MENGENAL MARJINAL: Melebur Bersama Dalam Punk

  • By: JP
  • Rabu, 5 October 2016
  • 13241 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Dari namanya saja kita sudah bisa menduga, kalau band Punk yang terbentuk sejak 1997 ini mengusung topik masyarakat menengah ke bawah, masyarakat marjinal yang tersisihkan. Awalnya sering menggunakan berbagai nama seperti AA (Anti ABRI) dan AM (Anti Millitary), formasi band ini berisikan Romi Jahat (vokalis), Mike (gitar), Bob (bass) dan Steven (drum). Hingga akhirnya di tahun 2001, nama Marjinal digunakan – yang terinspirasi oleh aktivis buruh perempuan Marsinah - dengan Mike mengisi posisi vokal dan Bobby memegang bas, keduanya juga memegang gitar dan perkusi.

Erat dengan komunitas Taring Babi yang bermarkas di kawasan pinggiran Selatan Jakarta, Jagakarsa, sosok Marjinal yang dipenuhi tato di sekujur tubuh, tindik dan rambut Mohawk membuat sebagian pihak menyangsikan itikad mereka. Namun sebaliknya, aksi komunitas yang mengedepankan kreativitas lewat cukil kayu, baliho dan lukisan yang menggugah kesadaran generasi muda serta pemberdayaan diri, membuat mereka dilirik banyak pihak.

Pekat akan filosofi Do It Yourself, Marjinal melihat band Punk ikonis seperti Sex Pistols, Bob Marley, Leo Kristi, The Clash, dan Ramones sebagai kiblat bermusik mereka. Hingga kini Marjinal telah menelurkan enam album, dengan album pertama (1999) bertajuk Tunduk Diam Atau Bangkit Melawan, dilanjutkan dengan Antifasis dan Antirasis Action setahun kemudian, lalu Marsinah (2003), Predator (2005) parTAI marJINal (2009), dan KPK (Kita Perangi Korupsi) di tahun 2015 lalu. Selain itu, mereka juga sempat menggarap lagu-lagu untuk soundtrack film Punk in Love (2009) disutradarai Ody C. Harahap dan dibintangi Vino G. Bastian.

Dengan lagu-lagu berlirik kritikan pedas ke situasi politik di tanah air, tak jarang track 'Hukum Rimba', 'Rencong Marencong' ‘Negri Ngeri’ dan 'D3' (Disunat Dipotong Dicincang) membuat gerah telinga sebagian pihak. Namun pendirian teguh mereka membuat kiprah Marjinal malah semakin bergaung di telinga para pendengar dari berbagai belahan dunia. Uniknya, bahkan band folk punk asal Jepang – Ballad Shot – mendaur-ulang lagu Rencong Marencong ke dalam Bahasa Jepang.

Ketegasan sikap DIY ini juga tergambar lewat langkah mereka dalam mencari pemasukan, lewat pertunjukan musik, menjual kerajinan tangan, poster, membuat tato, hingga membuat gelang dari sisa bungkus makanan. Namun kerasnya kehidupan mereka tidak menutup langkah untuk membantu masyarakat kecil yang sering tersisihkan, salah satunya dengan membantu pemberdayaan petani kopi yang tercekik dengan harga jual yang tak sepadan. Geliat serta keteguhan mereka aksi mereka seperti melihat lirik-lirik mereka menjadi nyata tindakan. Percaya setiap orang memiliki sisi Punk di dalam diri mereka masing-masing, Marjinal mungkin tidak akan berhenti untuk berani meneriakkan kegelisahan yang dirasakan masyarakat.

 

1 COMMENTS
  • DJIBRILSILVER925

    Saya punya idea yang berawal dari pengalaman hidup dan kenyataan yang terinspirasi dari temperatur pengetahuan serta realita sosial dalam sebuah birokrasi,bukan mencipta hanya meng custom genre yang saya namai ROMANTIC DISTORTION ,,lebih kepada kisah romantis yang tertekan oleh distorsi peradabaan dan mind set sosial yang berdampak ,,

Info Terkait

superbuzz
4230 views
superbuzz
4705 views
superbuzz
3794 views
superbuzz
3978 views
superbuzz
5518 views