Portal Music

Koil

Memantau Sepak Terjang Koil di Industri Musik Indonesia

  • By:
  • Sabtu, 31 October 2020
  • 1157 Views
  • 2 Likes
  • 2 Shares

Era 1990-an merupakan waktu yang cukup menggembirakan di dunia musik Tanah Air. Pada zaman itu, baik musisi atau grup band berkualitas mulai sering bermunculan meramaikan industri musik Indonesia dari segala jenis genre. Genre rock di Indonesia pada masa itu memang sedang ramai digandrungi. Maka tidak aneh jika banyak band rock Indonesia baru bermunculan kala itu, salah satunya adalah Koil.

Koil didirikan di Bandung dan mulai aktif bermusik pada tahun 1993. Sejak awal berdiri, Koil memiliki citra sebagai sebuah band profesional meskipun masih seumur jagung. Profesionalitas tersebut terlihat dari sikap para anggota Koil yang memilih untuk memainkan lagu ciptaan sendiri saat mereka tampil di atas panggung. Memiliki amunisi berupa lagu orisinil yang cukup, band yang didirikan oleh J.A. Verdijantoro atau yang lebih dikenal dengan sebutan Otong (vokal/gitar), Donnijantoro (gitar), Ibrahim Nasution (gitar/bass), dan Leon Ray Legoh (drum) ini memutuskan untuk merilis album demo berjudul From Nowhere di tahun 1996. 

Album demo yang dirilis Koil secara mandiri tersebut terdengar sampai ke telinga seorang Budi Santoso. Budi merupakan seorang produser dari perusahaan rekaman Project Q. Label rekaman tersebut merupakan label yang sempat menaungi album pertama hingga ketiga untuk Slank Budi yang tertarik dengan materi yang ditawarkan oleh Koil akhirnya memutuskan untuk mengontrak band tersebut dengan jumlah kontrak 2 buah album. Masih di tahun yang sama berbekal materi-materi pilihan dari album demo tersebut, Koil pun merilis album penuh perdananya dengan tambahan beberapa lagu baru. 

Album perdananya tersebut berhasil mendapatkan respon positif bagi penikmat musik rock Tanah Air. Respon tersebut lahir karena Koil menawarkan hembusan nafas baru bagi skena tersebut dengan aransemen musik dan lirik-liriknya. Alhasil, nama Koil mulai terdengar tidak hanya seantero Bandung, namun juga mulai merambah skena rock nasional yang terwakili di Jakarta kala itu. Kepopuleran nama Koil membuat band ini sering tampil dari panggung ke panggung. Bersamaan dengan hal tersebut, Koil juga merombak konsep visual dari tata panggung mereka. Koil mencoba tampil dengan kostum ala goth berwarna hitam yang terbuat dari kulit dan juga sepatu boots tinggi. Selain itu, tidak jarang juga Koil menghadirkan penari latar sebagai salah satu elemen aksi panggungnya. Tata visual dan aksi panggung yang unik ini semakin menancapkan nama Koil di industri musik Indonesia yang ditandai juga dengan pertambahan penggemarnya. 

Sedangkan untuk karya terbarunya, Koil masih belum merilis album keduanya tapi mereka memilih untuk merilis lagu dalam bentuk single, seperti Dengekeun Aing di tahun 1997, Kesepian Ini Abadi di tahun 1999, serta Dosa yang diambil dari album kompilasi Ticket to Ride di tahun 2000. Sejak tahun 1997, Koil merilis lagu-lagunya di bawah label Apocalypse. Label rekaman tersebut didirikan oleh Otong bersama Adam yang kini mengisi posisi bass di dalam tubuh Koil yang baru resmi bergabung pada tahun 2007. Apocalypse lahir karena ketika krisis moneter melanda Indonesia, Project Q tidak dapat melanjutkan kerja sama untuk merilis album kedua Koil

Masuk ke tahun 2001, album kedua Koil yang sudah ditunggu-tunggu oleh penggemarnya pun akhirnya rilis. Album berjudul Megaloblast ini berisi 9 buah lagu dan berhasil secara sukses didengungkan berkat single utamanya yang berjudul Mendekati Surga. Album kedua Koil yang berisi 10 lagu ini memiliki cerita proses distribusi yang menarik. Demi meminimalisasi biaya distribusi untuk record label barunya tersebut, Koil hanya melakukan distribusi ke distro-distro underground untuk kawasan Bandung dan Jakarta. Di luar itu, penggemar bisa langsung memesan dengan opsi pengiriman melalui pos. Meskipun terbilang unik, nyatanya album kedua Koil ini berhasil terjual mencapai 15 ribu keping. Sebagai bagian dari promosi, Koil juga membuat video klip untuk single Mendekati Surga dan mengirimnya langsung ke MTV Indonesia. Kala itu, MTV Indonesia masih jarang untuk menayangkan video klip band-band independen dan Koil berhasil menembus batas tersebut. 

Potensi album Megaloblast yang besar akhirnya menarik perhatian salah satu record label independen di Jakarta untuk merilis ulang kembali album tersebut. Bersama Alfa Records, Koil kembali merilis album Megaloblast dengan dua lagu remix tambahan dari 10 lagu sebelumnya dengan total mencapai 12 lagu. Koil juga memilih untuk mengubah cover albumnya menjadi warna hitam, sehingga album keluaran Alfa Records ini lebih dikenal dengan nama album Megaloblack. Distribusi album Megaloblast terbaru ini mencapai jangkauan yang lebih luas. Hal tersebut memengaruhi popularitas Koil yang berhasil untuk menjadi pengisi acara di festival-festival musik di Indonesia. 

Melanjutkan jejak album Megaloblast, di tahun 2007 Koil akhirnya merilis album ketiganya yang berjudul Blacklight Shines On. Rentang waktu yang jauh antara album ketiga dan album keduanya tersebut terjadi karena adanya permasalahan di dalam tubuh Koil. Salah satunya adalah kondisi Otong yang sempat jatuh sakit. Ketika semua keadaan mulai membaik akhirnya Koil pun baru serius menyelesaikan proyek album ketiganya yang berisikan 10 lagu. Distribusi dan promosi jadi senjata utama Koil dalam memperkenalkan karya terbarunya yang cukup lama ditinggalkan tersebut. Selain melakukan distribusi secara konvensional, yakni dalam bentuk CD dan kaset, Koil juga menggandeng Deathrockstar sebagai salah satu blogger musik ternama kala itu untuk merilis albumnya dalam format digital secara gratis.Tiga tahun setelahnya, perusahaan rekaman major asal Indonesia, Nagaswara, tertarik untuk merilis ulang album Blacklight Shines On. Kerja sama tersebut membuat album tersebut akhirnya dapat tersedia di toko kaset dan CD di seluruh Indonesia.

Kini di tahun 2020, Koil menyatakan bahwa mereka sedang menyiapkan album terbarunya. Proses pengerjaannya album terbaru ini sempat mengalami kendala, seperti hilangnya master dan file rekaman secara mistis. Kejadian tersebut tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja. Selain itu, Otong dan anggota personil Koil lainnya juga aktif di dalam dunia bisnis kuliner dan distro sembari tetap eksis di dunia internet.

0 COMMENTS