Liberated Studio sebagai Wadah Kreativitas Farid Stevy FSTVLST

Liberated Studio sebagai Wadah Kreativitas Farid Stevy FSTVLST

  • By:
  • Sabtu, 30 January 2021
  • 528 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Dari sebuah hobi dan proyek pribadi, vokalis FSTVLST Farid Stevy Asta melahirkan sebuah wadah kreativitas yang besar dan punya lingkup luas bernama LiBStud.

LiBStud sendiri merupakan kepanjangan dari Liberated Studio yang awalnya dibuat oleh Farid FSTVLST sebagai sebuah brand yang merupakan proyek-proyek kreatif untuk proyek seni rupa dan desain dari dirinya.

Berbasis di Yogyakarta, Farid Stevy memulai perjalanan cikal bakal LiBStud pada medio 2006-2007. Nama LiBStud yang diusung oleh Farid Stevy sendiri sudah mulai muncul di beberapa event seni rupa pada masa itu.

Sayap kiprah LiBStud mulai menemukan jalan untuk semakin melebar pada 2011 ketika Farid Stevy bekerja sama dengan beberapa kawanya. Farid Stevy dan kolega membawa LiBStud dalam kolaborasi desain dan produksi dengan nama libstud+loten.

Dalam blognya, Farid Stevy sempat membuat tulisan khusus yang membahas tentang Liberated Studio. Berawal dari rumah kontrakannya, Farid Stevy mulai memupuk perlahan pondasi-pondasi dari LiBStud.

"Ini adalah liberated studio. Sebuah rumah kontrakan sederhana yang cukup tua. Beralamatkan di Jl. Kinanthi Gg. Gambang No. 8 Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Saya sudah tinggal di rumah ini kurang lebih selama dua tahun," tulis Farid Stevy.

"Ruangan paling besarnya berukuran sekitar 8x6 meter saya gunakan untuk studio melukis. Beberapa ruangan lain saya gunakan sebagai kamar tidur, gudang, dapur dan lemari pakaian."

"Oleh kebanyakan teman-teman saya, rumah ini disebut dengan LIB, itu karena di samping pintu depan rumah ini saya tempeli tanda huruf LIB sebagai singkatan dari liberated studio. Saya tinggal sendiri bersama 2 kucing bernama koka dan kola, milik saya dan mantan pacar saya," lanjut Farid Stevy.

"Belakangan saya berbagi ruang dan waktu dengan sahabat saya Moks Timofeevic, dia adalah fotografer dan pembangun sepeda fixie. Jenny, band saya, juga menggunakan rumah ini sebagai tempat berkumpul. foto ini di ambil oleh Moks, saat saya sedang menyelesaikan panel 4 dan 5 dari seri lukisan DCDNC/DCDNT. Selamat datang di LIB, anda semua di undang ke rumah ini," tutup Farid Stevy.

Kemudian pada tengah 2013, LiBStud mulai mencoba format studio baru yang karakternya mirip dengan konsep co-working space, yaitu sebuah ruang yang secara spasial maupun kultural bisa dimaknai sebagai ruang semi terbuka bagi setiap pelaku kreatif untuk melakukan kerja kolaboratif dan kolektif.

Perkembangan demi perkembangan itu pada akhirnya membawa Farid Stevy dan LiBStud berubah menjadi sebuah studio desain pada 2015. Dengan pengaruh kuat dari sisi kreatif di Yogyakarta, LiBStud menjadi sebuah kultur diskusi yang kuat.

Kepada Whiteborad Journal, Farid Stevy menjelaskan karakter yang ingin dimunculkan oleh LiBStud dalam berkarya.

"Lahir dan tumbuh dengan hirup dan hembus Yogyakarta, memberi pengaruh yang kuat pada proses kreatif studio. Berlimpahnya wahana dan wacana seni dan kreatif, juga kultur diskusi yang kuat, membuat liBStud ingin selalu memberikan nilai tambah dalam setiap proyek yang dikerjakan. Sentuhan seni rupa yang artistik, terkadang nakal, bahkan sesekali liar, memberikan tambahan nyawa dan keasyikan tersendiri pada karya-karya desain yang pada hakikatnya harus logis, empirik dan cenderung rigid," jelas Farid Stevy.

Hingga kini, LibStud garapan Farid Stevy masih eksis meramaikan industri kreatif di Tanah Air. Sejak beberapa tahun lalu, LibStud juga aktif mengikuti berbagai pameran kesenian. Bagi Farid Stevy, harapannya kepada LiBStud agar bisa menjadi wadah yang mensejahterakan dan bermanfaat bagi banyak orang.

"Sebagai sebuah bisnis, studio ini tetap mengharapkan adanya keuntungan yang dapat menjadi sumber pendapatan finansial. Satu tahun terakhir, pengalaman kami cukup menyenangkan," jelas Farid Stevy masih kepada Whiteboard Journal.

"Menjadi besar tidaklah hal mudah dalam industri kreatif yang tengah menjadi primadona di Indonesia. Kami belum mampu membayangkan akan seperti apa liBStud di sepuluh tahun ke depan. Yang pasti, kami berkeinginan studio ini tetaplah menjadi studio yang kecil, namun berisi, melibatkan banyak partner bisnis, mengajak setiap pihak untuk maju bersama," tuturnya.

"Migunani tumraping liyan yang berarti bermanfaat bagi yang lain, menjadi semboyan yang dihidupi bersama siapapun yang ada dalam studio kami. Sebisa mungkin semua proyek yang kerjakan mengembangkan semua pihak yang berkerjasama dengan kami, dari klien, freelancer yang membantu di lapangan, vendor, warung sebelah studio tempat bersandar perut lapar kami, sampai tetangga sebelah studio. Dengan semangat itu pula, kami berusaha melibatkan banyak pihak dalam mengerjakan proyek, terutama saat proses riset dan produksi," pungkas Farid Stevy.

Farid Stevy di Antara Musik dan Seni Rupa

Seni rupa adalah bentuk kesukaan lain dalam diri Farid Stevy. Meski punya proyek ini, Farid Stevy tetap eksis di industri musik Indonesia bersama bandnya FSTVLST. Belum lama ini, Farid Stevy dan FSTVLST bahkan mampu merilis album studio kedua mereka.

Sudah dipersiapkan sejak tahun 2018 lalu, FSTVLST resmi meluncurkan album terbarunya bertajuk FSTVLST II. Album anyar ini dilepas secara mendadak oleh Farid Stevy (vokal), Roby Setiawan (gitar), Humam Mufid (bass), Danish Wisnu (dram) dan Rio Faradino (keyboard) pada hari Senin, 15 Juni 2020.

Adalah sembilan lagu yang mengisi repertoar album FSTVLST II, yang sudah mulai dirilis secara bertahap dari tahun 2019. Track pembuka “Gas!” sudah dilepas semenjak September 2019, sedangkan “Rupa” dan “Vegas” lebih dulu rilis di bulan April tahun lalu. “Mesin” menyusul di bulan Mei 2019.

Di akhir tahun 2019, tepatnya pada tanggal 31 Desember 2019 mereka merilis tiga track secara bersamaan, “Syarat”, “Telan”, dan “Hayat”. Perilisan bertahap baru dirampungkan pada Senin, 15 Juni, saat mereka meluncurkan “Kamis” dan “Opus” sekaligus untuk merampungkan pengemasan album terbaru ini.

FSTVLST II dikatakan sebagai sebuah album yang cukup eksploratif. Meski begitu, enggan sepenuhnya menanggalkan karakter yang sudah terbentuk--baik itu yang masih hinggap semenjak era Jenny, album Manifesto ataupun HIT KITSCH.

Meskipun dirilis secara gratis di laman band mereka, album ini juga tersedia format bokset, yang di dalamnya berisikan “aneka cinderamata yang dapat kamu miliki sepaket atau eceran,” tulis mereka di website.

Dok foto: Instagram/@faridstevy

0 COMMENTS