sun rai intervew love fest 2020

Los Angeles, Musik Jazz, Hingga Tur dengan Joe Satriani: Ngobrol dengan Sun Rai di Love Fest 2020

  • By: NND
  • Senin, 24 February 2020
  • 4518 Views
  • 4 Likes
  • 2 Shares

Salah satu aksi internasional yang paling dinanti-nantikan dalam gelaran Love Fest 2020 kemarin adalah Rai Thistlethwayte. Musisi multi-instrumental kelahiran Australia yang sekarang berdomisili di Los Angeles ini mungkin lebih dikenal melalui moniker proyek solonya, Sun Rai.

Mengawali kariernya sebagai personel grup pop rock asal Aussie, Thirsty Merc; sekarang ia maju sebaga sebuah aksi solo. Salah satu lagu paling profiliknya adalah track bertajuk "San Francisco Street," yang sempat heboh di jagad maya--melalui Spotify ataupun YouTube.

Selepas aksi panggungnya di hari pertama Love Fest 2020, SUPERMUSIC berkesempatan untuk menemuinya di belakang panggung, dan ngobrol santai dengannya, secara ekslusif! Simak wawancara lengkap kita, di bawah ini:

***

Halo Sun Rai! Jadi, bagaimana penerbangan ke Indonesia-nya?

Penerbangannya smooth, kok. Terima kasih sudah bertanya.

Katanya sering main ke Indonesia? Terakhir sempat buka masterclass di Bali?

Ya, benar! Saya pernah menghabiskan 8 malam di sana untuk menulis lagu, kerja di studio, lalu sempat juga main di Bandung untuk acara jazz. Itu sudah dua tahun lalu, kalau tidak salah. Bandung juga kota yang bagus!

Oke, lanjut. Anda bikin moniker Sun Rai setelah pindah ke Los Angeles. Jadi, seberapa besar pengaruh kota Los Angeles terhadap musik seorang Sun Rai--apakah faktor geografi berpengaruh dalam musik Sun Rai?

Iya betul, ia berpengaruh dalam konteks tertentu. Saya rasa ada banyak produksi musik yang memiliki embel-embel "the west coast sound," yang memang berasal dari tanjung barat di Amerika. Ada juga cuacanya (Los Angeles) yang memberikan pengaruh. Di sana, matahari seperti tidak pernah tidak bersinar. Pas juga, nama saya kan Rai, jadi kombinasi yang tepat!

Ohh, jadi nama Sun Rai sendiri mengambil inspirasi dari Los Angeles?

Ya! Sebagian karena namanya sendiri, sebagian karena kecintaan saya dengan musik jazz (Sun Ra), dan sebagian karena iklim Los Angeles!

Selain terdengar pop, musik Sun Rai juga memiliki tendensi jazz. Memangnya bagaimana sih kesan musik jazz di L.A.?

Pertanyaan yang bagus. Sebenarnya, kota L.A. sendiri tidak terlalu jazz ketimbang yang lain di Amerika; seperti New York atau New Orleans. Tapi, setiap session musician--mereka yang pernah main musik di dalam sebuah album, atau mereka yang mempelajari musik--kalau kamu jadi mereka, kamu pasti harus belajar musik blues, jazz, dan soul, motown. Nah, Los Angeles itu dipenuhi oleh orang-orang seperti ini, orang-orang yang kerja di studio, hingga yang mengiringi tur. Jadi menurut saya, masih banyak yang mengapresiasi musik Jazz di L.A.

Jadi L.A. seperti melting pot bagi musisi?

Tepat. Sangat, sangat melting pot! Tapi di lain sisi, saya rasa jazz sudah bisa diterima di semua kota di berbagai belahan dunia. Baik itu di Eropa, ataupun di Afrika, sekalipun. Indonesia juga termasuk. Kalian punya banyak skena jazz yang menarik di sini. festival-festivalnya juga demikian.

Dulu anda tergabung dalam sebuah band (Thirsty Merc), menurut anda pribadi, apa perbedaan dalam bermain solo sebagai Sun Rai dan ketika tergabung dalam sebuah band?

Perbedaan terbesarnya, dari sudut pandang pribadi saya, adalah fakta bahwa titik sentral dari Sun Rai itu berasa dari instrumen keyboard dan juga musik yang lebih bermain dengan improvisasi. Ia juga lebih meresapi groove. Feeling-nya yang beda.

Kalau dalam band, tentunya ia melibatkan lebih banyak orang, dan saya bermain gitar kalau nge-band bersama Thirsty Merc. Intinya, proses songwriting hadir dari 'tempat' yang sangat berbeda jika saya jadi Sun Rai atau saat bersama band saya. Saat saya menulis lagu dengan keyboard, terasa dan terdengarnya sangat bereda saat rampung.

Sudah empat tahun setelah Sun Rai merilis album debut. Apa berikutnya untuk Sun Rai? Album atau kolaborasi, mungkin? Sudah ada juga album kolaborasi, kan? (Escargot EP)

Untuk kolaborasi, saya terlibat dalam beberapa proyek, sepeti dengan Ben dan juga beberapa orang lainnya. Ada juga tribute untuk seorang musisi asal Amerika dan saya ikut menyumbang ke dalam album tribute itu.

Siapa musisinya?

Tarka. Albumnya bertajuk Tarka & Friends: Life. Album itu juga sempat menciptakan momentum yang cukup bagi Sun Rai. Tapi ya, mungkin di tahun 2020 ini saya akan sibuk bermain keyboard. Tahu gitaris Joe Satriani? Nah, saya akan bergabung dengan bandnya sebagai pemain keyboard dan ikut tur ke Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara.

Joe Satriani? Congratulations! Kapan turnya akan dimulai?

Thanks! Turnya dimulai pada tanggal 15 April 2020. Pertama kita akan berangkat ke Eropa, Jerman lebih tepatnya. Selagi tur, saya akan tetap tinggal di Los Angeles ketika tidak berpergian. Saya sudah berbicara denga manajer saya di sana, dan ya; saya memang ingin merilis materi-materi baru sebagai Sun Rai--ingin merilis materi-materi solo saya.

Jadi, akan ada album baru Sun Rai di tahun 2020?

Ya. Saya harap demikian. Kalau tidak 2020, ya 2021. Doakan saja! Hahahaha!

Baiklah, Rai. Terima kasih atas waktunya, Nikmati waktumu di Indonesia, ya!

Sama-sama, ya! Terima kasih juga sudah mengundang saya. Indonesia rocks!

 

***

Kalau obrolan singkat kita bersama dengan Sun Rai masih belum cukup, tenang! Kita juga punya sempet ngobrol dengan beberapa musisi lain (Sun Rai juga termasuk) tentang topik yang sejajar sama gelaran Love Fest 2020! Mulai dari tips PDKT di festival musik, love songs favorit mereka, dan masih banyak lagi! Tunggu artikel wawancara edisi Love Fest 2020 berikutnya, ya!

0 COMMENTS