Record Store Day 2019

Mari Rayakan Record Store Day 2019!

  • By: NND
  • Kamis, 11 April 2019
  • 398 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Di zaman yang serba digital ini, tentu rilisan fisik dalam kancah permusikan kerap dianggap sebagai sebuah produk masa lampau. Entah bicara tentang CD, kaset, dan vinyl, peminatnya tentu sudah tidak sebanyak dulu ketika mereka masih menjadi sebuah produk “baris depan” untuk dapat menikmati alunan musik favorit kita semua. Sekarang, mendengar musik sudah jauh lebih mudah, tinggal streaming—entah via YouTube atau kanal streaming musik pada umumnya—maupun mengunggah lagu-lagu tersebut maka kita sudah bisa langsung mendengarkannya tanpa perlu repot-repot belanja ke toko musik, beli alat untuk memasang rilisan fisik dan juga ganti-ganti trek yang ribet.

Namun, rilisan fisik itu merupakan barang yang harus kita jaga terus eksistensinya. Tidak masalah streaming atau beli online—asal jangan sampai kita kesampingkan apa yang dulu sempat menjadi pujangga bagi para pencinta musik. Lagipula, rilisan fisik itu memberikan kontribusi yang lebih besar untuk para musisinya, jadi kita jauh lebih membantu mereka ketimbang hanya streaming atau beli album secara online. Mengutip semboyan bapak proklamasi dan presiden pertama kita, “JAS MERAH”—jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Lepas dari segalanya itu, rilisan fisik juga memberikan sebuah kesan yang lebih mendalam kepada pemiliknya—entah dari segi sentimen, estetika, ataupun lainnya; dengan kata lain, memiliki rilisan fisik sebuah karya musik yang kita idamkan itu jauh lebih memuaskan ketimbang hanya memiliki versi digitalnya.

Berangkat dari fenomena tersebut, didirikanlah Record Store Day pada tahun 2007 silam, sebagai sebuah gerakan yang diprakarsai di luar negeri—tepatnya di Amerika dan sekitarnya, yang kemudian melepas perhelatan perdananya pada tahun 2008. Record Store Day merupakan sebuah kumpulan dari para lakon-lakon record store independen di seluruh dunia—entah itu para pemilik record shop, karyawannya, para pencinta musik serta musisi. Mereka memajukan sebuah hari untuk sesamanya, hari untuk berkumpul dan berbagi, serta merayakan sebuah rilisan fisik musik. Biasanya, Record Store Day gelar pada hari Sabtu minggu kedua di bulan April.

Sebagai sebuah hari perayaan yang dijalankan lintas negara, tentu acara ini merupakan sebuah ajang yang ditunggu-tunggu bagi para pencinta musik dan musisi. Banyak rilisan-rilisan baru yang dilepas pada hari ini, banyak perilisan ulang secara ekslusif, dan juga perayaan-perayaan panggung yang menghadirkan band-band dan musisi kenamaan atau yang baru-baru untuk tampil dan memeriahkan Record Store Day ini.

Pada bulan April ini, tentu Record Store Day kembali diadakan dan akan jatuh pada tanggal 13 April 2019. Secara resmi, ini merupakan perayaan Record Store Day yang ke-12. Di tanah kelahirannya, Pearl Jam—sebagai salah satu pilar dari genre grunge era 90-an—ditunjuk sebagai ambassador RSD tahun ini. Record Store Day bukanlah sebuah ajang perayaan jika tidak disertakan perilisan, maka tentunya akan banyak rilisan-rilisan menarik nantinya, seperti OST Bohemian Rhapsody oleh Brian May cs, rilisan materi live dari Pearl Jam sendiri—Live at Easy Street CD, rilisan materi kolaborasi sejumlah musisi keren yang diruangkum menjadi In The Garage: Live Music From WTF. Lihat lengkapnya melalui laman resmi RSD atau klik di sini.

Indonesia sendiri juga tidak melewatkan hari perayaan ini. Setelah beberapa kali menggarap perayaan Record Store Day, RSD Indonesia akan kembali dan memberikan pengalaman berbelanja rilisan fisik yang seru. Digelar pada 12-13 April 2019 di Kuningan City, RSD Indonesia akan menyajikan Record Store Day ke-8 di Indonesia yang dilengkapi dengan dua panggung untuk 38 musisi agar dapat menghibur para pengunjung. Sama seperti biasanya, RSD Indonesia juga akan menyajikan booth-booth dari sejumlah record shop lokal. Merujuk rilisan pers yang beredar, terdapat 72 record shop—dari daerah sekitar Jakarta, Bandung, dan beberapa daerah lain di pulau Jawa—yang  turut serta membuka lapaknya dan berkolaborasi bersama di RSD Indonesia 2019.

Kedua panggung yang dibuka oleh RSD Indonesia 2019 akan menyuguhkan nama-nama seperti Morfem, Agrikulture, Avhath, Saint Loco, Adrian Yunan, Lightcraft, Arc Yellow dan unit indie rock kawakan asal Jakarta—Zeke  and the Popo, yang kembali hadir ke radar kancah musik lokal dan turut serta merilis sebuah materi baru.

Tentunya pagelaran RSD ke-8 di Indonesia ini merupakan sebuah hari perayaan yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Sejumlah musisi di atas memperkuat keseruan acara dua hari ini, mampirlah untuk mendengarkan musik-musik mereka sembari berbelanja rilisan-rilisan apik yang nanti ditawarkan. Liat daftar lengkap lineup RSD Indonesia 2019 di bawah ini:

Lepas dari penampilan musik yang meriah, tentu perilisan materi masih menjadi daya tarik dari RSD Indonesia tiap tahunnya. Pada edisi yang ke-8 ini, akan ada 30 nama yang mengedepankan rilisan fisik dari materi baru mereka secara eksklusif. Berikut adalah beberapa contoh rilisan yang akan secara eksklusif dirilis di pagelaran RSD Indonesia 2019:

Dalam barisan indie rock, tentu ada Zeke and the Popo yang majukan materi baru mereka, sebuah materi yang sudah digoreng melalui akun Instagram mereka menggunakan tagar #zatppenguins. Penasaran? Ya, kami juga. Selain itu, ada juga Attracts yang akan merilis EP terbaru mereka, Asam Haram. Berisikan 4 trek, kalian bisa dengarkan materi-materi EP ini melalui laman Bandcamp mereka.

Feeze juga hadir dengan suguhan indie rock dengan aksen noise di dalamnya, mereka menapak masuk ke RSD dengan EP baru—Hedgehog’s Dilemma, yang juga menggandeng single terbaru mereka, “Weird”. Terahkir dari barisan indie rock adalah Zigi Zaga yang menyodorkan musik rock segar berbalut punk yang catchy dan seru, mereka akan meluncurkan album baru mereka, Psycho Mob.

Dari barisan punk, ada Topi Jerami yang suguhkan alunan musik pop punk/skate punk yang segar melalui album terbarbu mereka, Get In. Ikut menguatkan barisan, ada Painkiller, unit crossover punk dan thrash dari tanah Padang, yang hadir dengan album terbaru mereka, Seek The Truth.

Dari sudut post rock, ada band Primata yang juga turut campurkan alunan post-metal ke dalam musik instrumentalnya. Digarap dengan Kedubes Records, mereka jebolkan rilisan Studio Live Session mereka. Selain itu, gemuruh musik A Curious Voynich juga dapat kalian dengarkan melalui Orbis Alius: Season One, dua materi baru yang digabung menjadi satu kesatuan dan dirilis via Hujan! Rekords. Di dalamnya, kalian bisa dengar musik post-hardcore yang dipadu dengan sound indie rock, alt-metal, dan sedikit sentuhan punk.

Kelompok pop diisi oleh rilisan dari Later Just Find yang suguhkan materi barunya via Bandtemenloe Records bertajuk Sebelah Mata, yang dikemas dalam format kaset. Ada juga Avanada dengan Fall, sebuah album bertabiskan sentuhan alternative yang dirilis via Negaraya Records.

Juga turut merilis materi, Rubah Di Selatan dengan cakram padat album terbaru mereka, Anthera, via Navasvara. Hadir dengan balutan folk, Anthera tentu akan menyejukkan hari-hari kalian. Itulah beberapa musisi yang akan melepas rilisan ekslusif mereka nantinya di RSD Indonesia 2019.

Selain kemeriahan-kemeriahan tersebut, di ajang Record Store Day Indonesia 2019 ini juga akan digelar penggalangan dana untuk Lian Jalsur. Lian yang bernama lengkap Lian Nasution adalah salah satu pemilik Lian Records, toko/kios piringan hitam di Jalan Surabaya yang namanya harum di kalangan kolektor vinyl dan rilisan fisik selama bertahun-tahun. Upaya-upaya seperti ini merupakan sebuah bukti nyata atas eratnya komunitas pencinta rilisan fisik yang terjalin—menitikberatkan tujuan dan alasan atas dimeriahkannya Record Store Day setiap tahunnya.

Ya, seaslinya Record Store Day adalah sebuah hari untuk terus melestarikan rilisan fisik dan berbagi melalui medium yang sama-sama dicintai, yaitu rilisan fisik itu sendiri. Mentalitas “komunitas” perlu dijaga agar laju kembang rilisan fisik, beserta komunitas-komunitas yang bergerak di sekitarnya bisa terus eksis dan kuat dalam melawan waktu dan perkembangan zaman yang kian mengikis relevansinya.

Maka perlu diingat, tergabung ke dalam rangkaian RSD ke-8  Indonesia atau tidak, 13 April besok sudah menjadi momentum yang mantap untuk merilis materi baru, belanja vinyl, CD, atau kaset dan sebagainya. Intinya, Record Store Day merupakan sebuah perayaan yang harus diangkat agar rilisan fisik itu tetap relevan—dimana para pendengar, musisi, dan pengusaha record shop serta pegawainya bisa bersatu karena musik dan rilisan fisik.

Merujuk pada paragraf awal tulisan ini, rilisan fisik itu memberikan kepuasan lebih—oleh sebabnya, pemberadaan sebuah hari untuk terus melestarikan konsep rilisan fisik dianggap perlu. Selain untuk pelestarian, Record Store Day dapat menjadi sebuah “obat” untuk menyembuhkan mentalitas “memudahkan” sebuah rilisan yang kerap muncul di zaman serba digital dewasa ini. Salah satu fenomena yang muncul dari kemudahan memperoleh rilisan musik dengan perantara digital tidak jarang menumbuhkan rasa apresiasi yang tidak maksimal—bahkan terkadang minim—dalam menyikapi perilisan tersebut. Meski tanggapan atas sebuah karya itu subyektif, namun skala apresiasi secara umum dapat dinyatakan berkurang semenjak kita dimudahkan oleh digitalisasi.

Dengan adanya RSD, maka budaya positif yang lebih apresiatif terhadap sebuah rilisan karena bentuknya yang “ada” secara fisik bisa terus ada sampai seterusnya, terjaga oleh sebuah momentum annual yang ketikanya hadir dapat kembali memberi nafas segar untuk budaya positif tersebut dalam kancah permusikan secara global, dan kita butuh itu.

Akankah kalian turut serta merayakan Record Store Day? Sudah siapkan tabungan kalian untuk belanja? Percayalah, Record Store Day merupakan waktu yang tepat untuk memborong vinyl atau kaset yang sudah lama kalian incar—siapa tahu saja sedang diskon! Ayo, tetap lestarikan rilisan fisik dalam kancah permusikan, dan ikut rayakan RSD di kota kalian.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
223 views
superbuzz
218 views
superbuzz
317 views
superbuzz
379 views