Mendengar Sejarah Indonesia Lewat Musik

  • By: NTP
  • Rabu, 16 August 2017
  • 6802 Views
  • 2 Likes
  • 2 Shares

Sepanjang 72 tahun umur Republik Indonesia, musik kerap mengiringi perkembangannya. Di masa-masa sulit, stabil maupun melonjak, musik Indonesia juga turut berkembang bersama komponen masyarakat sipil lainnya.

Mengintip sejarah Indonesia lewat musik bukanlah perkara mudah. Dokumentasi yang buruk berakibat pada ahistorisme dan gagap sejarah kebudayaan populer. Sementara musik tradisional diselamatkan oleh negara dan peneliti, artefak musik populer justru seakan absen dari sejarah budaya populer Indonesia.

[bacajuga]

Padahal, musik sudah mengiringi Indonesia sejak Perang Kemerdekaan. Melalui musik kita bisa membayangkan kondisi Indonesia di berbagai periode dan dekade. Sebagian kecil gambaran akan naik turunnya kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya Indonesia, bisa dilihat dari perkembangan musik tanah air.

Dimulai pada dekade 50-an, ini adalah masa di mana musik populer di Indonesia mulai tumbuh, perlahan menggantikan musik tradisional seperti keroncong, gambus dan musik seperti klasik, juga orkestra.

Medium utama musik di era ini adalah siaran Radio Republik Indonesia, dan radio internasional lain seperti BBC, ABC, atau VOA. Menjamurnya akses radio memudahkan masyarakat Indonesia mengenal musik populer seperti Frank Sinatra, Bing Crosby dan Perry Como.

Di tengah semangat kebangsaan dan nasionalisme yang tengah menggebu, penulis lagu dan penyanyi pun membawakan lagu berbahasa Indonesia. Format musik populer khas Indonesia pun mulai terbentuk. RRI sebagai radio milik negara pun gencar membangun kesadaran berbudaya lewat lagu-lagu yang kerap mereka siarkan.

Simak saja lagu-lagu pop Indonesia era 50-an yang kini tersebar di internet, penyanyi seperti Oslan Husein, Bing Slamet, Titiek Puspa, Tuty Ahem dan Sam Saimun membawakan pop khas Indonesia. Diiringi dengan instrumen Barat (Eropa dan Amerika Utara), mereka membawakan nomor-nomor klasik berbahasa Indonesia yang berbicara tentang hal-hal khas Indonesia.

Program penting lain dari RRI adalah Bintang Radio, sayembara musik yang mendorong penciptaan komposisi dan lagu-lagu baru di tingkat kabupaten-kota, provinsi dan ibu kota. Studio rekaman milik negara dan umum mulai bermunculan di era ini, seperti Lokananta di Solo atau Irama serta Musika di Jakarta.

Cetak biru musik populer Indonesia yang muncul di era ini menjadi penting karena bibitnya tumbuh pesat hingga sekarang. Penyanyi Indonesia yang menyanyikan lagu berbahasa Indonesia (walau beberapa menyanyikan lagu berbahasa Inggris) menjadi bentuk musik populer dominan di dekade berikutnya.

Pasalnya format musik populer lain seperti rock, akan mengalami masa stagnan karena dilarang oleh Manifesto Politik/Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia (Manipol Usdek) di tahun 1959. Manifesto ini akhirnya dijadikan Garis Besar Haluan Negara oleh MPRS.

"Engkau yang tentunya anti-imperialisme ekonomi. Engkau yang menentang imperialisme politik, kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialisme kebudayaan? Kenapa di kalangan engkau banyak yang masih rock and roll-rock and roll-an, dansa-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan dan lain-lain sebagainya lagi?," jelas Sukarno pada 17 Agustus 1959.

Dekade 60-an dimulai dengan pelarangan segala bentuk budaya dan musik yang dianggap kebarat-baratan. Di tengah situasi politik yang kian mencekam, bakat-bakat baru muncul dan bergaung lebih keras dibanding para pendahulunya. Di saat yang sama, industri rekaman Indonesia mulai tumbuh lewat label rekaman Remaco, Musika, Irama, dan Dimita.

Penyanyi pop yang muncul di era 60-an masih meneruskan format pop Indonesia pada dekade sebelumnya. Nama-nama abadi di sejarah musik populer Indonesia seperti Broery Pesolima, Eddy Silitonga, Benyamin Sueb, Rhoma Irama, Ernie Djohan, Tetty Kadi, Lilies Suryani, Ida Royani dan Hetty Koes Endang muncul di dekade ini.

Sementara beberapa musisi dan band mulai memainkan rock n’ roll walaupun tidak terang-terangan dan harus pintar-pintar memainkan komposisi agar tidak dinilai kebarat-baratan. Koes Bersaudara (kelak jadi Koes Plus), The Mercys, Grup Empat Nada, D’Lloyd, Panbers, Bimbo, The Rollies dan AKA adalah segelintir band berpengaruh yang muncul di era ini. Keluar dari format pop Indonesia, mereka memainkan musik rock dan menyanyikan lagu cover berbahasa Inggris.

Pada pertengahan akhir dekade ini, puncak ketegangan dan konflik politik meledak di tahun 1965. Koes Bersaudara ditangkap saat tampil pada 29 Agustus dengan dasar Penetapan Presiden PP No. 11/1963, mereka baru dibebaskan dua bulan kemudian. Saat dibebaskan dari penjara, Koes Bersaudara masuk studio rekaman dan merilis album To The So Called the Guilties pada tahun 1976. Album ini adalah karya Koes Bersaudara yang paling keras, baik segi lirik atau musik, melancarkan kritik pada pemerintah Orde Lama lewat rock n’ roll.

Beberapa band legendaris Indonesia seperti AKA, Dara Puspita dan The Rollies juga dibentuk pada tahun 1967. Mereka turut meramaikan kancah rock tanah air yang mencapai masa keemasan pada dekade 70-an. Pada dekade ini, musik rock Indonesia mengalami perkembangan pesat lantaran ‘disuburkan’ kondisi ekonomi, sosial dan politik. Kemudahan mengakses instrumen musik dan larisnya panggung (walau keduanya dikuasai cukong), turut mengembangkan belantika rock Indonesia.

Mudahnya akses terhadap instrumen dan rekaman musik pada dekade 70-an tur memantik pertumbuhan band-band rock di berbagai kota, seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Semarang dan Malang. Pertumbuhan ini juga diiringi kondisi sosial, ekonomi dan politik yang tidak stabil, maka musik rock menjadi ‘pengiring’ demonstrasi gerakan mahasiswa.

Pada periode ini, tak hanya album rock n’ roll yang dirilis band-band Indonesia, rock rasa funk, jazz-funk bertemu rock atau progressive rock mulai mewarnai kancah rock Indonesia. Album dari Panbers, Shark Move, Giant Step, AKA, Ariesta Birawa Group, Trenchem, The Gang of Harry Roesli, Duo Kribo dan Black Brothers adalah sedikit dari band-band jempolan yang meramaikan panggung-panggung musik di saat itu. Bahkan raksasa rock Indonesia, God Bless, pun baru dibentuk dan belum merilis album.

Pada dekade inilah musik rock Indonesia mulai dikenal dan memantapkan cengkraman di industri musik Indonesia. Akses pada pendengar yang terbilang lebih luas juga dimanfaatkan dengan baik oleh band-band tersebut. The Gang of Harry dan Shark Move melempar kritik keras terhadap pemerintahan, Black Brothers mengangkat musik dan kebudayaan Papua, sementara AKA menampilkan aksi gila di tiap panggung mereka.

Perubahan signifikan lain dekade 70-an adalah banyaknya band dan grup perempuan yang meramaikan belantika rock Indonesia. Perkembangan ini dipicu Dara Puspita, yang sudah aktif sejak 60-an, dan Sylvia Saartje penyanyi yang memainkan hard rock ala Britania Raya. Kancah rock Indonesia pun tak lagi didominasi laki-laki saja, sekaligus memicu fenomena ‘lady rocker’ pada dekade 80-an.

Efek dari aksi-aksi tersebut adalah reaksi keras dari masyarakat, yang menganggap musik rock bertentangan dengan budaya Indonesia. Dampak lain adalah populernya lagu berlirik protes yang kelamaan identik dengan musik rock di Indonesia, walau dalam bahasa Inggris. Hingga kini, lirik-lirik rock dan turunannya (metal, punk dll) kerap menyisipkan kritik sosial sebagai pesan utama.

Tradisi musik kritis ini diteruskan oleh musisi folk dan rock di akhir dekade 70-an. Harry Roesli, Leo Kristi, Gombloh, Mogi Darusman dan Iwan Fals menjadi punggawa lagu-lagu protes dalam menghadapi represi pemerintah Orde Baru pada segala bentuk gerakan sosial. Mereka disatukan keinginan untuk mempertanyakan realita sosial, walau menempuh rute yang berbeda untuk menyampaikan pesan masing-masing.

Lirik lantang dan terus terang digunakan Iwan Fals dan Mogi Darusman, metafor jenaka dinyanyikan Harry Roesli dan Gombloh, sementara Leo Kristi mengisahkan lagunya bak pengamat. Masalah sosial yang muncul di masa ini, seperti korupsi dan watak otoriter dibongkar melalui musik. Lewat cara khas merekalah masyarakat Indonesia mengenal musik sebagai gelanggang budaya yang memicu perubahan sosial.

Pada dekade 80-an, band-band rock menguatkan musik mereka hingga menyentuh sound hard rock dan heavy metal. Perubahan ini terdengar di album Semut Hitam (1988) milik God Bless dan SWAMI I (1989) milik supergroup yang dihuni Iwan Fals dan Sawung Jabo, Swami.

God Bless perlahan meninggalkan sound progressive serta arena rock di album God Bless (1975) dan Cermin (1980). Tema-tema lirik yang dinyanyikan God Bless pun berbicara tentang kondisi sosial, seperti kerasnya persaingan dan individualisme masyarakat urban. Sementara Swami menyanyikan kritik lugas yang diiringi progressive rock dan instrumentasi kelas wahid.

Band-band hard rock dan heavy metal yang muncul di era ini memainkan sound yang lebih keras dan berbicara mengenai realita di sekitar mereka. Band seperti Elpamas, Grass Rock, Power Metal, Boomerang dan Edane menjadi nama-nama yang mewakili musik rock Indonesia di akhir 80-an.  Nomor-nomor yang mereka bawakan sarat dengan kritik dan realita sosial, walau dengan cara yang berbeda. Elpamas cenderung tanpa basa-basi, Power Metal mengumandangkan pesan positif dan Grass Rock menceritakan kisah-kisah jalanan.

Di sisi lain, para penyanyi rock perempuan memuncaki berbagai tangga lagu tanah air. Berbekal sound rock, sensibilitas pop dan rentang vokal tinggi, popularitas solois seperti Anggun Cipta Sasmi, Nike Ardilla, Mel Shandy dan Nicky Astria tak tertandingi oleh band rock manapun. Mereka berhasil mempopulerkan rock sebagai musik populer Indonesia, menggeser pop yang kala itu terpengaruh sound new wave dan kerap membawakan lagu cover berbahasa Inggris.

Bersambung ke halaman 2..

[pagebreak]

Pengaruh akses akan hiburan mancanegara, terutama dari Amerika Utara, menjadi faktor penting perkembangan musik populer Indonesia di dekade 90-an. Belantika musik begitu hidup di masa ini, gerilya musisi dan label independen pun perlahan meruntuhkan dominasi total major label pada mata rantai industri. Baik musik arus utama maupun arus pinggir sama-sama menghasilkan album-album berpengaruh dan berkualitas.

Industri musik dan label rekaman besar Indonesia kala itu sangat selektif merilis album. Segelintir nama besar di kancah rock Indonesia, seperti Dewa 19, Slank, GIGI, Iwan Fals/Kantata Takwa, Netral dan Roxx bersaing dengan grup dan musisi pop seperti KLa Project, AB Three, Potret, The Groove, Reza, dan Kahitna.

Persaingan tersebut menghasilkan beberapa album monumental, seperti Terbaik-Terbaik (Dewa 19), Suit Suit He He, Kampungan dan Tujuh (Slank), Dunia (GIGI), Walah (Netral), Kantata Takwa dan Roxx. Beberapa album berpengaruh lain yang dirilis oleh label major pada dekade ini adalah Anak Pantai (Imanez), Insting Psiko & Harmony (Plastik), 17th Ke Atas (The Flowers), Behind the 8th Ball (Rotor) dan The Beast (Edane)

Walau terdengar berbeda satu sama lain, album-album tersebut didominasi tema kehidupan anak muda, kadang blak-blakan, seringkali puitis dan introspektif. Variasi tema lirik dan rentang musik yang lebih luas lagi justru hadir dari kancah musik independen. Dari pemberontakan, ekspresi diri, kritik sosial hingga cinta yang dipandang dari sisi lain, semuanya dibicarakan band-band independen kala itu.

Berkat pengaruh akses informasi yang dilonggarkan dan penayangan MTV di salah satu stasiun televisi swasta, musik alternatif menjadi salah satu medium musik terpopuler saat itu. Berbagai genre dan sound yang sebelumnya tak dikenal di Indonesia mulai dimainkan di panggung dan pentas seni kampus. Beberapa sound dan genre yang populer pada era ini adalah extreme metal (death, thrash, black), punk/hardcore, britpop dan rock, indie pop, shoegaze, industrial, dan ska.

Di era inilah berbagai infrastruktur kancah independen di beberapa kota mulai terbentuk. Para musisi dan band independen bersama-sama merilis album secara independen, lepas dari label besar. Keleluasaan dalam berkarya, baik segi musik maupun lirik, menjadi keunggulan kancah musik independen pada saat itu.

Dipantik oleh album Four Through the SAP (1994) milik PAS Band, berbagai band independen pun mulai merilis album lewat label independen. Album-album tersebut menjadi pencapaian penting kancah musik independen Indonesia, pengaruh mereka terasa hingga hari ini, baik dari segi sound, tema lirik atau model distribusinya. Beberapa album tersebut antara lain adalah Pure Saturday, In (No) Sensation – Four Through the SAP (PAS Band), MK II (Puppen), kompilasi Masaindahbangetsekalipisan, Buaya Ska (Waiting Room), dan Waktu Hijau Dulu (Cherry Bombshell).

Semangat kemandirian kancah independen di era 90-an terus berlanjut di millenium baru. Di sisi lain, industri musik dan major label justru mempopulerkan pop rock dan pop melayu. Distribusi label major pun tidak lagi mengandalkan toko musik dan format album. Alih-alih mereka mengandalkan single, Ring Back Tone dan penampilan di acara musik pagi televisi menjadi prioritas utama. Band-band tersebut menguasai layar kaca, mengisi lagu tema berlirik cinta di berbagai film televisi dan sinetron. Di era ini, album Bintang di Surga (2004) milik Peterpan dan Sheila On 7 (1999) dari Duta cs melambungkan nama mereka sebagai band pop arus utama yang paling terkenal.

Walau demikian, tak semua rilisan label major membebek pada tren pop rock dan pop melayu. Beberapa band tetap merilis karya segar dan variatif, pula mendapat ekspos yang lebih luas ketimbang band dan label independen. Kekhasan tema lirik dan sound variatif dari tiap band bertemu nuansa yang mudah dinikmati para pendengar musik tanah air. Beberapa album rilisan label major itu adalah Kuta Rock City (Superman is Dead), Rasa Baru (Cokelat), Kembali Berdansa (Shaggydog), Save My Soul dan Sesuatu yang Tertunda (Padi), Bintang Lima (Dewa) dan 1st (Maliq & D’Essentials).

Pada masa ini kancah independen dan musik arus pinggir Indonesia justru semakin berkembang, menguat sebagai alternatif utama musik arus utama yang semakin homogen. Album dan label independen di periode ini sangat variatif, dari genre hingga tema lirik dan pola distribusi.

Tema lirik band-band independen meluas dari kritik sosial dan gaya hidup anak muda, beberapa yang kerap muncul nostalgia dan visi ideal tentang Indonesia di era sebelumnya. Sedangkan sound punk dan metal yang telah lama terpendam di bawah tanah, menyeruak sebagai salah satu kancah dengan basis komunitas terkuat. Distribusi label independen juga tidak terbatas pada satu tempat, melainkan membangun jaringan antar titik distribusi serta komunitas.

Pada era ini, kancah independen terlihat lebih maju dan inovatif ketimbang label rekaman besar. Buktinya adalah variasi sound yang muncul dari kancah ini terdengar lebih segar. Album-album seperti My Diary (Mocca), Visible Idea of Perfection (The SIGIT), Centralismo (Sore), V2.05 (The Adams), The Brandals, Matraman (The Upstairs), Skenario Masa Muda (White Shoes & The Couples Company), kompilasi JKT:SKRG, Efek Rumah Kaca, Serigala Milita (Seringai) dan Beyond Coma and Despair (Burgerkill), menjadi rilisan berkualitas yang dicari oleh para penggemar musik Indonesia. Hingga kini, pengaruh album-album tersebut sangatlah besar dalam membentuk cita rasa, rujukan dan sound perkembangan belantika musik tanah air, sekaligus menjadi fondasi perkembangan musik di dekade selanjutnya.

 

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
274 views
supergears
640 views
superbuzz
188 views