet Dara Puspita kemudian menular hingga ke beberapa dekade kemudian.

Indonesia seakan takkan pernah kehabisan sumber daya berupa musisi-musisi wanita bertalenta. Di era 80-an hingga 90-an, tanah air pernah memiliki ‘kartini musik’ hebat lainnya. Sebut saja Anggun (era awal), Oppie Andaresta, dan Nicky Astria. Mereka diakui merupakan para srikandi musik yang cukup berpengaruh di nusantara di eranya kala itu. Hingga estafet pun kini berpindah ke era millennial dengan melahirkan sejumlah penyanyi wanita berbakat lainnya seperti Tantri Kotak, Stella Gareth (Scaller), hingga Gania Alianda (Billfold).

Akhir kata, masuk ke babak milenium, ketimpangan gender di dalam musik bukan lagi jadi hambatan bagi kaum hawa untuk menetaskan karya terbaiknya. Baik pria dan wanita kini telah memiliki kesadaran akan persamaan derajat. Perlahan tapi pasti, pandangan ‘pria lebih superior ketimbang wanita’ mulai memudar dengan sendirinya. Bukankah rock n’ roll itu sendiri memiliki makna esensial tentang ‘kebebasan’?

Selamat Hari Kartini!

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
620 views

Bikini Kill Gelar Reuni Singkat

supernoize
2086 views
supericon
2008 views
superbuzz
1070 views