Lorde

Lorde Segera Rilis Buku Dokumentasi Ekspedisi di Antartika

  • By:
  • Rabu, 16 December 2020
  • 675 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Sebagai seorang musisi, pola pikir kreatif merupakan hal utama yang harus terus dimiliki dan diutamakan oleh Lorde. Pasalnya, pola pikir kreatif yang aktif perlu selalu hadir untuk dapat melahirkan karya-karya yang berkualitas dan mampu dinikmati oleh para penikmat musik. Namun, ada kalanya istirahat sangat diperlukan demi menjaga kesehatan dan kualitas berpikir. Oleh karena itu, Lorde memilih untuk melakukan eksplorasi menuju benua Antartika di tahun 2019 silam.

Mengenai perjalanannya ke benua yang identik dengan keberadaan es dan udara dingin nan ekstrem, Lorde berkeinginan untuk merilis sebuah buku dokumentasi berisi 100 foto tentang perjalanan dan aktivitasnya saat melakukan eksplorasi di Antartika. Bahkan Lorde telah mempersiapkan judul untuk buku dokumentasinya tersebut, Going South. Buku dokumentasi perjalanan Lorde tersebut telah bisa dipesan dan akan segera dirilis pada bulan Februari 2021. Lorde juga menginformasikan bahwa setiap penjualan dari bukunya tersebut akan disumbangkan untuk pembiayaan program beasiswa pasca sarjana yang dikelola oleh Antarctica New Zealand. Selain itu, bagi 500 pemesan pertama akan mendapatkan tambahan kartu pos yang ditanda tangani oleh Lorde secara personal.

Lorde mengakui bahwa sejak masa kanak-kanak dan berhasil membaca untuk pertama kali, dirinya tertarik untuk mempelajari serta mengetahui lebih lanjut tentang benua Antartika. Maka dari itu, perjalanan yang Lorde lakukan di benua es tersebut dapat dianggap sebagai sebuah impian yang jadi kenyataan. Namun bukan soal impian yang jadi kenyataan saja, dalam beberapa tahun terakhir, Lorde mulai mengalihkan perhatiannya terhadap kondisi alam yang semakin memprihatinkan. Di masa itu, Lorde juga mulai memikirkan cara bagaimana untuk mulai mengubah kebiasaan yang dilakukan demi mengurangi dampak buruk yang berkelanjutan untuk alam, seperti jejak karbon yang dihasilkan dari perjalanan serta kebutuhan logistiknya sebagai seorang musisi internasional.

Perjalanan ke Antartika yang dilakukan oleh Lorde ini disponsori oleh yayasan penyelamat lingkungan di tempat dirinya berasal dengan fokus menjaga kestabilan dan kondisi alam di benua Antartika bernama Antarctica New Zealand. Kesepakatan antara Lorde dan pihak Antarctica New Zealand terjadi jauh sebelum dirinya mulai menggarap materi untuk album keduanya, Melodrama yang rilis pada tahun 2017 lalu.

Menurut Lorde, benua Antartika memiliki peran sebagai sebuah alat pembersih besar yang membantu keberlangsungan alam di seluruh dunia. Maka jika, seluruh manusia mulai mengabaikan kondisi alam di lingkungannya, maka tidak mungkin bahwa kerusakan alam akan membawa dampak buruk terhadap populasi manusia di kemudian hari. Sepulangnya dari benua Antartika, Lorde juga menulis sebuah esai yang dipublikasikan melalui majalah New Zealand Metro.

Dalam esai tersebut, Lorde mengungkapkan kekhawatirannya atas kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang mengundurkan diri dari kerja sama negara-negara lain untuk segera mengatasi permasalahan di Antartika melalui Paris Agreement. Melalui esai yang ditulisnya, Lorde melihat degradasi yang memprihatinkan terkait kondisi benua Antartika saat ini. Banyak sekali gunung es yang mulai meleleh dan secara perlahan mengalir ke laut di bagian selatan Antartika. 

Perjalanannya menuju Antartika pun tidak hanya memberi kebahagiaan pada diri Lorde, namun juga menghadirkan kekhawatiran lain bagi dirinya. Lorde mengakui sesaat memijakkan kakinya di benua es tersebut, rasa senang dan bahagia langsung muncul ke permukaan. Namun, selang beberapa hari, dirinya merasa bahwa keberadaannya bisa saja menjadi pemicu lain yang mengakibatkan kerusakan alam di Antartika di kemudian hari. Selain itu, Lorde juga menceritakan pengalamannya dalam mencoba untuk bertahan hidup selama lima hari di Antartika. Menurutnya, benua es tersebut tidak memiliki iklim yang ramah untuk dapat ditempati oleh manusia. Perjalanannya juga cukup membuka pandangan baru terhadap aspek spiritual dan psikologis dari diri Lorde. Musisi asal Selandia Baru yang memiliki nama lengkap Ella Marija Lani Yelich-O'Connor ini merasa selama melakukan ekspedisi di Antartika, dirinya semakin sadar betapa lemahnya dirinya sebagai manusia. Mencoba untuk bertahan hidup selama lima hari juga membuat dirinya tersadar bahwa di benua tersebut tidak ada satupun yang dapat menjaga dirinya selain diri sendiri.

Lorde juga mengakui bahwa perjalanannya ke Antartika menghadirkan ide kreatif baru untuk segera menulis materi demi produksi album barunya. Meskipun belum ada jadwal pasti kapan album baru Lorde akan dirilis, dirinya berjanji untuk segera memperkenalkan lagu-lagu baru di tahun 2021. Sebelumnya Lorde pun telah menyatakan bahwa dirinya akan segera merilis lagu baru dengan catatan jika seluruh masyarakat Selandia Baru dan para fansnya di negara asalnya tersebut ikut berkontribusi dalam mensukseskan pemilihan umum di bulan Oktober tahun 2020 lalu.

Lorde menyatakan kesediaannya untuk merilis lagu baru di tahun mendatang melalui akun Twitter resminya yang diunggah bertepatan dengan tanggal diadakannya pemilihan umum di Selandia Baru. Para penggemar Lorde yang juga bermukim di Selandia Baru merespon kegembiraannya dalam menanti karya baru dari Lorde. Bahkan mereka pun berspekulasi bahwa Lorde akan segera merilis album ketiganya di tahun 2021 mendatang. 


Berbicara mengenai karyanya, hingga saat ini Lorde baru memiliki dua buah album di dalam daftar diskografinya. Pertama adalah album Pure Heroine di tahun 2013 dan Melodrama yang dirilis pada tahun 2017. Sebelum merilis album perdananya, Lorde lebih dulu dikenal melalui kehadiran single Royals yang cukup populer hampir di seluruh belahan dunia. Single tersebut masuk jadi salah satu nomor untuk mini album yang dirilis Lorde pada tahun 2013 berjudul The Love Club.

0 COMMENTS