Lewat Sun Eater, Rayhan Noor dan Agatha Pricilla Rilis EP Perdana “Colors”

Lewat Sun Eater, Rayhan Noor dan Agatha Pricilla Rilis EP Perdana “Colors”

  • By:
  • Minggu, 28 February 2021
  • 109 Views
  • 0 Likes
  • 1 Shares

Sun Eater terus berupaya meramaikan industri musik Tanah Air lewat musisi-musisi di bawah naungan mereka. Kali ini label rekaman independen Indonesia itu memperkenalkan karya baru dari musisi mereka, Agatha Pricilla, yang berkolaborasi dengan Rayhan Noor.

Bagi Sun Eater, Agatha Pricilla dan Rayhan mampu memberi karya yang bisa memenuhi kebutuhan diri manusia akan karya musik selama masa sulit satu tahun ke belakang akibat pandemi. Sebuah penelitian menyatakan, nada merdu dalam musik berperan aktif demi merangsang sistem limbik otak yang memicu sensasi kesenangan.

Sistem ini melepas dopamin dalam otak juga tubuh, tak memilih tembang mana yang kerap diputar; khayalan manis “When I’m Sixty-four” milik The Beatles atau depresinya enam menit pertama “Moonlight Sonata” dari Beethoven. Dan ketika seseorang mengalami perpisahan, limbik otak tersebut lah yang terkena dampak. Maka musik dibutuhkan dalam situasi ini agar sang rangsangan pulih kembali.

Sejak pertengahan 2020, duet antar musisi Rayhan Noor dan Agatha Pricilla telah menciptakan karya-karya yang cukup menghiasi warna-warni musik lokal. “Colors”, “Sick in Love”, dan “Strangers Once Again” adalah rilisan yang dikenalkan terlebih dahulu secara eceran. 

Kemudian pada Jumat (27/11), mereka telah melengkapi karyanya lewat album pendek bertajuk Colors. Album pendek ini berisikan total enam lagu di mana cerita dalam tiga single yang sudah dirilis sebelumnya, dilengkapi oleh “A Different Kind of Morning”, “Not a Happenstance”, dan “Only You”.

Cerita keenam lagu yang rilis lewat Sun Eater ini diurutkan sesuai dengan perkembangan perasaan juga keadaan yang dialami pasca perpisahan. Baik dari sudut pandang pria maupun wanita.

Album pendek ini dibuka oleh “Strangers Once Again” yang menggambarkan hilangnya rutinitas bersama pasangan. Kemudian masuk dalam fase “Sick in Love” di mana keduanya hanya bisa mengenang memori yang tersisa. Cerita pun berlanjut lewat “Colors” ketika mereka sudah terasa mampu menerima keadaan. 

Lalu, sang pria melahirkan angan di “A Different Kind of Morning” sesaat mengetahui sang mantan telah melanjuti kisah barunya. Perasaan janggal tak berdaya dari sisi sang wanita pun diungkapkan lewat nomor “Not a Happenstance”. Cerita akhirnya ditutup oleh “Only You” di mana keduanya memahami bahwa kepemilikan dalam hati tak melulu soal hidup bersama.

Meski cukup komprehensif bercerita tentang fase pasca perpisahan, musik Colors tak selalu bernuansa sedu atau tangis. Terdapat pula beberapa sentuhan relevansi baru teen pop hingga sunshine pop. Ini dikarenakan Rayhan dan Pricilla memilih pendekatan visual saat proses penulisannya.

“Membayangkan lagu-lagu tersebut menjadi soundtrack film-film romantis era 90-2000an awal, warm dan terasa dekat secara notasi dan suara instrumennya,” jelas Rayhan yang menyebutkan Before Sunrise dan A Walk to Remember sebagai salah dua referensinya.

“Ini pengalaman pertama bekerja sama dengan produser yang guitar-based seperti Rayhan. Ternyata referensinya membuat saya jadi belajar banyak tentang pembuatan notasi-notasi yang berbeda dari lagu-lagu saya sebelumnya,” kata Pricilla tentang duet di bawah label Sun Eater ini.

Sedangkan Rayhan mengungkapkan, “Pricilla memiliki sensibilitas musik yang sangat tinggi. Hal ini membuat penulisan seluruh lagu sangat mudah dan mengalir. Kemampuannya mengomposisi suara latar di lagu-lagu pada album pendek ini juga sangat menarik untuk disimak.”

Tembang patah hati memang mengungkapkan semuanya untuk kita, memberikan ruang untuk berkabung. Anda merasa “senang” terhubung dengan musiknya dan membiarkan imajinasi selaras dengan melodi. Anda pun berempati dengan musisi hingga merasa tidak sendiri. 

Colors milik Rayhan Noor dan Agatha Pricilla – dirilis oleh label rekaman Sun Eater – adalah kumpulan karya yang tepat untuk situasi ini dan sekaligus menjadi langkah baik menuju fase hidup yang baru. Karena musik tidak hanya masuk ke satu telinga dan keluar dari telinga yang lain – musik sebenarnya memiliki sifat meredakan rasa sakit.

Dok. Sun Eater

Tentang Sun Eater

Sun Eater masih terbilang 'anak baru' di ranah label rekaman Indonesia. Namun, status tak kasat mata itu sama sekali berbeda dengan kiprah Sun Eater dalam beberapa tahun belakangan. Mereka dianggap sebagai kolektif musik yang menjanjikan dan punya masa depan cerah.

Mendarat sebagai sebuah label rekaman dan "music company," tak bisa ditepis bahwa mereka bisa saja menjadi "the next" Lawless. Meski hadir dengan musik dan estetika sendiri, pangsa pasar mereka besar dan mampu menjadi modal untuk "membangun dinasti" sendiri.

Di roster Sun Eater, terdengar spektrum pop, rock, dan elektronik. Tak jarang, semuanya bercampur di masing-masing band dan solois. Melacak benang merah yang terasa, unsur "modern" tampak menjadi diksi yang tepat.

Sun Eater pun memiliki sajian-sajian lain, contoh saja festival kecil, Here Comes the Sun, yang sempat mencuri banyak perhatian para pencinta musik di Jakarta. Gelaran ini berlangsung di Studio Palem Kemang pada 10 Agustus lalu. Atau, toko daringnya, Sundongyang, yang berlaku bak toko merch semi-profesional.

"Kita adalah keluarga creators di mana musik berperan besar dalam apa yang kami ciptakan, namun kita juga bertujuan untuk membagikan cerita-cerita kita melalui media apapun untuk dapat membuat orang lain senang dan terinspirasi," tercatat di laman resmi Sun Eater.

Selain Agatha Pricilla dan Rayhan Noor, musisi lain yang berada di bawah naungan Sun Eater adalah Feast. yang saat ini tengah naik daun. Frontman Feast. Baskara Putra, nyatanya menjadi sosok di balik berdirinya Sun Eater.

Selain tergabung bersama unit musiknya, Baskara juga menjajal peruntungan dengan bersolo karier lewat akronim Hindia yang juga berada di bawah naungan Sun Eater.

Selain berkarier sebagai penyanyi solo dan pemain band, Baskara juga merambah ke dunia produksi musik dengan menjabat sebagai brand manager dari Double Deer Records. Bersama rekan-rekannya, ia kemudian mendirikan perusahaan label rekaman dan manajemen bakat yang bernama Sun Eater Coven.

Nah, melalui label Sun Eater Coven ini pula Baskara mengelola band Feast. sehingga ia mengaku dirinya tak terlalu kesulitan dalam membagi waktu untuk tampil bersama bandnya dan saat bernyanyi solo. Selain Hindia dan Feast, label Sun Eater membawahi beberapa musisi lain seperti Agatha Pricilla, Aldrian Risjad, dan Mothern.

0 COMMENTS